SEBAGAIMANA MALAM HARUS DIPERLAKUKAN.

Perdebatan kami adalah seputar loteng atas. Tentang malam-malam yang tak pernah surut. Dan bagaimana seharusnya malam-malam itu diperlakukan. Menggerataki linoleum; meramban lapel; lantas menemukan tempat bibir untuk berlabuh.

Dinding kasar menggasak utar di balik baju. Manik itu berwarna biru. Di dalam kamar gelap, aku mengenal sesuatu. Orasi sembilan puluh. Kala di mana puntung tak kunjung layu. Pemantik terus berujar, pun percik batu.

Orasi sembilan puluh. Seseorang memagut bibirku. Menggoyangkan pinggul seolah-olah akulah sesuatu yang baru. Menelusup di antara pintu. Dan menemukan kejang di antara speaker saru.

Tak mudah keluar dari lingkar polkadot sembilan puluh. Sebagaimana Marlboro tercucuh, seseorang perlu teringat akan satu. Sembilan puluh adalah AM alih-alih FM yang berkemendang tangga empat puluh. Terlalu banyak malam yang terkunyah tanpa tahu. Melilit tungkai; menari rancak; tanpa dentam yang padu.

Bergelimang kata tanpa melodi. Tanpa ekspresi Ibanez dan gebung drum eksperimental Selway. Perdebatan kami bukan sekadar ruang di loteng atas. Tapi tentang monyet-monyet keparat yang bergayut di pagu. Tentang malam-malam yang terlupa, dan sebagaimana malam harus diperlakukan.

Advertisements

LUCKY STRIKE.

Waterloo bisa jadi pusat paguyuban bar payah, tapi lain hal dengan Notting Hill di tengah malam. Setidaknya Danny lebih cerdik dari Glen. Tak memusingkan budget; tak perlu pembayaran muka untuk membuka meja. Bergayut di stool konter pun tidak masalah. Pesta bujangku tidak seperti Glen tahun lalu. Bahkan bar striptease pilihannya hanya diwarnai oleh pamer belahan dada. Aku tak lapor pada Mel yang pasti, alih-alih, berbisik semalaman di telinga Danny. Ia belum menjadi pemabuk seperti sekarang.

Kami memasang taruhan padanya untuk menggauli gelas bir kelima. Sudah dua jam, Danny masih terperenyak pada busa stool reyot itu.  Sol sneakers Glen bahkan tak tahan untuk mengetuk rancak di tengah lantai dansa. Dentam yang tadinya diwarnai synthesizer Calvin Harris, sudah berubah kopong seperti tarian kemayu Houston dan Costner[1] di The Bodyguard.

Sekembalinya Glen dari lantai dansa, ia boleh tidak percaya. Alih-alih, aku melihat Danny bercumbu dengan gelas ketujuh. Tandas licin hingga tak menyisakan ruap sedap di bibir gelas. Draft beer itu raib tanpa kabar berita.

Danny mulai berteriak kesetanan, menggebrak meja, meminta putaran ulang untuk three shot Vermouth lima belas menit lalu. Bukan pilihan cerdik, Jerry si Bartender pun sampai mengernyit. Sorry, ejaku tanpa bersuara, lantas menenggaknya sembari menyipit. Glen tak sadar kalau Danny telah melewati lini ekstasenya.

“Benar, bukan?” Alisku berjengit, sementara Danny si Tolol mendaratkan pantat sloki di atas konter.

“O, tidak, Mike. Yang benar saja? Nyaris lima puluh quid?” Glen mulai merogoh-rogoh saku belakang, mengangkat bokongnya tinggi-tinggi, seolah ia berharap meninggalkan dompetnya di atas nakas.

“Perjanjian tetap saja perjanjian, Mate.” Aku tersenyum culas, taruhan malam itu aku yang menang; Glen membayar tagihan bir. Rasakan!

“Mana ponselku?! Mana?!” pekik Danny sekonyong-konyong. Glen yang pertama melirik, tentu saja kami kenal perangai itu.

“Tenang, Mate.” Aku menepuk punggung yang tertelungkup itu.

“Percaya atau tidak, ia pasti akan berteriak soal ponsel dan Zig.” Glen tergial, melemparkan lembaran quid.

“Nah, begitu lebih baik,” ujarku, tanpa peduli tentang Danny. Aku menyelomot Dunhill ketiga malam itu. “Hey! Dan! Ingin pulang sekarang?” sahutku, menarik lapel leather jacket-nya dan mengepit rokok itu dengan sebelah tangan.

Danny memberontak. “Zig?!” pekiknya berang. Kakinya menggerataki linoleum beberapa kali, terpicing-picing mencari sesuatu. Ia menemukan ponselku yang menganggur di tepi konter, lantas mulai menelepon semua orang, sama seperti malam di bulan September ia menelepon hotline pemadam kebakaran.

“Dan! Shit! Bisa tolong kembalikan benda itu?” Aku menyesap lekas-lekas Dunhill yang baru kusulut, mengangsurkan tangan, menarik-narik manset jaketnya. Glen tertawa, meninggalkanku menuju pintu keluar. Keparat.

“Halo? Halo?” tanya Danny, tak mengacuhkanku, setelah menekan salah satu kontak di daftar panggilan instan. Ia mengekori Glen. Berduyun-duyun menerobos barikade tubuh berkeringat di depan sana.

Danny tak benar-benar menelepon seseorang di tengah ingar-bingar bar, ‘kan?

“Hei, tunggu aku!” sergahku, secepat kilat mengenakan duffle coat yang tersampir di punggung kursi. Berlari membelah tubuh-tubuh jangkung yang silih senggol mengikuti ritme stereo.

.

Notting Hill, pukul satu, aku melirik jarum arloji sebelum mendengar dengih napas Glen yang tertahan. Danny mabuk berat. Dan ia mulai berputar-putar di tengah jalan. “Ini ulahmu, Mate,” Glen menyenggol bahuku yang bersandar di payphone.

“Jadi bagaimana?”

“Bagaimana apanya?” sebutku, pura-pura bodoh.

“Kau atau aku?” tanyanya. Aku melirik ke samping, Glen masih mengepulkan asap di sela napasnya, lantas menyelipkan kedua tangan ke ceruk saku.

“Ini juga ulahmu, asal kautahu.”

