Cutting Veins, Pt. 2

Cutting Veins, Pt. 1: https://unbrewedcoffee.wordpress.com/2015/07/29/cutting-veins-pt-1/

.

.

Sepulang sekolah, aku menelepon Earl. Alih-alih, ponselnya ditangguh ke nada tunggu. Berharap gegas bertemu, aku harus memberitahunya mengenai pengintaian malam itu. Kami berada dalam bahaya.

Berganti ke nomor cadangan Rex. Ia tak mengangkatnya.

Memainkan jemari, aku menggigit bibir, menutup ponsel, dan memutuskan mengambil langkah besar lewat gang belakang Leith Academy.

Citadel selalu punya penghuni, Chip biasanya yang paling kerasan tidur tidak memakai celana. Namun, kala itu Rex yang pertama kali kutemui, tengah buang kencing di foyer yang lebih mirip puing tsunami.

“Maaf untuk rencana membolos tadi siang. Aku terpaksa masuk kelas Mrs. Jones,” ujarku. Aku tak langsung masuk. Sejurus melongok, aku harus bertemu Earl.

Rex mendengus. “Kami sudah membongkar mobilnya tanpa dirimu. Ada pistol Luger di dalam sana.”

Luger.

Langkahku terhenti. Aku berusaha mengatur napas yang nyaris membabi-buta. Memikirkan malam yang tak mau raib dari benakku.

Rex merangsek masuk; aku mengejarnya. Dua langkah dari ventilasi masuk. Earl sudah berdandan bak Iggy Pop. Ia menanggalkan kemejanya, menyisakan korduroi biru. Mereka baru saja menggeledah Chevrolet milik Enzo, mobil yang menjadi proyek abadinya selama puluhan minggu. Chip mempreteli satu per satu ban depan, membongkar kompertemen dasbor. Dan Earl sukses mencungkil bagasi belakang, termasuk melongok ke kolong jok.

Luger keparat itu terkepelai di atas sofa. Chip menjelajahinya sembari tertawa-tawa. Mengusap magasinnya dengan kaus, bergaya sok menembak ke arah dinding. Siung. Seolah itu tontonan paling lucu di dunia.

“Kami menemukan Luger di dalam sana, Tip. Di dalam kompartemen dasbor. Apa kau mengenalnya?” Rex yang pertama kali bertanya. Aku menatap Earl. Cuping hidungku kembang-kempis.

“Aku tahu, kau mengenali benda ini,” ujarnya.

Satu hal tentang Luger itu, aku tahu soal jungurnya yang dingin. Menggigil ke di pipiku.

“I-itu milik Enzo,” ucapku. Aku tak tahu harus melirik ke arah mana. Chip yang mulanya tak peduli, beringsut berdiri di hadapanku.

Bollocks. Ia tahu lebih banyak dari itu, Earl,” Chip menyipit ke arahku. Kendalikan dirimu, Tip. 

“Ayolah, Tip. Kami enggan menyiksamu untuk sekadar berkata yang sejujurnya.” Earl berjalan satu langkah, tapi entah apa yang membuatku amat ketakutan. Seolah ada tabir sebesar piringan asing yang melayap di atas kami, menutupi celah-celah rompal dari para-para bangunan. Leherku dibanjiri keringat. Mengingat napas berbau tembakau yang berbisik di sisi telingaku.

“A-aku—” aku perlu sejurus untuk mereguk liur. Rex mengambil pistol Luger itu dari tangan Chip. “Tolong j-jangan tembak aku,” sergahku terbata-bata. Kedua tungkaiku kebas. Bersinjengket mundur, malah menginjak keliman celana.

Rex mendengus geli. “Tip, kau baik-baik saja?” Earl berjalan kian dekat.

“J-jangan tembak aku,” suaraku berubah menjadi rintihan, kugigit lidahku sekuat tenaga. Terjungkal dengan bokong mencium aspal. Earl berlari mendekatiku. Aku menarik kaki, terjajar mundur dengan kesepuluh jemari.

“Tip, hentikan itu. Kau tidak harus bersikap seperti ini.”

“Jangan sentuh aku! Tidak! Dasar homo!”

Jemari Earl berhenti. Terlalu sering ia diancam dengan kata ‘homo’, tapi kata itu tidak pernah meluncur dari bibirku. Bersirobok dengan matanya begitu nanar. Ia mendengus, seolah yang barusan itu adalah akting terburuk yang pernah dijumpainya.

Earl tidak berbicara, ia berbalik, sebagaimana aku hanya memerhatikan jinsnya yang kedodoran menjauh. Menyelomoti batang rokok apapun yang ia temukan di meja, sedang aku menyelisik isi tas yang berhamburan di aspal.

****

Kebohongan pertama yang paling kuingat agaknya ketika aku berumur tiga tahun. Mendiang ibuku bertanya, apa yang hendak kaulakukan saat besar nanti? Aku tidak menjawab, gigiku hanya membentang jadi satu deret singkat, tanganku meramban miniatur astronot itu.

Begitu naif. Aku ingin jadi astronot. Tapi jika sebuah pilihan (d) ada di kuisioner ruang konseling, aku akan mengisinya dengan kata: “pembohong”.

Cukup singkat. Dan pekerjaan itulah yang sejauh ini paling mumpuni kulakukan, menurut Enzo.

Jangan sangkut pautkan Earl. Anggap saja itu satu rekaman dari koleksi besar yang akan selalu kuputar jelang sesi perkenalan. Dan perkenalanku dengan Enzo bukan lantaran bokongnya yang salah terperenyak di bangku kantin.

Lantaran Enzo memergokiku dua hari sebelumnya, bersetelan kemeja dan berdasi biru. Berjalan tergial menanggapi telepon Earl sembari melewati Albert Street. Dan cuaca tidak cukup terik untuk udara Edinburgh yang lembap. Itu transasksi ketiga puluh Enzo yang berjalan nyaris tidak sesuai dengan rencana. Regulasinya mudah, Enzo perlu satu setengah tahun untuk meyakinkan si gempal keparat Barry untuk menyerahkan heroinnya untuk distributor yang lebih intim. Tak perlu uang muka, sekadar peluang konsinyasi.

Mereka menyebutnya Barry The Blow, seperti lelucon hari kemarin, yang mana ia bermain panggung kabaret dengan pistol dan deretan gigi emas. Bedanya, pistol itu asli dan gigi emasnya bukan sekadar saduran. Lumbungnya sebesar kamp konsentrasi, alih-alih, diisi padi, ia isi heroin dari negeri kincir angin.

Kala itu aku berdiri tegak-tegak; Enzo memasukkan bungkusan cokelat ke dalam ranselnya. Satu jabatan tangan hangat; aku gegas berbalik pura-pura buang kencing di trotoar.

Itu konyol. Jika tak tertangkap basah, pun celanaku akan basah terkena rembesan kencing.

Lima menit, kucoba mencuri dengar derap-derap di aspal. Malah disergap suara yang membikin merinding, “Nyalimu boleh juga, Mate.” Tepukan telak; aku buru-buru menarik ristleting celana. Shite.

“Er, i-iya? Aku tidak tahu apa yang kaumaksud barusan,” pungkasku.

Enzo mengendus. Tingkahku agaknya lucu di benaknya. Ia menyentuh daguku sekali, meniliknya ke kiri kanan seakan-akan jambangan antik di Grassmarket.

“Entalah. Kupikir, kau akan berguna di suatu hari nanti.”

Ia melepaskanku hari itu—aku lupa meletakkan tanda petik di kanan dan kiri. Sekadar sehari, sebelum Earl pulang membawa kabar sinting itu di hari Jumat. Tanpa perlu berselindung, ia tahu benar di mana aku akan terpenyak.

Dan setelah itu Enzo menjadikanku sebagai orangnya yang terpilih. Seperti Barry The Blow dan antek-anteknya yang mencuar nyaris tiga kaki dari jungur hidung. Aku mengikutinya ke mana-mana, tidak sepulang sekolah, bisnis hebat itu digelar malam hari, ketika lampu-lampu meredup dan jalan tak lagi bising.