“Tapi setidaknya aku yang menyeretnya keluar dari kanal malam itu.” Glen benar, aku yang membuatnya melompat tempo hari. Setelah ia keranjingan berputar-putar dan mengeluarkan isi perut, Zig menjadi jargon kegemarannya hingga hari ini. Zig itu, Zig ini, Zig yang diteleponnya semalam suntuk. Aku menyembunyikan berita gila itu bulan lalu, Zig ditemukan tewas setelah melompat dari jembatan Grand Union.

“O, please. Jangan menyangkutpautkannya dengan perihal kanal bulan lalu,” kilahku.

“Kau yang mengenalkannya pada Zig.”

Zig? Entahlah. Aku tak ingin membahas orang itu.

“Hei, Dan!”

“Glen!” ia tertawa kegirangan, yang benar saja, apa yang lucu. Tarian itu terlalu banal untuk diingat; Danny bergerak maju mundur seperti gerakan salsa kuno, mengeriapi tiang lampu. “Zig! Ke mana kau?!” pekiknya kuat-kuat.

“O, sial! Glen bisakah kau membungkam mulut besarnya? Apa ia pikir kita sedang berada di Piccadilly Circus sampai-sampai membutuhkan suara sebesar itu di pukul satu?”

“Salahmu, Mate,” ia melirik sinis ke arahku. “Dan, pulanglah bersama Mike!”

“Tidak masalah! Sampai jumpa, Glen!” ia mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi.

“Sialan kau.”

“Untuk malam terakhir, Mike. Sarah takkan marah padamu hanya karena mengantarkan teman baikmu ke kondonya.”

Aku terdiam cukup lama. Memainkan Clipper dengan sebelah tangan. Dunhill begitu menggiurkan untuk disulut keempat kalinya malam itu. Derap kaki Glen mungkin terdengar menjauh, untuk sejurus aku dapat melihat siluet itu, Danny yang menari-nari di bawah tiang lampu. Seperti sumbu lurus, menatah hidung bangirnya dan rambut rancungnya.

“Hei, Dan! Kita harus pulang sekarang!” aku berlari ke arahnya; merangkul bahu tegap itu dari belakang.

.

 

Rokokku kala itu bukan Dunhill, sempat beranjak dari Marlboro ke Lucky Strike, Harry—si penjual komik di seberang Sylvia Young—pikir itu terlalu banci. Tapi, Lucky Strike mungkin sesial pertemuanku dengan Danny O’Donald. Ia yang memergokiku pertama kali merokok di pekarangan belakang sekolah. Pria itu bukan pendiam, mungkin ia mengenakan blazer necis beremblem merah, berikut dengan vest-nya yang senada. Aku jelas punya satu, yang selalu biarkan tersampir di kapstok loker. Dan Ms. Darcy yang biasanya meneriakiku lewat konter resepsionisnya di ruang adiministrasi. Peduli setan. Aku bahkan sudah khatam dengan kata-kata itu: “blazer merupakan salah satu atribut sekolah, Michael. Kau harus bangga memakainya.”

Danny jarang berkata-kata di pelajaran sastra Mrs. Diggle, kendati kami duduk berdekatan. Kami dua orang yang berbeda. Berani bertaruh, Glen pasti langsung tertawa saat mengingat polahku yang dulu. Tetapi, pertemuanku dengan Danny yang sesungguhnya adalah melalui sebuah persaingan. Aku si Manager Jenius dan The Renegade yang beraliran nyaris black metal kontra Danny yang baru saja menandatangani kontrak, yang ia anggap keren, dengan sebuah band britpop yang bahkan aku tak dapat mengingat namanya. Lucu? Tentu saja. Juni itu aku bertaruh padanya, The Renegade akan mendapatkan tempat di Wireless Festival[2].

Band-mu payah,” ia kepalang membisiki kalimat takaburnya malam itu. Danny lagi-lagi memergokiku duduk di bench Hyde Park. Menyulut Lucky Strike yang coba kusembunyikan di balik jaket.

“Seperti band-mu keren saja.” Alisku menjungkit, tak mau kalah.

Band-ku memang keren,” sebutnya di sela-sela seruputan Mountain Dew. “Kami sudah menandatangani kontrak dengan Polydor.”

Shit. Aku menyumpahi dirinya kala itu dan memanggilnya dengan si Megalomania.

“Bagaimana dengan, Mate?” tanyanya, “Apa ada rokok di balik jaket itu?”

“Tidak,” sentakku. “Maksudku, tidak ada apa-apa. Kami baik-baik saja, Wireless Festival pasti akan menjadi milik kami.”

“Lucky Strike, huh?” Danny tak benar-benar mendengarkan sesumbarku.

“Tunggu, kau mencoba membelokkan pembicaraan?” Aku beranjak ketakutan. O, cukup dengan Harry, tidak untuk kedua kali seseorang mengataiku banci.

“Aku suka mencuri Lucky Strike milik Mom.”

“Mereka pikir rokok itu buat perempuan.”

“Tapi kau lebih perempuan dari perempuan.” Tawanya meledak.

“Maksudmu?”

“Kau menyulut rokok perempuan dan menyembunyikannya di balik jaketmu. Bukankah itu sangat perempuan?”

Tidak membantu. Kata-katanya bahkan membuatku berhenti menyesap hingga ke filter. Entah mengapa lidahku seperti getas dengan sendirinya. Tidak ada sindiran, tidak ada telinga pura-pura tuli yang kerap disinggung Ms. Darcy.

Band-mu payah, Mike. Tapi kau tidak sepayah itu.”

“Aku tidak payah. Aku manager yang luar biasa jenius,” pembelaan terakhir terasa pelik, “aku, aku bisa saja membantu band-mu di lain waktu.”

Ia terbahak. Entah apa yang dianggapnya lucu. Kaki jangkungnya mulai bersilang di atas sebelah kaki lainnya. Kain denim yang membungkus tungkainya membuatnya nampak seperti seorang vokalis, posisi yang sungguh ditekuninya semenjak tingkat satu. Diam-diam aku memperhatikan Danny, lewat kisi-kisi jendela ruang latihan, mengintip kagum, sekaligus benci dengan sikap agulnya.

“Aku tak perlu dirimu sebagai manager, Mike.”

“Entahlah. Siapa tahu kau perlu?” Kedua bahuku terlanjur mengedik, sembari menggelengkan kepala sesekali. Momen ini terasa pilon di benakku. Mengapa aku terjebak dengan omongan Danny O’Donland. Seantero sekolah tahu, ia hanya akan menyemburkan bisa itu dari mulutnya.

“Aku perlu kau sebagai seorang gitaris.”

Sompral, umpatku dalam hati. Tak terhitung lagi jumlah kerutan di dahiku malam itu. Yang pasti aku yang terbahak paling keras. Lebih nyaring dari tawa Danny sebelumnya.

.

 

Sengit tembakau baru saja bercampur dengan tengik Vermouth yang menggelontori aspal. Danny memuntahkan isi perutnya dua kali. Ia pengar bukan main sekarang. Berdiri limbung, sembari berpegangan sebelah tangan. “Mike, lihat itu!” pekiknya kegirangan. Aku tersenyum sekaligus jijik. Demi janggut Merlin, seseorang mencoba untuk mempertontonkan sisa menu makan malamnya kepadaku.

“Hentikan, Dan.” Aku menjenggut sembiran lapelnya, menyerahkan sebotol air mineral. “Minum ini. Aku harap pengarnya cepat hilang.”

Thanks.” Ia mengelap noda di sudut bibir dengan punggung tangan. “Kau ingat tempat ini?” Matanya terlihat sayu. Tapi, aku tidak pernah bisa melupakan trotoar rompal itu. Bukan Hyde Park atau Kensington, tempat di mana bangku taman yang kerap ia jajah di sampingku. Aku masih melihat sosok Danny O’Donald yang gemilang di ujung jalan, tepat di bawah sebuah kanopi mini-market 24 jam. Pertama kalinya, Danny menunjukkan identitas palsunya kepada sang kasir, gadis berkuncir dua yang tidak lebih pintar seekor keledai. Tidak ada The Renegade dan Mike, aku kalah telak. Wireless Festival tidak mencantumkan The Renegade ke dalam list pendatang barunya, pun dengan band britpop yang Danny banggakan.

Alih-alih, untuk kemenangan band baru kami—The Grits ‘bubur jagung’. Nama konyol itu ciptaan Danny, saat ia melihat Glen yang menyembul di pintu ruang audisi dan memanggilnya si Kepala Jagung.

“Kau tak benar-benar ingin mengganti botol itu dengan Carlsberg, ‘kan?” kelakarku. Danny masih terbungkuk-bungkuk, memegangi perut. Tawanya lebar. Asap dengan begitu cepat membubung naik. Tersembur dari ceruk bibirnya.

“Kau mendoakanku agar cepat mati ya?”

“Hanya bercanda, Mate,” keluhku, mengembuskan lebih banyak asap.

Danny tak balas terkekeh. Ia menatapku dalam-dalam. “Aku serius, Mike.” Ia merangkulku dengan sebelah tangan, merebut Dunhill yang terkepit di jemariku, menyesapnya dalam-dalam, lantas mehunjamkannya ke bawah.

“Tidak ada yang menginginkan kematianmu, Dan,” aku berkata dengan pelan. Kakiku nyaris terjengkang, menyamakan pijakan dengan langkah linglungnya. Jantungku berdegup tak keruan. Aku tahu kanal yang menunggu beberapa meter di depan kami. Tapi, tidak sampai kaki-kaki jenjang Danny berlari.

“Dan! Tunggu! Keparat! Hei!” umpatan itu meluncur beruntun. Ia lebih cepat dari perkiraanku. Melompat lincah ke balik birai.

“Dan? Okay. Aku tak ingin mengulangi insiden itu. Mengerti? Cukup dengan Zig. Cukup dengan omong kosongnya.”

Danny menolak berkata-kata. Ia menjadi jenjam seketika. Menatap kuyu gelombang air di tengah kanal. Tiang lampu menyapu separuh wajahnya. Sejurus yang kutangkap hanyalah Danny O’Donald di kelas sastra. Seseorang yang kucuri pandang di tengah penjelasan Mrs. Diggle.

“Dan?”

Napasnya memburu. Kepulan asap begitu cepat memburai. Aku merapatkan celah jaket. “Ini bodoh.”

“Ziiiig!” pekiknya di tengah sana. “Ziiiig!” ia mengulangi nama itu nyaring-nyaring. Suara anjing serta-merta menyalak di penghujung Harrow Road.

Aku mendengus. “Dan, aku harus mengantarmu pulang sekarang.”

“Tidak sampai kau berdiri di sampingku, Mike.” Bibirnya menjungkit naik.

“Tidak. Itu konyol.”

“Konyol kalau kau membiarkan sahabatmu melompat seorang diri.”

“Tidak ada acara melompat ke dalam kanal untuk kedua kali.”

Danny menarik manset lenganku dengan paksa. “Dan?!” Gigiku menggertak kesal.

“Sekali ini saja, Mike. Kau—” ia tak melanjutkan kata-kata itu, hanya saja aku tahu, apa yang tertangguh di pelipir lidahnya. Buru-buru aku menaiki birai besi itu, berdiri dengan hati-hati, menapaki sembiran jembatan.

“Ini sinting,” singgungku, sembari memutar badan.

“Ini menyenangkan!” pekik Danny. Ia duduk di atas birai dengan begitu santai. Aku tak menanggapi Danny. Ada kala aku begitu iri padanya. Kala ia membaca buku Kerouac[3] di perpustakaan sekolah, caranya menyilangkan kaki. Ia bahkan melakukan tabiat itu di atas birai jembatan. Danny yang kukenal selalu saja yang penuh dengan takabur dan percaya diri.

“Kau harus mencoba duduk di atas sini, Mike.”

Aku duduk di sampingnya. Ini buang-buang waktu. Untuk mengulur sesuatu yang seharusnya kuakhiri dengan lekas.

“Aku hanya berharap waktu berhenti kala ini dan melompat bersamamu ke dalam sana.” Ia memandangku lebih lama, tersenyum pilu. “Tidak untuk menyusul Zig.” Tangan dinginnya merangsek ke balik manset jaketku. Menggenggam buku-buku jari yang nyaris membeku.

“Dan …” aku tak sanggup berkata-kata. “Dan …”

Ia melepaskan sebelah tanganku dan mulai memanjat hingga ke birai tertinggi yang tadi didudukinya. “Dan! Hentikan.” Lekas-lekas aku menarik jemarinya. “Duduk. Shit! Aku tidak berseloroh.”

“Satu. Dua.” Ia menahan napas; aku menarik jemarinya sekuat tenaga. “Tiga!” Di kala itu aku menutup mata. Danny mungkin saja sinting. Tapi ia tak pernah menutup mata; matanya nyalang. Berpendar kala ia memegang mic andalannya. Kala ia mengejekku si Banci. Dan kala ia melompat demi nama Zig.