Dan permainan kami dimulai. “Ingin mencoba?” Kedua kalinya Enzo bertanya, kala itu kami tengah duduk di patio belakang rumahnya, menghidu pipa madat. Malam di bulan keenam sejak insiden buang kencing gadungan.

Alisku berjungkit. Menilik pipa mutakhir ciptaannya, botol mineral bekas yang dibebat berbagai pita rekat.

“Transaksi besok adalah bagianmu. Siap menghadapi Barry?” Ia mengangsurkan pipa dan pemantiknya padaku.

“Tapi besok hari Jumat.” Aku menyesapnya sekali sembari menyulut api; terbatuk-batuk parah dengan mata memerah.

“Peraturan akan diubah, Tip.” Ia tertawa. “Rabu jatahku, Jumat akan menjadi ajang debut hebatmu.” Enzo membangun akademi transaksi itu tanpa sepengetahuan Earl, yang notabene tahu segala hal tentangnya.

Well, mari kita hadapi Barry keparat itu,” seruku. Kami tertawa semalaman. Dan jika ada yang perlu disalahkan, salahkan semuanya pada kanabis kelas tiga yang Enzo dapatkan cuma-cuma.

Aku bertanya padanya mengenai perkara transaksi heroin itu. Mengapa seorang Enzo memilih heroin? “Aku tahu, kau tidak pernah mencicipinya barang setitik,” tantangku dengan cengiran separuh melayang. Memeluk botol madat, kubenahi posisi duduk di atas kursi deck.

“Jangan sok tahu. Aku terlalu sering mencicip sampai-sampai ingin muntah.” Enzo mengentak sneakers-nya. Bersehadap padaku dengan mata sayu. “Ia menyuntiknya berkali-kali, Tip. Tiga kali yang kuingat. Kurasa yang dapat paling kuingat dari wanita keparat itu adalah ketika ia memintaku meraciknya untuk dosis dobel dalam sekali pakai,” dengusannya terdengar payah, tubuhnya ambruk mengempas kursi deck. Tungkainya berderak, untung tidak patah.

Lantas aku tak kembali bicara. Hanya menatap garis horizon yang nyaris raib dilabur malam. Enzo menyulut rokok baru sementara aku menyesap pipa madat miliknya. Sekonyong-konyong saja ia menangis. Bukan dengan efek melodramatis, alih-alih, masih diselundupi tawa sarakastis.

“Wallace, Tip. Kau pernah bertanya mengenai nama belakangku, ‘kan?” celetuknya di sela gemertik bara. Dijeda napas muskil, ia bicara soal Mrs. Wallace yang kerap ia tutup-tutupi.

“Perempuan keparat itu mati lantaran mengendus terlalu banyak heroin.”

Kala itu tangisnya sudah berhenti, seperti Tuhan tak memberikannya cuti untuk sekadar mengenang duka, Enzo bercerita tanpa ekspresi.

“Dan sekarang kau malah menjualnya?” Aku mendengus geli, mempertanyakan paradoks yang begitu sedih.

“Aku perlu perasaan itu, Tip.” Ia duduk berambin. Menyesap lebih banyak asap, lantas mengeluarkannya dari cuping hidung. Sedikit demi sedikit ia malah tertawa, diculik asap kanabis.

“Perasaan takabur kala berurusan dengan Barry?” Aku meliriknya sekali; ia buang muka ke arah kiri.

“Perasaan diinginkan. Ia hanya menginginiku lantaran benda sialan itu.”

Sorry,” ujarku, menyesap lebih banyak kanabis.

Enzo tak lagi menyahut. Manik kelabunya menilikku, bukan biru seperti milik Janet. Lantas, bergumam dalam hati, apa seperti itukah Earl memandang Brent? Seperti saat bungkam di tengah malam; kami tertidur di bangku deck, menggigil sepanjang malam. Menyelinap di kala fajar, melompati birai jendela, dan kembali berpura-pura.

****

Kala itu pukul delapan, aku enggan beranjak dari kasur. Sekadar meramban onggokan buku yang kutimbun di nakas sebagai tugas membaca harian kelas Sastra. Cat’s Cardle dipilih Mr. Keener lantaran terobsesi pada Kurt Vonnegut. Membuka lembar pertama, seseorang pasti tahu, aku tak benar-benar membaca. Jam di pelipir meja menunjukkan pukul delapan; Dad mengetuk pintu untuk ketiga kali, menyembul, sekadar berkata, “Kuharap kau lekas bersiap untuk acara pemakaman itu.”

Dad bukan pria penuh kontradiksi. Ia menutup pintu, sudah dengan setelan kemejanya. Terakhir kami berpakaian serba hitam bukan lantaran menghadiri pesta pernikahan, alih-alih, hari terakhir melihat wajah ibuku di peti mati. Aku masih tidak percaya, harus menemukan wajah Enzo di tempat yang sama.

Menenggak gin yang kusembunyikan di kolong tempat tidur, aku melangkah ke luar kamar. “Sorry. Aku sengaja melakukannya,” ujarku, berjalan menuju patio.

Aku telat lima belas menit dari yang seyogianya. Alih-alih, mengikuti rombongan sekolah. Kepala sekolah kami sengaja menyewa bus untuk membawa murid-murid menuju Rosebank. Kerabat dan teman dekat berendeng di depan; pamannya, si pemilik bengkel dengan perut buncit yang kerap kupergoki berdiri di bersimpangan Leith Docks[1]; Rex; Chip; dan Earl. Tangan tremornya memegangi kertas renyuk.

Ia sempat mencuri lihat ke arahku, sekali. Sementara bibirku memperlihatkan senyum simpatik yang ia tampik jauh-jauh. Kami urung bicara selama dua hari. Malam, teve kubiarkan menyala, kalau-kalau telepon berdering dan ia mengajak menyesap ganja.

Rex sempat menepuk bahuku, berpamitan sebelum ia pergi, tapi Earl masih enggan membuka mulut.

Meremas jemari, aku memandangi pusara itu lebih lama, kendati satu per satu khalayak mulai raib. Aku menolak tumpangan Dad. Epitaf yang tertulis nisan mempertontonkan embos “Enzo Wallace” untuk pertama kali. Dengan kalimat  mutiara Hemingway yang menjadi kesayangannya; ia begitu mencintai dunia yang luar biasa ini, sampai-sampai enggan minggat.

“Kau keparat, Mate.” Napasku terputus, sekali menghidu udara, paru-paruku seperti diinjak sol sepatu. Aku mengambil Pal Mal dari saku, menyulut dua batang, satu kuhisap, satu lagi kuletakkan di pinggir nisan. Dengan julai asap yang dibiarkan menari, mengerdili batang putih. “Kau harus membantuku. Bukan malah terlelap di dalam sana. “ Aku menendang pusara itu. Lantas berjongkok, merokok dengan mata berair. “Itu sama sekali tidak lucu. Permainan kebohonganku nyaris berakhir dan semuanya terus bertanya kepadaku—”

“Apa yang sebenarnya kaulakukan bersama Enzo?” tanya seseorang di belakang sana, suaranya berat, seketika membuatku tersedak asap. Kubuang puntung milikku, melindas milik Enzo dan lekas berbalik.

Barry tersenyum. Sementara aku meniti sol sepatunya yang dibesut licin;menggunkan manset, kugasak kedua mataku yang basah.

“Bagaimana kabarmu, Nak? Er, Tip?” Kekehnya terasa mengintimidasi. Seolah transaksi pertama terulang kembali. Kukepalkan tinju. Kabar persetan, siapa peduli. Menghantamnya keras-keras sampai tubuh jangkung itu terjengkang beberapa senti.

Shite!” pekiknya, tak dinyana aku sanggup melakukan hal itu. Darah menggerumuti tepian bibir gelapnya.

“Jangan sok simpatik, Barry. Aku tahu, apa yang kaulakukan.” Napasku terengah. Sementara tinjuku terasa nyeri hingga ke lengan atas.

“Lantas, kenapa tak bertanya hal yang sama pada tempan pusaramu?” Alisnya meninggi. Ia gegas menggeluarkan sepucuk Glock, lantas menarik laras; aku mengangkat kedua tangan.