Bunyi itu bukan kecipak air, alih-alih bedebum nyaring dibarengi rasa nyeri. Bokongku baru saja mencium tanah. Danny mengikik seorang diri. Ia membiarkan tubuhnya terjengkang.

“Kau baik-baik saja, Mike?” tanyanya, menemukan diriku yang tengah disorientasi. Dengan pandangan tersipit-sipit, aku tahu, kepalaku berada di pangkuannya. Ia terbahak nyaring, sesekali tersedak liur. Tapi, aku masih geming, memerhatikan maniknya yang berwarna cokelat. Secokelat tombol latte, yang ia tekan di vending machine, senja itu.

.

 
Merah berganti biru. Di bulan dua belas kami melempar toga itu tinggi-tinggi ke angkasa. Danny mendaftar ke Berklee; aku ke UCL; Glen menembus jajaran orang-orang tolol sedunia dan membuat gebrakan di telundakan tangga Cambridge. Ia yakin, kelak menjadi seorang seniman sekelas Freddie Mercury dan mencuri perhatian Melanie McGreggor, siswi pindahan dari Massachusetts.

Kami tak pernah membicarakan itu sebelumnya. Siapa dengan siapa? Seperti gunjingan di Sylvia Young dulu. Aku yang paling diam mengenai itu. O, tebak saja siapa yang ingin bersama denganku, yang sudah menjadi langganan tetap ruang detensi. Lagi pula Danny selalu masyuk dengan piano sengaunya; mengejekku dengan sebuatan Banci yang tak pernah lekang sedari tingkat satu—alih-alih, merampok Lucky Strike persediaanku. Dalam seminggu kami tak lagi saling jumpa di tengah petang, menduduki tempat peraduan di pinggir Kensington. Area itu menjadi episode kopong di akhir minggu. Hingga pertama kalinya seorang Glen, yang berkepala jagung itu, benar-benar membawa Mel, terperenyak di sisinya.

Aku nyaris menelan puntung rokok terakhirku; Danny terjengkang kala duduk di pelipir bench.

“Hai, semua, aku Mel,” ucapnya, mengulurkan tangan ke arahku. Mel bermata biru, dengan senyum rikuh yang tersembul di pematang bibir. Gaya berpakaiannya sangat bohemian. Aku ingat suara lembutnya, tapi entah apa yang menyihir Danny untuk bersikap acuh tak acuh; mengangkat separuh kakinya dan membelakangi kami.

“Kau tidak kesepian di sana, Dan?” singgung Glen sesekali, tapi nampaknya, ia kepalang khuyusuk dengan buntalan “On The Road” yang dipinjamnya dari perpustakaan kampus.

Bibirku gatal. Setiap kali ia memandang novel itu, sesuatu terbersit di otakku. Danny mungkin terobsesi dengan Kerouac. Alih-alih, tak mungkin polahnya bersandi Dean Moriarty[4]. Tak ada kanabis di saku jaketnya, aku tak pernah menemukan kontak seorang perempuan di ponselnya, kecuali Amy, pemilik kondo sewaannya yang nyinyir mengenai pembayaran bulanan.

Danny seolah tak punya alasan. Ia memilih raib, membuatku terjaga dan bertanya mengenai hal-hal banal mengenai dirinya. Glen pernah bertanya padaku, apa ada yang salah dengan Mel sampai-sampai ia menyumpahinya dalam diam?

Dan tebak, Danny menjawab pertanyaan itu sambil buang kencing. Membiarkan kecipak air yang mencium dasar jamban menggema di telingaku.

“Kau tahu, kencing, Mike?” Ia terkekeh kecil; aku dapat mencium bau Nicorette bercampur tajam busa draft beer yang baru disesapnya. “Mereka hanya memenuhi kantung kemihku.”

“Hentikan omong kosongmu, Dan. Kau mabuk.”

“Aku baik-baik saja.” Tawanya meletup-letup, menutup ritsleting dengan sebelah tangan. Decakan Nicorette di lidahnya membuatku gila.

“Dan!” pekikku, mendorong tubuhnya, terjajar tegel kamar mandi. Napas Danny terkesiap sejurus; ia mendengus geli.

“Kau ingin apa, Mike? Ingin marah padaku?”

Sebaliknya, napasku masih memburu. Entah apa yang kutagih kala itu, sembilu terlanjur tertancap di dadanya, dan cengkeraman tanganku sekadar kopong belaka.

“Biarkan aku sendiri. Seperti yang seharusnya, bukan?” ia menekur menatap limpasan air di bawah kaki.

“Tidak, Dan.”

“Tidak?!” Giginya tersembul separuh, “Jadi kau ingin menemaniku?” Ia mendekatkan wajah itu lekat-lekat. Aku bisa melihat pori-pori di sekitar cambangnya. Mandibula itu tertatah sempurna. Cengkeramanku mengendur. Hanya ada desah napas kami berdua dan tiba-tiba saja Danny melahap bibirku. Mengangkat jemarinya yang rikuh, ia menautkannya satu per satu; mengeriapi jemariku.

Aku tak pernah bertanya kepada Danny tentang peristiwa itu, kami bercumbu, meramaikan bilik tengah toilet bar langganannya. Ia melucuti bajuku, sedang aku buru-buru merundung miliknya yang berada di bawah sana. Lucky Strike tak lagi kusesap sendiri, Danny mengunjungiku setiap hari, bench Kensington selalu membuatnya menulis lebih banyak lirik tentang kanabis dan afrodisiak.

Tak seorang pun tahu rahasia itu. Kukunci rapat-rapat lidahku dengan lidah Dan. Sebagaimana lidahnya bermain, Danny selalu se-hippie biasanya, ia menjeritkan kemaluannya keras-keras.

“Tak salah untuk menjadi berbeda, Mike,” sebut Danny, ia masih berada di atasku siang ke-seratus-sekian-sejak-kami-bersama; menggauli naik-turun dengan ritme yang ditirunya dari Frankly, Mr. Shankly milik The Smiths, membuatku tertawa dengan lawasnya. Kami menutup kelir rapat-rapat. Membungkam bibir dengan umpatan-umpatan pilon yang dibisikkan. Danny tak ingin tetangganya mengeluh lantaran suara derit ranjang berkepanjangan.

“Tutup mulutmu, Dan.”

“Seolah aku tak punya hak untuk bilang begitu? Ganti rokokmu dengan yang lain, Mike. Pal Mal, mungkin? Lucky Strike membuatmu menjadi banci sejati.”

Aku membersut, mendorong tubuhnya jauh-jauh.

“Hei!” pekiknya kesal, mengenakkan shirt putihnya yang bertemperasan di lantai. Kamar Danny porak-poranda. Aku masih terbaring dengan mata memejam sejurus, memandang para-para. Ini gila, aku mencoba memantrai diri berulang kali.

“Kau harus bangga untuk berbeda, Mike.”

“Simpan ucapan itu untuk dirimu, Dan,” tandasku, kesal.

“Aku berani mengatakannya pada dunia. Apa aku perlu membuka jendela dan merutuki tentang perbedaan itu sekarang?” Bibirnya masih menganga—aku tahu, Danny pasti akan segera melakukan itu, ia baru saja melandaskan langkah pertama menuju jendela samping; lekas-lekas aku menariknya.

“Sama sekali tidak lucu, Dan!”

“Kaukira aku hanya berpura-pura? Buka matamu—”

“—tak bisakah kau berhenti bicara? Aku benci dengan usulan itu. Aku baik-baik saja denganmu,” ucapku pelan; Danny mau tak mau menarik tubuhku ke dalam peluknya, menindis pucuk kepala dengan dagunya.

“Maafkan aku,” ia mengelus pipiku beberapa kali. Kata “maaf” itu bukan untuk adu mulut barusan. Danny tak pernah bisa bersamaku, ia milik Zig, milik Miguel—yang baru ditemuinya pekan kemarin di Soho, juga milik semua orang. “Aku ingin kau menemukan kebebasan untuk berbicara.”

Aku melihat mata teduh Danny, ia ingin aku percaya, bahwa status itu tak semenakutkan yang kubayangkan. Tapi, jatungku berdegup. Dengan napas yang tersengal satu-satu, aku melempar tubuhku ke atas kasur begitu saja, tanpa memakai celana, hanya dengan satu raupan dan clipper di tangan satunya; aku mencucuh Lucky Strike kelima. Asbak sudah meruap. Tak ada kesempatan untuk mengurai napas, hawa yang bisa kuendus sekadar nikotin dan keringat.

“Kau berbicara tentang kebebasan, Dan, sedang aku berbicara tentang kau yang tak punya komitmen.”

“Kau tak bisa terus-terusan menyimpan semua itu di balik lidahmu.” Ia mengintip ke balik kelir, tak mengacuhkan kata-kataku.

“Dan kau tak bisa selamanya mengumbar batang pelirmu kepada semua orang!”

Mata Danny nyalang. Biar kubuktikan padanya, aku bukan pengecut, Lucky Strike mungkin mengutukku untuk menjadi banci tapi tidak di hadapannya. Tungkai-tungkai itu berderap nyaring, seolah hendak meruntuhkan linoleum. Danny benar-benar berang; aku menyesal telah mengumpat nyaring.

“Apa yang ingin kau lakukan?” aku berkata lekas, bermaksud menyembunyikan getaran itu.

“Diam!” Danny mendorong tubuhku; aku terjengkang, abu rokok berhambur, Lucky Strike terpelecat begitu saja, bergulir di atas bantal. Ia menaiki punggungku.

“Dan!”

Danny tak pernah menjawab, ia menggauliku dengan keras untuk terakhir kalinya. Dengan air mata yang tercucur; mukus yang mengalir; kucengkeram sarung bantalnya dengan buku jemari. The Grits sekadar legenda Kensington semenjak itu. Danny menolak bicara, pun diriku yang selalu menghindar. Glen mempertanyakan stage dan showcase kami yang dicanangkan setelah merampungi album pertama. Tak ada kontrak dengan Polydor. Semua itu sekadar elegi gila yang kukubur tanpa seorang pun tahu.

 

.

Danny masih berusaha menyeret langkah beratnya ke telundakan bawah. Aku di sampingnya, memegang lengan berbalut jaket itu dengan kedua tangan. “Hati-hati,” semburku, gusar. Danny memang gemar mencari sensasi, lupa kalau ia baru saja mempertontonkan sisa menu makan malamnya padaku.

Lingkaran merah bermaktub “underground” baru kami lewati. Tinggal satu langkah komplementer, Danny terpincang-pincang mengekoriku memasuki gerbong. Jajaran kursi yang menyamping lengang di pukul dua. Tak terasa jalan-jalan tolol barusan menghabiskan satu jam untuk sampai ke rute yang tepat.

“Hei, Dan. Bagaimana kalau kau duduk di sini?” tanyaku, menuntunya menghampiri banjaran bangku penumpang.

Danny tidak menyahut. Yang ia tahu hanya terpenyak, jatuh menyamping, dan pahaku buru-buru menahan kepalanya agar tak terantuk permukaan bangku.

Geez,” aku mendengus. Hanya ada kami berdua di sana, layanan underground berlayar 24 jam tanpa mengangkut penumpang lain. Ditemani sambungan kerai kuning yang meringking. Ada melihat refleksiku di jendela depan, melewati plang Stasiun Holborn di dinding bata.

Aku menatap wajah Danny, ia mengerling ke arahku dengan tatapan sayu. “Hei, mate. Kita bertemu lagi.”

“Iya, tentu saja,” ujarku, menyapu pelipisnya yang dibanjiri peluh. Entah apa yang terjadi padaku, seolah etape lima tahun kala kami tak saling sapa, lesap begitu saja. Danny berhenti bicara sejurus. Ia tersenyum padaku, mengingatkanku akan senyumnya yang terdahulu, bagaimana siluetnya yang tegas tertimpa cahaya di balik kelir.

“Terima kasih telah mengantarku pulang.”

Aku mencium dahinya sekali. “Sama-sama.”

“Maafkan aku, Mike. Kau yang pertama membuatku mengucapkan itu dulu.”

Tatapanku terlempar ke depan. Aku takut mengaku, di malam bujangku, aku terlalu gamang untuk berbicara banyak dengan Danny. Duduk di kursi yang seyogianya kududuki bersama Sarah, calon istriku, dengan kepala silih tindis di bahu. Bukan dengan seorang Danny O’Donald yang mati-matian kulupakan.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Dan.”

Aku mengulum ludah, memaksakan senyum. Seolah tak ada yang luput dari benak Danny, ia mengingat semuanya; musim bisu setelah kami bercinta sepanjang senja. Ia tak mengatakan apapun padaku, aku pun raib begitu saja.

Ia mengenggam tanganku.

“Jangan berbohong, Mike. Kau bodoh soal itu.”

Danny benar. Di hadapannya, aku selalu ditelanjangi. Sebagaimana beranimonya diriku mencumbui Sarah, bayangan Danny selalu berkelebat di dalam sana. Di sebuah petak yang kupikir, aku sudah melupakannya, tapi nyatanya, Mike si Banci memang selamanya seorang pecundang.