Kubiarkan deru angin melabur tungkai hidung, menatapnya lurus-lurus, bayangan Luger milik Enzo masih terasa menghujam pipiku. “Jangan sekali-sekali bergerak, Banci.” Magasinnya mengisi satu perluru ke ruang lontar.

“Aku ingin barangku kembali.”Barry menyentuhkan moncong sedingin es itu di dahiku.

“A-aku tak mengerti apa yang kaubicarakan,” ujarku, terbata-bata, dengan gigi bergemeletuk.

“Jangan berpura-pura, Tip. Kau ingin menjadi yang selanjutnya atau teman-teman busukmu itu?”

Aku menggigit lidah keras-keras. Berharap dapat menarik kata-kata itu. Keringat kembali membanjiri punggung. Kutilik ke atas, Barry tidak main-main. Giginya boleh dipertontonkan, alih-alih, roman mukanya dilabur murka.

“Si Bajingan Tengik itu mengambil barangku. Sedikit demi sedikit hingga ia pikir aku tidak tahu. Katakan di mana benda itu?!” Suaranya meninggi. Aku tak ingin diteriaki Banci di tengah pusara, Earl sudah tak terlihat batang hidungnya.

“Tidak ada pesan, Bar.” Aku melirik pusara Enzo. Memikirkan tangan-tangan yang mungkin mendobrak dari dalam tanah, lantas menariknya ke dalam liang.

“Omong kosong!” Ia berteriak frustasi. Hanya dalam hitungan detik, ia sanggup menarik pelatuk. Alih-alih, tangan kirinya menjambak rambutku. Mata kami bersirobok. Aku berusaha menahan tangis.

“Dua hari—beri aku waktu dua hari untuk barang milikmu,” desisku, mengangkat kedua tangan, memberikan etape sejurus. Barry The Blow selalu menggemari kata ‘negosiasi’, seperti yang Enzo bilang.

“Kau mencoba menipu?” Alisnya berjungkit. Menarik rambutku kian erat. Aku memicing kesakitan.

“Tidak. Tentu saja tidak.” Sekadar dengih paru-paru yang terdengar. Menahan nyeri memikirkan kulit kepala yang nyaris luruh. “Pikirkan sebuah kemungkinan, Barry. Daripada meledakkan kepalaku tanpa sebuah hasil.”

Barry melempar pandangan jauh ke depan, tempat seharusnya aku bisa berteriak meminta pertolongan. Melirik pusara Enzo dengan sebuah epitaf berpahat simetris. “Jangan coba-coba menjebakku. Pukul dua belas, Tip. Albert Street. Jangan melarikan diri.” Ia menendangku di perut. Glock hitamnya kembali terselip di celah ikat pinggang. Tubuhku terpelanting mencium rerumputan, memegangi perut sembari bergelung kesakitan.

Entah apa yang harus kulakukan; selain melihat sol pantofel yang mengentak-entak; rontek dompet yang menggelambir; dan langit yang begitu biru.

****

Sekerat Barney’s merupakan sebuah obligasi dalam bertandang ke rumah Enzo. Menaiki undakan bercat biru, patio porak-poranda dengan berbagai marka. Tiang kayunya tak lagi dibebat tali kuning polisi. Kutarik gagang pintunya; terkunci. Berjongkok di pinggir patio, kurogoh celah di antara petak kayu terakhir. Enzo selalu meninggalkan satu kunci untukku—untuk menyelinap masuk, pun keluar di tengah malam. Earl, Rex, dan Chip tak pernah tahu, aku pergi sesering itu, terakhir kali kami terperenyak berlima di sofa ruang depan, lantaran Earl keranjingan menantang semua orang bermain Rainbow Six.

Pun dengan kedatanganku kali ini, aku berbohong pada Dad—hendak kembali ke sekolah, berkonsolidasi dengan kelompok doa.

Aku memasukkan anak kunci ke lubang, lantas memutar gagangnya ke arah kanan. Menoleh ke kiri, membayangkan Enzo yang kegirangan, ingin lekas-lekas menyesap bir dingin dari bibir botol. Tangannya yang digasak, jemari kakinya yang melompat-lompat di balik sneakers butut.  Rumah itu kini bau tengik, setelah tiga malam lalu dihuni separuh personil kantor polisi. Merokok, menyesap bir, sekadar mengusir dingin. Jendelanya tertutup rapat, kelirnya tak dibiarkan terempas.

Ronce kunci masih menggelendoti pintu, ketika aku meletakkan kerat bir di atas meja. Memperhatikan marka di permukaan lantai. Aku memilih berjongkok, meramban getir lini putih yang menjadi tempat terakhir Enzo duduk. Membayangkan antek-antek bayaran Barry menyekapnya dan menjadikannya sebagai pencandu dalam satu malam. Tanpa sidik jari, pun barang bukti.

Keparat.

Menilik ke sekeliling rumah, lemari pajang itu masih berdiri di sayap kiri—lemari milik mendiang ibunya. Aku menarik kaki, meramban satu per satu kaleng yang berendeng di sana. Tempat di mana Enzo menyimpan butiran E yang kerap ia bagi dua. Seperti malam itu.

“Kau perlu “eksodus”, Tip. Untuk sekadar tidak menjadi Banci,” ujarnya, ketika kami duduk berdekatan. Tangan jenjangnya memamerkan itu pada remang lampu.“Ini pil hebat, ambil satu. Lantas, kau akan punya kekuatan super,” pamernya, sementara aku tak henti bertanya, tentang betapa kelabu matanya. Dan bibirnya tak pernah berhenti mengunyah Peppersmith. E tidak membuatmu menjadi pemadat pilon yang rela menggadaikan segalanya. Rasanya tak keruan, tapi tak seabsurd kala bibir itu menyentuh bibirku. Jantungku berkebit; kepalaku pengar bukan kepalang. “Bukankah kau ingin melakukannya malam itu?” tanyanya, diikuti tengik tembakau dan senyum tolol yang kami pertontonkan bersama.

Aku menemukan plastik E di dalam kotak Rolodex berduli. Menelan satu butir, menjejalkan sisanya ke saku jas. Membuka ponsel. Menyoroti satu per satu pernak-pernik dan bingkai foto tentang liburan terakhirnya ke London. Dan berharap bisa menemukan sesuatu yang dapat menjawab teka-teki sialan Barry.

Aku kembali berbalik. Bersandar dengan punggung luruh dan duduk bercangkung kaki. Mengambil sebotol Barney’s, mencungkil tutupnya di sembiran meja. Menyesap seperempat botol. Kepalaku seketika terasa berat. Seperti pertama kali kusentuh mandibula itu dan bertanya, siapa diriku sebenarnya?

.

E memberiku Enzo, Enzo yang aku mau, berjalan lewat pintu. Tubuh jangkungnya, manik kelabunya. Mengenakan kemejalumberjack kusut itu dan jins belel terinjak sneakers yang kerap memeluk kedua tungkai kakinya.

Kami bercinta seperti malam terakhir ketika ia membuka ritsleting celanaku. Dan melakukan akrobat spektakuler di atas sofa. “Barry mendatangiku,” ujarku dengan napas terengah.

Enzo tersenyum. Aku begitu takut ia akan berang. Kuperhatikan jemarinya yang masih mendekap tubuhku. Tubuh kami sama-sama telanjang di bawah satu remang lampu.

“Ia mencari barang itu.” Kususuri tulang selangkanya dengan bibir. Seolah takut kehilangan dirinya untuk kedua kali.

“Itu untuk Earl, Tip. Katakan padanya, aku minta maaf. Untukmu juga, tidak ada yang boleh berkata Banci.” Ia mengecup dahiku.

“Jangan konyol.”

“Jangan konyol juga untukmu. Bersikap seperti kau tidak ingin. Kau menginginkannya ‘kan, Tip?”

“Aku hanya ingin kau tetap di sini,” kataku.

“Tidak. Kau yang mengatakannya, Tip. Kau ingin Janet.”

Dadaku kontan terimpit. Berat tubuh Enzo menimpa tubuhku. Kulihat kedua mata nyalang itu. Lengan kirinya yang merogoh ke balik punggung.

“Apa yang kaulakukan?” Suaraku gemetar; pistol Luger menyembul di antara jemarinya.

Please,” aku mengangkat kedua tangan. Alisku menandak. Berusaha melepaskan diri. Ia baru saja mengarahkan moncongnya ke arah kepala; aku berteriak kesetanan. “Hentikan! Hentikan! Enzo!”

Dan peluru itu menembus kepalanya. Pecah menjadi onggokan daging berbau formalin.

.

Masih menemukan diriku duduk berambin, bersandar di kerai lemari, tubuh basah kuyup diguyur keringat. Teriakanku berakhir parau, disambut denting Botol Barney’s yang terguling, menggelincir di kolong sofa.

Sebuah gumpalan menyumpal kerongkongan untuk sekadar tidak mengumpat. Aku tidak menginginkan Enzo. Aku melirik ke sekeliling, alih-alih, kegelapan yang menyergapku. Kulirik arloji. Petang datang lima menit lebih cepat dari perkiraanku.

Aku ingin menangis. Tanganku memporak-porandakan seluruh isi lemari, kugulingkan satu per satu bingkai foto. Melempar pernak-pernik dan kaleng-kaleng keparat ibunya, menghujani lantai.

“Tutup mulutmu, Enzo!” pekikku, meremas rambut.

Kau ingin mengaku sekarang, Tip. Kutendang lemari itu hingga nyaris terguling. Aku tidak menemukan apa-apa.

“Di mana benda keparat itu, Enzo?!”

Kau tahu jawabannya, homo.

“Aku bukan homo! Aku masih menyukai Janet!”

Tapi kau masih menginginkan aku ‘kan?

Aku berusaha tidak mengindahkan suara itu, bergerak ke sisi samping. Mendorong lemari beberapa meter ke arah kiri.

“Persetan, Enzo,” bisikku. Lubang itu sebesar tiga puluh senti. Dibobol paksa di belakang lemari. Kurogohisi dengan tangan gemetar, lantas menemukan beberapa bungkusan cokelat. Sepucuk Beretta 92 dan sebuah kunci mobil. Beretta serta-merta menyisipi sela ikat pinggang. Aku memikirkan kata-kata terakhir Enzo satu malam sebelum kami menemukannya menyayat nadi:

Jangan bergerak, Tip. Jangan sekali-sekali kau menyentuh mobilku.

****

“Berhenti! Berhenti, Enzo!” pekikku, berlari di pelataran jalan, mengayunkan kedua tangan. Entah dari mana sepasang kaki itu menandak. Aku mendengarnya berlarian. Satu meter menganju dari iris mataku, menengok ke belakang. Ia enggan berhenti. Senyumnya mencuat. Seolah-olah kami hendak menerkam barang bagus di pesta tengah malam.

Aku terus berlari. Mengumpat beberapa kali. Duke Street sudah termaram mendekati pukul sepuluh. Etalase gerai redup satu per satu. Dua jam sebelum janji temu dengan Barry. Napasku terengah. Rontek kunci bergemerincing di saku belakang.

Berbelok di gang pertama, dengan bau onggokan sampah paling menyeruak. Aku menyusupi jalan rahasia menuju Citadel.

Sedikit pengar, aku melihat Citadel dengan penerangan minim seperti seharusnya, seseorang mungkin di dalam. Sepertinya Chip. Speaker dibiarkan menyala. Duran Duran [2]seperti baru saja menggelar konser, membawa seisi fan base dan memporak-porandakan ruang tengah.

Chevrolet milik Enzo terparkir di sayap kiri. Chip sudah memasang keempat roda seperti semula. Tak sempat mencari batang hidung Earl, aku harus segera membawa mobil itu pergi. Merangsek pintu depannya yang tak terkunci. “Shite!” Bokongku belum sempat terperenyak di jok, alih-alih, melihat bubuk putih terburai dari kulit jok.Mereka sudah mengetahuinya. Aku berusaha mengembalikan duli-dulinya, bergerak secepat mungkin sebelum seseorang datang memergok.

“Kau mencoba membohongi kami untuk hal ini?” Sekonyong-konyong saja aku merasakan moncong pistol di tengkuk; Earl mencoba menggebah.

Aku tak serta-merta mengeluarkan suara, sekadar mengangkat tangan. Earl menarik pelatuk pistolnya. “Jawab, Banci!” pekiknya.

“Aku baru mengetahui ini beberapa jam lalu,” kataku, perlahan membalikkan badan, tersudut, bersandar di pintu mobil.

“Keparat! Kau membohongi kami!” Aku mendengar Rex dengan isi botolnya yang berkecipak. Bau Vernon seketika menguar lantaran ia membantingnya berkeping-keping di atas aspal.

Kutatap mata Earl lekat-lekat, tangannya yang  memegang popor dengan kesepuluh jemari. “Aku sungguh-sungguh. Aku berbohong, iya, tapi tidak dengan benda ini—benda ini harus dikembalikan.” Tangannya gegas mencengkeram lapel kemejaku. Penampilan kami sama-sama kacau, napas yang memburu, sengit tembakau yang melayap dari lapel kemeja.

“Hei!” Chip ganti memekik. “Barang ini bahkan bukan milikmu.” Menyembul dari sisi kiri, membuka pintu. Lantas mempertontonkan heroin itu di tangannya. Bulir-bulir berjatuhan; aku mereguk liur.

“Aku berbohong soal Barry. Barang itu milik Barry The Blow.”

Bollocks. Kau tahu apa soal Barry!” damprat Chip, mengempas pintu mobil. “Kita terlalu lama memercayainya, Earl.”

Earl sejurus membisu. Jemarinya boleh mencengkeram kuat; pistolnya mengendur. Lengannya gemetar. “Kau melakukannya dengan Enzo selama ini?”

Aku mengangguk. “Maafkan aku.”

Ia mendorong tubuh kuat-kuat. Mendengus geli. “Kau orang baik, Tip. Bukan En—”

“Aku pembohong yang payah, Earl. Aku mencintainya,” aku memberangus kontemplasi Earl. Menengok aspal, sengaja menghindari tatapan mata itu. Sejurus hanya bunyi perkusi Roger Taylor[3] yang terdengar dari stereo, sebelum jemariku balas menarik popor senjata dari sela ikat pinggang.

Shite!” Rex bergerak mundur. “Earl!” pekiknya.

Aku mengacungkan benda itu lurus-lurus, ke arah Rex yang hendak menerjang; kaki Chip yang melentuk ketakutan. Earl masih geming. Aku lekas-lekas menyuruk masuk ke dalam mobil. Mengunci keempat selak pintu.

“Keparat, Tip!” pekik Chip. “Buka pintunya.” Gebukan keras itu menghantam roda kanan belakang. Jemariku gemetar hebat, berusaha memasukkan anak kunci.

“Buka pintu! Banci!” Rex mengangkat tinggi-tinggi kursi kayu itu. Menghantam kaca belakang. Suara mesin meringking beberapa kali, sebelum akhirnya berderum. Aku tidak sempat berpikir dua kali; melirik Earl; menginjak kopling dan menarik persneling menuju gigi mundur. Ban berdecit disambut derum mesin.

.

Beretta masih mengait di telunjuk kanan; aku menginjak pedal gas dengan kecepatan maksimum. Jantung meninju rusuk. Melintasi tiang lampu di perimeter Easter Road. Kepalaku pengar, dengan mata separuh memicing, entah berapa lama lagi aku harus menahan muntah di kerongkongan.

Sneakers sompek itu lagi-lagi menyembul, menutupi spion kiri. “Kenapa kau begitu keras kepala, Tip?”

Enzo. Berpangku tangan, dengan kepala yang diangguk-angguk, seolah ia mendengar melodi sunyi lewat stereo.