“Tapi, setidaknya kau menemukan seseorang yang selalu melihat kepintaranmu, kan?” Danny menyambung perkataannya dengan santai.

“Jangan berkata yang tidak-tidak, Dan. Kau mabuk berat.”

“Aku tidak bohong, Mike. Kau beruntung mendapatkan Sarah.” Danny tak pernah tercekat mengatakan nama itu, tidak seperti saat aku memergokinya bersama Zig dan memperkenalkan namaku pada pemuda itu.

Danny merogoh saku belakangnya dengan susah payah. Bungkus itu lisut parah. Putih dengan garis merah.

“Ingin satu?” ia mengangsurkannya padaku.

“Kupikir, kita tak boleh merokok di dalam gerbong.” Aku mencoba bersandar, menangapi ide sintingnya.

“Peduli setan, Banci. Pukul dua dan kaupikir polisi patroli akan memergoki kita di sini?”

Aku meringis. Menarik satu batang dari bungkus Lucky Strike itu.

“Untuk para banci!” pekik Danny. Aku membantunya menyelomoti puntung pertama dengan batu api, lantas mencucuh punyaku sendiri. “Selamat menempuh hidup baru, Mike!”

Danny menyemburkan asap banyak-banyak dan mengecup bibirku.

_______________________________

[1] Whitney Houston dan Kevin Costner, dua pemeran utama dalam film The Bodyguard
[2] sebuah festival musik anual yang digelar di London; 2005-2012 Wireless Festival digelar di Hyde Park, London
[3] John Kerouac; seorang novelis asal Amerika yang terkenal dengan tulisannya, On The Road. Kerouac merupakan salah satu pendiri Beat Generation. Tulisannya banyak membahas tentang perjalanan, unsure hippie dan narkotika.
[4] salah satu karakter utama dalam On The Road (Jack Kerouac, 1957) yang menjalani gaya hidup hippie, mencintai kanabis dan seks.

A/N: Diawali dengan The Script, pun ditutup dengan The Script. Mungkin ada yang bertanya, kenapa Lucky Strike? Lucky Strike adalah sebuah celah yang saya pelajari dengan target pasar yang rata-rata seorang wanita. Tapi, Lucky Strike tak mengajari kita agar menjadi banci. Diawali dengan Danny, saya mencoba mengambil namanya dan mengubah sosok tersebut menjadi seorang Kurt dari Nirvana. Mengompliasinya dengan Ziggy Stardust milik Bowie. Memang terdengar mustahil. Kendati demikian, untuk terakhir kalinya, saya meyakinkan sosok Sal dan Dean dari On The Road untuk ikut terlibat di dalamnya. Lagi-lagi semua ini karena The Script.

ABI.

Aku yang mencintainya terlebih dulu. Seperti ia mencintai kretek yang terkepit di antara dua jemari. Berharap mencicipi bibirnya, bagai ia memagut hilirnya dengan desah napas tertahan. Menari rancak di hadapan kedua matanya, laksana untaian asap yang berdesir.

Malam itu terlalu gelap untuk berbincang. Segelap kulitnya yang sawo matang. Kami duduk bersisian. Memperhatikan gelas-gelas kaca yang berendeng. Lucu. Menertawakan diri. Bertelekan siku sembari melempar senyum.

Gigi itu sudah kuperhatikan barang semenit lalu. Putih tak bersilap duka, menabrak cangkir kopi ketiga alih-alih bibir botol kaca. Kemeja biru khalis tanpa noda. Namanya Abi. A sebagai akronim Arjuna, lantas otot-otot yang menonjol di lengan tembaga itu adalah milik Bima. Abi baru saja memukauku dengan caranya; dengan cerkas matanya, pun ekor bibirnya yang terjenggut cuar. Ia berbeda. Dari sudut mata dan kulit yang mencoraki kesepuluh jemarinya. Ada yang membuat giginya nampak kontras, tak seperti diriku.

Aku mungkin mencintainya terlebih dulu; ia kepalang membenci diriku. Jejap pada cara dudukku yang menyilangkan separuh kaki. Mengetup-ngetup lantai linoleum dengan nada-nada sumbang menandak. Sinkopasi itu bukan milik Adhitia Sofyan, pun gitar akustiknya; nada itu milikku. Biar saja sumbang, toh Abi meliriknya, ‘kan?

Ia jatuh hati pada kakiku. Aku yakin itu. Tetapi, ia benci diriku yang bermata sipit. Berkulit kuning langsat. Dan berbau hiu alih-alih parfum kelas satu.

Sudah tiga kali aku membasuh diri, bau itu tak kunjung raib. Dari ujung helai rema, memang aku tak dapat menipu, karena aku sudah sebegitu dibenci oleh dirinya. Tapi, aku kembali pada malam saat kami menatap satu sama lain, berkontemplasi mengenai identitas dan harkat; sepatu hingga tudung kepala; riasan atau pun gamis.

Aku akan selalu menjadi yang mencintainya terlebih dulu. Memadu perbedaan. Pun menyadari kesamaan. Bahwa kami sama-sama mencintai, kendati silih membenci.

SELASA.

Tak jenak dengan sebuah gigitan kecil, Okta baru saja membuat marka besar yang menyigar belahan belakang. Kruk, kruk, kruk. Diimbuh sedikit decakan. Bibirnya belepotan mentega dan saus sambal. Lidahnya yang sesekali dijulurkan. Dengan butiran kuning-jingga yang menghujani kakinya yang diayom denim gelap. Kala itu mungkin jagung bakarnya telah tandas separuh. Tongkol kedua dari empat yang tengah tergoler di atas piring.

“Rin, ngapain sih nontonin gue?” Okta yang gusar lekas-lekas menurunkan pangkuan kaki.

Itu memang gayanya; kalau tengah grogi, lebih tepatnya. Dan aku tahu bagaimana lagam-lenggok itu akan berlanjut. Menyugar rambut dengan sebelah tangan, lantas menggosok-gosok telapaknya—setelah sebelumnya ia meletakkan tongkol geripis itu, menjungkit di pelipir piring.

“Ada apa sih, Ta?” Aku ikut meletakkan tongkol yang utuh itu di samping miliknya.

“Maksud lu?” Okta baru saja membesut bibirnya dengan tisu. Menutul tipis ceruknya, lantas membiarkan lembar itu beronggok di sisi kudapan roti bakar.