Ia sudah mati tiga hari lalu. Persetan. Aku membersit hidung, pura-pura tidak mendengar, terlepas bunyi rontek-rontek yang menggelambir di spion muka, yang nyaris membuat kepalaku pecah. Kuarahkan Beretta itu menuju pelipisnya. Ia tertawa kecil. “Apa yang hendak kaulakukan dengan benda itu? Menembak kepalaku?”

“Tutup mulut!” Aku menggebrak roda kemudi. “Aku harus mengembalikannya.” Melempar pandangan ke ruas jalan. Tempat janji temu dengan Barry The Blow berada dalam hitungan meter. Aku menginjak pedal rem.

“Dan bersikap seperti jagoan, Banci?” Alisnya menjungkit. Menarik kaki dari dasbor. Merogoh saku untuk sebatang Berkeley. Aku mematikan mesin mobil. Bersihadap dengan dirinya, yang melipat sebelah kaki.

“Bisa kau berhenti bicara?! Aku tak ingin membuat kita semua terbunuh.” Aku hendak menarik gagang pintu. Memutuskan untuk menutup telinga.

“Kau tidak akan menyelamatkan siapa-siapa!” pekiknya.

“Persetan, Enzo! Ini semua lantaran ulahmu! Apa yang kauberikan?! Kau mati, keparat!”  umpatku, dilahap amarah. Kucekik lehernya dengan kedua tangan. Berharap ia lekas-lekas dikirim ke neraka. “Kau tidak meninggalkan apa-apa kecuali barang sialan itu yang malah membuat semua orang terbunuh.”

Enzo tertawa santer. Seperti ketika kami menonton kejuaraan Piala Eropa.

“Keparat, Enzo!” Kutinju tubuhnya berkali-kali; menghantamkan kepalanya di kerai jendela. Tawa itu tak urung raib.

“Kau orang yang paling berani yang pernah kukenal, Tip.” Ia tergelak kecil, sebelum menahan kedua tanganku di depan dada. Mengelus dahiku. Napasku terenggah. Menatap matanya yang nanar.

PRANG!

Peluru itu menancap di belakang kepala. Aku merasakan aliran hangat yang menggerayangi leher. Sakit sedikit menggigit—nyaris tak terasa, alih-alih cengkeramanku di lapel kemejanya sekonyong-konyong mengendur. Pengar di kepalaku menjadi berlipat ganda. Melirik ke depan, Enzo sudah raib. Hanya dengih napasku yang terputus-putus.

Sementara siluet-siluet jangkung itu datang menyatroni mobil kami dan menyulap jendela samping menjadi puing. Dingin merambat di sekujur tungkai kaki. Seseorang menarikku keluar.

Kuamati giginya, ia berjongkok di emperan. Warnanya emas. Disilap temarang lampu di pelataran Albert Street. “Kau orang paling naif yang pernah kutahu,” ia terkekeh, meninggalkanku dengan punggung bisu itu dan membawa mobil Enzo pergi.

-fin

________________

[1] distrik tempat prostitusi di Edinburgh
[2] Band beraliran new wave asal Brimingham
[3] drummer pertama Duran, Duran

A/N: Untuk Renton, Spud, Sick Boy, Begbie, dan Tommy. Iggy di awal, Layus di akhir.  Kurt, Anthony, Axl, Liam dan Noel.

Advertisements

Cutting Veins, Pt. 1

“Aku memilih untuk tidak memilih hidup. Aku memilih hal yang lain. Dan alasannya? Nyatanya, tidak ada alasan saat kau memiliki heroin.”Irvine Welsh

.

.

Sudah gelap ketika ponsel Earl meringking untuk ketiga kali. Mau tak mau tangan besarnya melintasi wajahku untuk sekadar terperanjat ingin tahu. Mungkin itu telepon iseng; bisa jadi Brent—pacarnya dari Cambridge; atau bisa juga ibunya tahu perihal Fullers yang raib dari lemari pendingin. Aku tak benar-benar mendengar. Alih-alih, menarik otot, tak sengaja menyenggol kaleng-kaleng kosong yang beronggok di kolong sofa. Pinggangku nyaris rontok. Dua kali mengerjap, aku masih mencium sengit tembakau yang bertemperasan di lantai, di bawah teve yang masih menyala. Earl baru saja menyapu bersih trofi untuk level keempatbelas dari Rainbow Six. Memborong komplotan mafia. Serta merampok gudang senjata. Bagus.

Bibirku tak benar-benar tersungging sementara pikiranku masih melayap menerka angka di meja nakas. Biasanya ganjil. 01:33 atau mungkin 09:13 lantas kakiku gegas bersijengket ke kamar mandi. Tapi malam itu aku terbangun tepat di tengah malam, 00:00, digit sempurna di atas nakas, sebelum Earl berpakaian dan menendang bokongku keras-keras.

Shite, Mate. Apa yang kaulakukan?” aku mencoba protes, tapi Earl sudah berlari. Ia tidak benar-benar berpakaian, sesungguhnya, hanya membuka pintu kamar dengan kesetanan. Menjejalkan jemari kakinya ke dalam sneakers hitam. Dan menarik jins kebangsaannya tinggi-tinggi agar bokong hebat itu tak jadi tontonan.

“Earl!” pekikku; buru-buru menuruni tangga.

“Cepat, Banci. Kau tidak mau ketinggalan pesta terbaik di Edinburgh ‘kan?” Ia sempat berbalik menatapku. Tertawa-tawa. Dan seketika aku tahu ke mana kami akan mengarah.

Aku buru-buru mengunci pintu, menyelipkan kuncinya di bawah babut. Berharap Dad tidak pulang malam ini dan menemukan ampas Irn-Bru dan Fullers yang diselundupkan secara ilegal lewat jendela lantai dua.

Earl berada dua meter di hadapanku dan bertelanjang dada. Berlarian empat blok jauhnya. Napasku mulai terenggah. Kami berbelok di rumah kelima, bercat krem tua dengan fasad mewah dan Volkswagen yang baru saja terparkir miring di carport depannya.

“Rex! Rex!” Earl berteriak kegirangan sembari terenggah-enggah. O, god. Dan temanku yang homo itu serta-merta masuk lantas memukul-mukul kaca jendela untuk orang yang sama linglungnya. “Kau mendapatkan pesan itu?” tanyanya.

Sebaliknya Rex dengan mata sayu, menurunkan kaca yang separuh terbuka. “Er?” Mungkin ia menyapa, mungkin bergumam. Kala itu Jumat malam dan Earl seolah tak khatam kebiasaan Rex mengunjungi Studio 24[1].

Dua sesap martini tentu tidak jadi masalah. Tapi, bagaimana dengan satu botol ia yang curi dan peluk seorang diri?

Earl mendengus frustasi.

Aku mengintip ke jok samping. Syukurlah. Ini termasuk beruntung. Tidak ada si Pirang Menyebalkan seperti minggu lalu.

“Aku membawa Tip juga. Kau tidak mendapatkan pesan Chip?!”  Earl berusaha menepuk pipi Rex beberapa kali.

“Mmm? Hentikan! Shite, siapa kau?” Masih dengan terpejam, Rex mengumpan tinjuan kosong.

“Sepertinya ini percuma saja,” ujarku, melipat tangan di depan dada.

“Jangan menyerah, Banci. Kita akan pergi menjemput Enzo dan pergi ke tempat hebat itu,” bisik Earl, merogoh lewat partisi jendela. Dan klik. Selak otomatis itu terbuka. Tangannya menggapai anak kunci, memutarnya hingga bunyi mesin berderum.

“Melompatlah ke belakang,” suruh Earl. Ia mendorong Rex ke jok penumpang dan gegas memasukkan presneling ke gigi mundur.

.

Earl masih mengetuk-ngetuk pinggiran kemudi untuk senarai lagu Iggy Pop yang ia sambungkan lewat kabel ponsel. Rex tertidur pulas bersama igau-igau tololnya mengenai Ramona—si pirang sialan itu, yang mengataiku ‘banci’. Maaf, banci hanya untuk Earl dan Enzo, Rex dan Chip bahkan memanggilku Tip. Tip untuk Tipton. Tipton Hastings yang baru saja dipanggil untuk mengisi kuisioner di ruang konseling tadi siang.

Bergelung di kursi belakang. Lantas, jemariku mencengkeram sandaran jok depan.

Perjalanan menuju rumah Enzo seyogianya tak lebih dari beberapa quid. Tapi, malam sudah turun. Dan aku hanya dapat membiarkan Earl melanjutkan mimpinya sebagai pembalap amatiran; menginjak pedal rem; memindahkan presneling dengan bunyi memekakkan telinga.

Sementara aku masih memikirkan kuisioner tolol itu di tengah malam, yang bertajuk Opsi Kariermu di Masa Depan: (a) fisikawan, (b) akuntan, (c) insinyur.

“Kau baik-baik saja, Mate?” Earl melirikku lewat spion muka.

Bahuku mengedik.

Earl tersenyum. Baginya, mungkin kuisioner itu tak lebih dari tisu toilet belaka. Kariernya sudah di depan mata. Ingin jadi apa Earl? Tentu saja Iggy Pop. Ia bahkan sudah memperlakukan dirinya sebagai utusan yang diselundupkan lewat rahim Mrs. Cummings sedari umur lima. Membeli jins pertama, melupakan perihal atasan yang padan untuk sneakers hitam bututnya. Dan lengkap sudah, ia mengecat rambut cokelat gelap itu jadi pirang terang mirip bintang rock tahun delapan puluhan.

“Setidaknya kau harus berhenti memikirkan ide tentang mencumbui guru konseling payah itu dan menyusun strategi untuk untuk mengencani Janet,” sahut Earl, terkikik geli.

Janet, tetanggaku, hanya Earl yang tahu aku naksir padanya sedari kelas satu.

“Tutup mulutmu, Homo!” peikik Rex sekonyong-konyong; aku meringis. Rasakan, Earl!

“Sialan, kukira ia baru saja kehilangan nyawa setengah jam lalu,” umpat Earl, mengambil jalan memutar. Rex masih disorientasi. Tapi, agaknya ia tahu mengenai pesta yang katanya hebat itu.

“Tidak akan ada yang kehilangan nyawa untuk pesta hebat di minggu ini, asal kautahu.”Ia mengacungkan botol Vernon itu ke luar jendela, menenggaknya banyak-banyak, mengangsurkannya pada Earl, lantas padaku untuk estafet seputaran menyambut pesta yang-katanya-hebat itu.

Aku mendengus geli, tapi tidak untuk satu injakan pedal rem yang membuat kami bertiga nyaris memagut dasbor. Rex nyaris mengeluarkan isi abdomen; Earl memberhentikan Volkswagen tak sempat melewati tikungan di pojok jalan. Sirine polisi sejurus membuat kami tercekat. Dan begitu saja Iggy Pop seakan-akan membisu, sebelum aku memberanikan diri berjengit pertama kali. Ada yang tidak beres. Ada yang tidak beres dengan Enzo.

“Tip?!”

Aku tak memedulikan pertanyaan Earl, alih-alih, membuka paksa selak pintu dan melompat turun. Berlari dengan berdengih-dengih, melewati ruas jalan di pukul satu dini hari. Dan menemukan mobil patroli ayahku terparkir di depan rumah Enzo.

Shite, shite, shite.”

Entah berapa lama aku mengumpat, meremas tinju tanpa bisa melayangkannya. Earl melandaskan langkah di depan pagar. Dan Rex yang masih separuh pengar, berjalan limbung.

Shite, Mate.” Earl menambahkan yang terakhir, sebelum kami berjibaku menembus patio. Tepat ketika ayahku menerobos keluar dan menarik lenganku dengan paksa. Dadaku mencelus.

“Lepaskan aku, Dad. Apa yang terjadi pada Enzo?”

Ini bukan pertanda yang baik. Dad menarik napas panjang. Earl memasukkan kedua tangan di saku belakang. “Sir?” panggilnya.

“Kalian tidak bisa masuk ke dalam,” ujarnya, “Tunggu saja di luar. Kami perlu membereskan jasadnya dan mengumpulkan barang bukti.”

Omong kosong. “Jangan bohong, Dad. Enzo—” kata-kata itu raib begitu saja, aku berusaha mendorong, terus mendorong. Berteriak kesetanan.

Mungkinkah?

Kami bertiga begitu mengenal ruang tamu itu, masih dijajari lemari-lemari pajang khas era tujuh puluh. Dengan rangka kayu eboni tua berbau dupa. Tapi, Enzo tak ada di sana. Aku melihat bubuk putih yang beronggok di meja kopinya, tempat biasa kami melempar satu kemungkinan dari 52 kartu yang ada. Kursi ottoman-nya yang dinodai ceceran darah. Dan lebih banyak noda merah yang merembes di sela linoleum.

“Ia bunuh diri,” pungkas Dad, menepuk bahuku sekali.

Earl yang paling pertama ambruk. Ia membiarkan jins itu menggosok-gosok birai patio. Dan Rex hanya memeluk botol Vernon-nya tanpa suara.

“Tidak mungkin, Dad!” raungku. Aku masih berusaha menerebos. Menarik kuat-kuat lini polisi yang memagari pintu depan; Dad menahan tanganku bersama Officer Bishop. Mempertanyakan keputusan Enzo untuk tergeletak di balik sana. Apa ia sempat menyuntikkan benda jahanam itu lewat nadinya?

Aku harus tahu.

“Hentikan, Banci!” Earl yang menegurku, sampai-sampai para petugas forensik menatap ke arah kami.

“Tutup mulut, Earl!” Suaraku tak kalah meninggi. Aku berbalik ke arahnya. “Aku bukan banci. Aku bukan—keparat, Enzo!” Satu tinjuan. Earl terhuyung, nyaris terjungkal ke pekarangan muka. Aku tak begitu ingat mengenai serangan balasan itu. Yang kutahu, hidungku berderak cukup parah.

Rex menarik Earl menjauh. Officer Bishop memasung tanganku ke belakang. Itu adalah ruang hampa yang panjang, seolah sebuah ledakan masif meletup di sisi telingaku. Aku masih mempertanyakan Enzo yang kukenal dengan tatapan-tapanan yang kini menatap jasadnya terbujur kaku di kantung mayat. Menelisik masuk ke dalam labirin otaknya dan bertanya, apakah ini caranya untuk menghukumku?

****

Cukup dua episode hidup Earl yang sanggup membuatku bergidik: ketika ia berbisik padaku tentang orientasi seksualnya yang timpang, kurasa ada beberapa jenak saat ia tertarik padaku sebelum akhirnya menemukan Brent lewat jejaring sosial; lalu, ketika Earl bilang ia memiliki bisnis bersama Enzo.

Seseorang pasti tengah berkelakar kalau ia mengaku tidak mengenal Enzo. Tak perlu nama belakang untuk membedakan, kami hanya perlu memanggilnya Enzo. Rambutnya cokelat gelap, seringnya kedapatan sengkarut dan lupa bersisir. Tatonya mengular di pergelangan bawah, lantaran dari itu ia mengganjur ke mana-mana lumberjack lusuh berwarna merah tua.

Dan kenalkan diriku, Tipton Hastings. Tidak terlalu populer kecuali menjadi bahan bulan-bulanan di kelas Sejarah Dunia. Duduk di deret paling belakang. Dan gemar menghitung sisa hari menuju kelas terakhir di penghujung tahun. Pekan-pekan pendek yang mana aku dapat terbebas dari artileri limpasan kloset George Richardson.

Menolak untuk terlibat, kala itu hanya satu hal yang berkelebat di benakku: membereskan berkas-berkas pra-kalkulus Mrs. Jones dan bergegas pulang. Alih-alih, Enzo mengambil kursi yang seharusnya milik Earl di sampingku.

“Ingin bergabung dengan tim hebat? Tidak ada Richardson, tidak ada olok-olokan bodoh itu lagi,” ajaknya, serta-merta merebut botol Irn-Brn dari mejaku. Kuperhatikan jemarinya yang menguning lantaran terlalu sering merokok. Sebelah kakinya yang terangkat, menindih tumpukan kertas.