Masih berlagak bego lagi, umpatku dalam hati. “Semua ini.” Aku menarik napas panjang.

“Bukannya ini ritual kita?” Rupanya ia baru saja me-restock alasan-alasan jitu itu di dahi.

“Tapi ini Selasa.” Sayang, aku punya alasan yang lebih baik.

“Memang kenapa kalau Selasa?”

“Bukan seharusnya Sabtu?”

“Sabtu terlalu bising.” Okta ada benarnya. Tidak ada ritual makan jagung bakar berdua di depan Simpang Raya kala malam Minggu. Alih-alih, kongkow-kongkow mahasiswa dari lereng Dago Atas, lengkap dengan derai tawa, tepuk santer, dan kikik yang memekakkan timpani.

“Satu-kosong?” Kali ini ia yang menimpali duluan.

“Nyebelin.” Bibirku mengerucut kecil.

“Eh, dua lawan kosong ding.” Cengiran itu selalu saja menjadi tedengnya. Tubuhnya bersendeng ke depan; aku dapat mencium bau cengkih yang menguar. Satu kali sebelum menaiki jok pengemudi, bersandar di pintu Pajero Sport-nya, ia merokok dengan nikmat, menungguku keluar dan mengunci birai depan.

“Makasih buat sogokannya.” Aku terjajar mundur; membenarkan letak duduk dan menyilangkan kaki; Okta mengeluarkan kotak Marlboro andalannya dari saku belakang.

“Bang, ada korek gak?” tanyanya ke arah gerobak di belakang kami. Kakinya berlari kecil, sementara aku masih rambang tentang Selasa pelik barusan. Hari kedua yang seyogianya kala yang tepat untuk mencorat-coret bloknot sembari mendengarkan dendang tawanya di layar teve. Alih-alih, ia muncul, mengangsurkanku plastik biru berisikan “The Metamorphosis” milik Franz Kafka di muka rumah.

“Eh, melamun aja!” Selalu saja Okta yang pertama mengujar. Kala bibirku mengatup dan menatap ke ruas jalan sembari mengencangkan genggaman pada tangkai jagung bakar; aku pikir tangkai itu akan terjun bebas.

“Enggak kok.” Aku berusaha menyembunyikan degup jantungku.

“Belakangan ini lu bengong terus deh, Rin.” Asap sudah berjulai, berlenggok rancak di antara kami.

“Gue lagi mikirin ide cerita—buat cerpen terbaru,” bualan itu menyembur lekas. “Lagian lu juga agak aneh belakangan ini. Milih tempat yang gak biasanya.”

Ha! Kena dia.

“Ini kayak biasanya kok.” Okta sama sekali tidak gugup. Sialan. Ia hanya menyesap rokok di sela jemarinya dengan perlahan. Membiarkan baranya meletik-letik, disapu angin malam.

“Gak ada live music, Okta. Atau setidaknya stereo yang 24/7 diisi sinkopasi jazz Griffith Frank gitu?” Kedua bahuku ikut mengedik. “Dan juga hari Selasa.”

“Ngotot banget sih, Rin. Harus ada alasan ya kenapa Selasa?” Aku benci nada bicaranya, seolah-olah tidak ada yang salah dengan hari Selasa.

“Jelas dong. Kan bukannya lu harus syuting?”

Kali ini ia melempar tatapan itu jauh; melampaui sempadan trotoar. “Gue baru aja narik kontrak, Rin.” Kantung mata itu tak nampak kuyu, suara seraknya hanya terdengar statis, melesat dalam kecepatan cahaya, lantas membuatku melempar tatapan kaget.

“Lu bercanda?”

“Dini ngajak gue kawin,” ia bicara tanpa menatapku, menyemburkan asap ketiganya dari celah bibirnya. “Dia pengin gue selalu ada buat dia.”

Aku diam. Ingin berujar, ‘selamat ya’? Sejurus lidahku kelu. Ingin berprihatin? Itu gagasan terpilon yang bakal ditertawai olehnya. Kenapa harus prihatin? Bukannya  memang itu yang selalu diharapkan Okta?

Tapi, bagimana dengan aku?

“Selamat ya, Ta.” Akhirnya kata itu lepas landas dengan sendirinya. Disambut mata lelahnya, sekaligus asap yang membuhul kami berdua. Agaknya aku salah bicara. Sekejap kata “selamat”-ku meresidu kebisingan. Entahlah. Ia bingung mau menanggapi oborolan kopong ini dengan seringai macam apa; dibuat-buat? Jenaka? Tapi ia tak nampak sebahagia itu.

“Rin?” Tiba-tiba saja ia menjentikkan abu itu di pinggir kursi plastiknya. Okta buru-buru mengajak keempat tungkai doyong itu merapat. Kerikil yang silih berjibaku, bergulir menghampiri sneakers-ku. Aku menunduk dan merasa lucu, hingga mata kami bersirobok dan mulutnya ingin memberitahuku tentang sesuatu.

“Lu suka Raka?” Pertanyaan itu membuat dadaku mencelus, enggan menatap manik matanya. Alih-alih, memperhatikan ritme lututnya yang bertolak turun naik dari aspal pelataran jalan.

“Gue gak tau, Ta. Raka salah satu klien gue. Kami cuma sebatas itu.” Tangannya menangkup tanganku. Rangkulan pepat yang selalu membuatku ingin mencengkeram jemarinya lebih lama.

“Gue berharap lu dapet temen baru selain gue, Rin,” bisiknya. Aku termangu seketika; suara Okta terdengar pilu. “Yang bisa nemenin lu buat ritual tiap Sabtu.” Senyumnya menyembul, tapi aku melihat buku-buku jemarinya mencengkeram pelisir denim

“Kan ada Egi?” Dengan bodohnya aku mencoba menyelinapkan nada jenaka itu di antaranya.

“Jangan pura-pura gak tau, Rin.” Elusan itu berhenti di punggung tanganku. “Egi ada proyek di Singapura. Dia bahkan cuma pulang sebulan sekali.” Percuma aku menyembunyikan tatapan itu pada trembesi di seberang jalan. Okta tahu, sama seperti aku tahu segala hal tentang dirinya, tentang semiotiknya yang selalu terbaca, begitu juga dengan tangannya yang tiba-tiba merengkuhku dalam pelukannya.

Dekapan yang selalu berakhir dengan kata enigmatik ciptaannya; sebuah hubungan tak terdeskripsi di antara kami yang enggan Okta petakan ke dalam kata, tapi mungkin “sahabat” adalah kata yang selalu membuatku tersesat.