Aku menggeleng. Satu gelengan pendek sembari berharap ia akan meninggalkanku sendiri.

“O, ayolah, Mate. Kau takkan membiarkan mereka menginjak-injak harga dirimu, ‘kan?”

Thanks. A-aku rasa, aku akan meninggalkan itu untukmu.” Kutunjuk botol Irn-Brn di tangannya, menjejalkan lebih banyak kertas ke dalam tas, bergegas untuk raib.

“Tunggu. O, tunggu dulu, Tip. Mau ke mana kau?” Ia menarik tubuhku dengan amat mudah, menjumput lapel kemeja dari arah belakang. Ini tidak baik, sungguh buruk, tepatnya. Aku mulai membayangkan hari-hari pertama itu. Air limpasan toilet yang mirip rasa susu basi.

“Perpustakaan,” aku berdusta kecil, sesungguhnya aku ingin pulang.

Keparat, Earl. Ia baru saja memasukkanku ke senarai nama tim busuknya.

“Baiklah kalau itu maumu, belajar dengan tenang di perpustakaan, tapi jangan lewatkan pertemuan esok hari. Pukul satu.” Ia mengangsurkan kertas lisut itu dari sakunya. Terlipat-lipat seperti nyaris sobek. Dengan tulisan carut-marut dan menandak-nandak.

Kami berlima menyebutnya Citadel. Beberapa blok lewat  jalan belakang Leith Academy. Menyusuri gang paling bau di Edinburgh. Dan di sanalah Citadel berdiri. Tajuk yang elok, bersanding terbalik dengan konturnya yang nyaris ambruk. Sekilas ditilik, bentuknya lebih mirip griya tawang milik koloni tikus.

Earl yang menyambutku sangat meriah. Dengan stereo bekas yang entah ia pungut dari mana. Lust for Life dari Iggy Pop berdentam-dentam keras di belakangnya. “Selamat datang di Citadel, Mate!”

“Kau menemukan seseorang di sana, Earl?” tanya seseorang dari dalam. Pemabuk itu bernama Rex. Berjalan-jalan dengan kemejanya yang lusuh, dasi biru dongker yang melingkar seenaknya, tak lupa sebotol Carlsberg di tangan kiri.

“Ah, ini Banci alias Tip,” ujar Earl.

Citadel punya ventilasi raksasa, setinggi tubuhku dikali dua. Tirai minimalis sintetis, semi-transparan dengan menghibridakan kelir kamar mandi dan tirai elegan gaya Victoria abad kedelapan belas.

Masuk ke dalam. “Itu Porno!” pekik Earl, masih kegirangan; Rex baru memilih kursi beanbag, melesakkan tubuh dengan keadaan separuh teler. Porno, seperti namanya yang menjijikkan itu—aku lebih memilih nama Chip untuk memanggilnya—mengenakan celana super pendek, duduk gaya duyung, mempertontonkan lemaknya yang menggelambir dan atasan kemerjas mandi. Kompleks. Atraktif. Tapi, tidak cukup poin untuk naik ke pergelaran fesyen Edinburgh.

Bukan tim super, seperti liga fantasi yang beranggotakan empat manusia mutan. Peraturan itu singkat, empat orang duduk silih hadap. Tidak termasuk Enzo. Aku enggan bertanya, apa yang kerap ia lakukan di terali jendela. Menyundut lebih banyak Berkeley? Tapi, yang perlu kauketahui adalah barang bagus di hari Rabu dan Jumat.

Shite, umpatan yang tepat. “Ingin coba?”

Aku bergidik. “Jangan! Banci takut,” Earl tertawa. Tapi, sesungguhnya aku memang takut. Merinding hingga ke tengkuk, malamnya aku kena insomnia akut. Ingin memberitahu Dad, aku berpikir soal Enzo. Tapi, barang gila itu—kata-kataku tandas.

Enzo membawa heroin tiap hari Rabu—dan terkadang Jumat. Earl langsung menyenggolku, meminta pinjaman beberapa lembar quid. Kadang ia mencuri. Merogoh sedikit dalam, sangat dalam, lama-lama ia berani menggadaikan semuanya. Kecuali koleksi piringan vinil Iggy Pop, ia rela.

Senja itu tak ubahnya kerja paruh-waktu pertama, duduk di ruang kelas Mrs. Jones rasanya seperti terkena wasir seminggu. Earl dan Rex mengetuk jendela kelas dari pekarangan belakang. Ikut kami, artikulasinya jelas, tapi aku pura-pura tak lihat. Mrs. Jones berdeham, Rex mempertontonkan tinjunya padaku. Mau tak mau aku mengangkat tangan, mangkir ke bilik kencing. Sebagai bulan-bulanan yang tidak terlalu populer, tanganku malah menjadi gunjingan Rex dan Earl sebagai aparatur magis. Takaran tepat, pembakaran sempurna di atas sendok. Dan satu suntikan hebat yang setara dengan seribu orgasme.

Sedikit demi sedikit aku tidak takut tepung keparat itu menyelinap ke mimpiku. Tak sampai menyelinap di dalam pembuluh darah. Enzo mengajariku menyesap Berkeley miliknya, kadang Marlboro milik Rex. Terbatuk sekali. “Ini tidak buruk, ‘kan?” ujarnya.

“Sedikit pahit,” kilahku, meludah ke gelas kopi.

“Bukankah begitu hidup?” Alis Enzo berjungkit. “Sedikit pahit. Sedikit asam. Tapi, membuat orang tetap terjaga untuk siap bertarung.” Ia menjelaskan moto hidupnya yang tak ubahnya Koloseum; terus bertarung dan bertarung, seolah ia enggan untuk minggat.

Sepotong dari kejadian yang kuingat, Banci bisa jadi topik panas di Citadel, tapi tak lagi di koridor Leith Academy. Entah apa yang Enzo jampi-jampikan kepada George. Kupikir, aku kepalang menyukai pseudonim Banci ketimbang Tipton; Banci bisa berdiam diri dan berbohong; Tipton harus melakukan sesuatu.

.

Sebelum menjadi sebuah antalogi berita yang hebat, kabar itu sudah menjadi mimpi buruk dua malam lalu. Tidurku gelisah. Earl masih anfal di bawah efek suntikan heroin keempat. Rex minum-minum semalam suntuk, minta disuntik dua kali. Chip tidak menonton malam itu; ia menyambut kami dengan satu seringai besar, sebelum dadanya menggeligis diam-diam, menangis di pojok, tempatnya berfantasi.

Aku mengabaikan telepon Dad entah untuk keberapa kalinya. Ia meninggalkan pesan suara, yang enggan kutengok. Hanya menyundut lebih banyak batang Pal Mal, menyesap asapnya tanpa suara, mengembuskannya. Dan begitu saja, aku menghabiskan pak ketiga. Aku tak pernah merokok sebanyak itu, paru-paruku protes, tapi aku hanya membuka satu per satu botol Barney’s persediaan Enzo dan menenggaknya banyak-banyak.

Tak ada cara lain selain menyelinap malam itu, berpura-pura tidur, kendati tak benar-benar bisa terpejam. Aku hanya menerawang para-para. Seyogianya tidak sesulit itu, ‘kan? Enzo bukan teman yang kepalang akrab, ia hanya menyerahkan Bic-nya, satu pak Brekeley, dan ia akan berbagi cerita tentang kedua orangtuanya serta rumah yang menjadi kudeta para pamannya.

“Tipton?” Dad memanggil ketika matahari sudah sepenggalah.

Pagi membuatku makin pengar. Bergelung di antara selimut, aku enggan masuk sekolah. Melompat pelajaran sepertinya lebih terdengar asyik. Tapi, niat itu urung lantaran Dad tidak mengungkit telepon-telepon keparat itu, ia hanya menyuruhku duduk di meja makan. Seperti kencan berdua di malam bisu.

“Kau baik-baik saja, Tip?” tanyanya.

Aku mengangguk, sengaja mengudap sarapan ala kontinental itu dengan begitu serius, hingga melewatkan adat silih tatap. Memotong petak-petak kecil untuk irisan bacon dan telur mata sapi.

“Mereka akan menggelar pemakaman di hari Kamis. Enzo. Pemuda itu, teman baikmu?”

“Tidak terlalu,” ujarku sembari mengunyah pelan-pelan. “Ia teman baik Earl, dan Rex, yang malam itu datang.” Terpaksa aku harus memasukkan nama-nama lain lantaran tak ingin Dad berpikiran kalau Tip, yang ia kenal, bercengkerama dengan pecandu.

“Kami tidak menemukan bukti lain selain kecurigaan pertama.” Ia menghela napas.

“Maksudmu bunuh diri?”

Dad mengangguk. Mengangsurkan gelas, aku bangkit, mengambil air dari keran di bak cuci. “Apa kalian menemukan bukti lain dari tim forensik?”

“Heroin, alat suntik, sendok, pemantik, dan pisau untuk menggurat nadi. Hanya dengan sidik jarinya. Ada keterangan lain, Nak?”

“Semacam kesaksian terpisah?” Seketika perutku mulas. Aku meletakkan pisau itu berkelontang di atas piring.

“Mungkin dengan begitu bisa membantu tim forensik. Kami menduganya, ia telah meninggal beberapa jam sebelum ditemukan. Tetangganya yang pertama kali menelepon.”

“Entahlah.” Aku terduduk dengan perasaan tercampur aduk, dengan kata-kata paling tenang, tapi dengan sejuta pemikiran, Enzo tak mungkin bunuh diri. Tidak semudah itu. “Kami pikir akan menjemputnya untuk bermain game di rumah Rex.”

“Bagaimana dengan orangtuanya?” Ia mengunyah potongan bacon terakhir, sementara jantungku tak mau berhenti melompat.

“Ayahnya meninggal ketika ia masih bayi, kalau aku tak salah dengar. Ibunya?” Bahuku mengedik.

“Boleh aku ke sekolah sekarang?”

Kali itu aku tak ingin berbohong terlalu banyak.

.

Hipotesis Earl berkeras pada teknik pemotongan nadi yang dilakukan di luar nalar Enzo, agaknya ia terbang ke petala langit ketujuh setelah menyuntikkan banyak-banyak dosis heronin di pembuluh; Rex menangkisnya dengan dengusan. Aku sependapat dengannya. Enzo bukan mati bunuh diri. Lantaran apa? Kami masih bersirobok di koridor kelas. Bersandar pada loker 176, loker yang harusnya dikunjungi Enzo di pagi pekan pertama, yang mana ia akan datang pagi hari, duduk dengan mata terpejam di kelas Mr. Humperdink, kelas Pertukangan kegemarannya. Berpikir tentang mengatur investigasi pribadi sepulang sekolah nanti, hingga Jim penghuni loker 177 menerobos kerumunan.

“Kalian harus ke auditorium sekarang,” ujarnya, menatap kami dalam fase berkabung.

Setelah pengumuman yang dikumandangkan lewat speaker pengeras, semua orang berkumpul memasuki ruang auditorium bertingkat. Aku datang belakangan, mengekori Earl dan Rex. Chip mengangkat tangan, memanggil kami untuk duduk berendeng.

Kepala sekolah kami menyampaikan eulogi dengan terbata-bata di atas podium. “Enzo sempat membuat para guru kewalahan. Dengan tingkah membolosnya. Dan pelanggaran-pelanggarannya hingga menjadi langganan di ruang detensi. Tapi, ia seorang murid yang hebat, satu di antara sejuta yang sulit kami lupakan.”

Omong kosong. Enzo tak pernah seterkenal itu. Si gaek Turman seharusnya memanggilnya dengan nama belakang kalau ia berbangga soal Enzo di sekolahnya.

Kerumunan dibubarkan setelah acara sesumbar selama setengah jam. Satu per satu, Mrs. Jones, Mr. Humperdink, dan para guru senior mengungkapkan belasungkawanya lewat mikrofon. Tengkukku kian meremang. Hanya semudah itu, dalam dua malam dan Enzo takkan ada lagi di kursi ottoman kebesarannya. Boleh aku merindukannya. Aku masih membayangkan malam-malam terakhirku dengannya. Dan sibuk membeberkan kalau kami sekadar berbagi cerita.

Aku memperhatikan para murid perempuan yang berdesakkan menuju pintu keluar.

Lantas, Janet terperenyak begitu saja di sisiku. Matanya begitu biru dengan rambut pirang sebahu. Sebagaimana kami berpakaian di sekolah, Janet berpakaian paling rapi tanpa cat kuku.

“Kau baik-baik saja, Tip?” Ia menepuk bahuku sekali; aku mengangguk kecil, separuh yakin dan tak yakin. “Aku sungguh prihatin,” lanjutnya.

Kedatangan Janet cukup membuatku terkejut, dengan kata-katanya, mungkin dengan kecantikannya yang terbiasa kuintip lewat kelir jendela, tapi tidak dengan ungkapan itu. Tidak begitu banyak yang tahu soal Enzo, tapi Janet tahu.

Aku berusaha tidak berteriak. Jatungku sesungguhnya berkebit, tapi aku berkata, “Aku tidak mengerti maksudmu.” Lagi-lagi aku berbohong.

“Aku tahu, kau sering main dengan Enzo. Pemuda itu. Yang berambut cokelat.” Ia memandang lurus ke bawah, tepat ke layar putih besar, yang memproyeksikan foto terakhir Enzo, berkardigan biru tua.

Janet sukses menangkap basah diriku.

Earl dan yang lain sudah meninggalkan kami berdua. “Aku melihatnya minggu lalu. Nyaris tiap malam,” lanjutnya.

“Apa maksudmu?” Aku perlu tahu, apa yang tengah Enzo lakukan di depan rumahku. Dan apakah orang itu memang Enzo? Aku menghela napas dan berusaha tenang.

“Aku tidak tahu apa yang ia lakukan. Sejujurnya, aku baru tahu, ia bernama Enzo. Ia memarkir mobilnya di depan rumahmu, tak melakukan apa-apa. Aku sempat ingin mengatakannya padamu. Tapi, kurasa, kalian memang kerap menghabiskan waktu bersama.”

“Semacam itu, kami bermain game sampai larut malam,” aku terpaksa bercericip kecil.

“Baiklah. Aku sedikit curiga dengan perangainya.”

“Ia orang yang baik.”

“Seperti yang dikatakan para guru.”

“Terlepas dari kesalahan-kesalahan konyolnya. Kau tak perlu khawatir.”

“Tentu saja. Sampai bertemu nanti, Tip.”

Aku menatap lurus-lurus, memperhatikan Enzo yang tersenyum bahagia; Janet menutup pintu ruang auditorium.

Luar biasa, Enzo. Ia sukses menghukumku dengan sekelumit barang bukti.

Hari itu aku urung membolos. Kendari Earl melompat pelajaran bersama Rex; Chip agaknya tidak benar-benar peduli. Tapi, kelas Mrs. Jones adalah sebuah petaka. Aku tak hentinya memikirkan kata-kata Janet. Ada dua hipotesis baru: orang yang dimaksud Janet adalah Enzo atau orang itu adalah seseorang yang dikenal Enzo.

Nilai partisipasiku nol besar dan Mrs. Jones memergokiku mencatat materi pra-kalkulusnya dengan kotak-kotak peluang. Sebuah fraktal ‘x’, yang kucoret berulang kali di kertas. Ada minggu yang mana Enzo memang bersamaku dan aku akan berhenti berkata, kami sekadar berbagi cerita. Aku kepalang ngeri jika Janet akan buka suara. Apa ia akan mengatakannya ke semua orang? Ke teman baiknya si penggosip itu, lalu Earl, lantas ayahku.

Tapi, nyatanya Enzo pun tidak mengatakan apa-apa tentang rencana malam kami minggu lalu.
;&nbsp
___________________
[1] diskotek ternama di Edinburgh, tepatnya di Calton Road
Cutting Veins, Pt. 2:https://unbrewedcoffee.wordpress.com/2015/07/29/cutting-veins-pt-2/