Tersesat di antara rangkulan, pun dekapannya yang membuatku berharap akan mengayomiku untuk selamanya.

KURSI AYUN.

Tanah nampak becek sepagian. Dengan limpasan air yang menggenang di sekujur lapangan, laki-laki itu tetap membiarkan jungur kedsnya direndam lumpur. Ada bunyi menjijikkan kala pijakan solnya melayah rendah, mencium sisa air hujan. Mengingat perawakan kacaunya di tingkat satu; bungkuk dengan sigar rambut seperti tirai jendela, sorot mata nyaris terpejam, dan hidung bangir yang memerah seperti Rudolph si Rusa Natal. Tapi laki-laki itu bukan Rudolph, bahkan namanya pun kerap diapkirkan pada senarai absen kelas.

Ujar saja Snorty. Snort seperti kala ia membersitkan ingusnya yang sesekali belepotan pada masa orientasi dulu. Duduk dengan gaya hunchback, menggerakan tungkai kurusnya ke depan-belakang, dan sengaja membuat orkestra pada kerai set ayunan di pekarangan belakang sekolah.

Siang itu mungkin terlalu silam untuk diingat, tapi ia sungguh penemu tunggal tempat ayunan reyot itu didirikan; tempat yang agaknya tak ada dalam brosur Cedar Shoals—satu-satunya pojok terkeren di Anthens.

Merogoh saku anorak Converse-nya, Snorty mengeluarkan satu kotak American Spirit yang baru ia beli di kios pompa bensin. Tidak ada yang lebih membosankan ketimbang menikmati ocehan konyol di aula utama. Ia ingat nama-nama itu: Billy si Kepala Rugby, Odell si Kapten Klub Catur. Satu lagi, Daisy si Kapten Tim Sorak. Catatan-catatan kecil itu selalu menjadi antisipasinya saat melangkahi telundakan depan.

Ngik. Ngik. Derit itu kian menjadi. Kerai ayunan yang sebentar-sebentar dilanda tremor. Snorty tertawa kecil, berniat menyundut sebatang rokok untuk dirinya sendiri. Pemantik Bic sudah di genggamnya ketika bara api bergemertik kecil, diselundupi desisan bunyi gas.

“Kau selalu lupa berbagi ya, Snorty?” tanya seseorang, serta-merta merebut batang itu dari bibirnya. Disusul suara ‘ngik’ ketiga yang seyogianya berhasil Snorty prediksi; tubuh lencir itu sukses mengeriapi kursi ayun dan terperenyak sisinya.

Snorty mendengus geli. Ia menyipit, bertanya-tanya mengenai sebuah nama yang mungkin saja terlepas dari dahi. “Kukira, kau lebih menyukai kebohongan-kebohongan itu,” sergahnya.

“Mungkin saja.” Bahu perempuan itu mengedik, membiarkan rokoknya terselip di ceruk bibir, tak menyala. Mengayun-ayunkan kaki telanjangnya yang diangkat separuh, mengawang di atas tanah.

“Itu konyol, Fudge,” sembur laki-laki itu. Snorty tak perlu berpikir keras untuk mengeja pseudonim barusan. Hanya saja tak pernah terpikir, ia akan mengucapkannya setelah sekian lama.

“Konyol saat kau tumbuh dewasa?” Alis tipis itu berjengit.

Keduanya bersirobok. Snorty merasa bodoh, mendapati gigi-gigi timpang itu, kini berbanjar rapi. Lengkap dengan pipi mulus yang dilabur bedak. Mata yang dipulas celak. Dan tubuh lencir yang dibalut gaun bercorak paisley.

“Kita baik-baik saja.” Tentu ia baik-baik saja, menghadiri sebuah acara resmi dengan chinos robek dan anorak kegemarannya.

“Dengan menjabat sebagai seorang drummer?” alis Fudge berjengit, menjepit batang American Spirit itu dengan tangan kiri. Entahlah. Rasanya aneh memanggilnya “Fudge”, ia mungkin masih menyukai fudge lembek, alih-alih, menguarkan aroma Tazo yang baru diseduh.

Drummer posisi yang baik. Dan gig kita juga keren,” ujar Snorty, mencengkeram rantai-rantai berkarat itu. Berayun kecil; membiarkan jungur kedsnya berjinjit di atas tanah.

“Tidak keren untukmu yang bersembunyi di belakang, Snort. Aku masih ingat permainan gitarmu yang fantastis.”

Fudge sengaja membiarkan heels dalam kait jemarinya mengempas tanah; ia menarik sepasang gada penabuh yang menyembul di belakang laki-laki itu, berbisik-bisik kecil untuk dirinya sendiri, kendati Snorty tetap dapat mengenali senandung lagu itu.

Mad Season, dengan ketuk-ketuk perkusi beritme lompat di tiang penyangga. Tembang pertama milik Matchbox Twenty, yang dulu diunggahnya di situs Myspace. “Memang musim yang gila ya?” tanggap Snorty; menoleh ke kanan; merogoh saku celana. Mengaduk-aduk kotak American Spirit jingga itu untuk kedua kali.

“Rasanya baru kemarin kita berpisah dan seseorang dari Cedar Shoals sekonyong-konyong menghubungi agensiku untuk tampil pada pentas ulang tahun sekolah.”

Snorty sukses menyundut rokoknya untuk kali kedua. “Bagaimana rasanya bertemu kembali dengan si Kepala Rugby?” tanyanya sembari menyemburkan asap.

Fudge tertawa lebar-lebar. “Kau pasti mengira aku masih menyukainya?”

“Siapa yang tahu.” Lagi-lagi dengus itu. Entahlah. Ia selalu menyukai “dulu”, sesuatu yang usang seperti bau sengau ilalang. “Lighter?” angsurnya.

Fudge merebut pemantik kuning itu dengan segera. Memperdengarkan bunyi ‘ctak’ nyaring. Dan seketika saja julaian asap membubung di atas buhul rambutnya. “Thanks,” ujarnya, mengembalikan pemantik itu berikut gada penabuh.

“Bicara si Kepala Rugby, tidakkah Jake cemburu?” tanya Snorty.

Ia tahu, Fudge tak ingin membicarakan hal itu. Dengan menekuri galur kuku kaki, perempuan itu menurunkan rokoknya separuh. Tergantung di antara telunjuk dan jari tengahnya. “Aku tak mengira kau akan menyimak mengenai berita tolol itu,” sergahnya. Membuang rokok yang masih tiga perempat.

“Skandal antara penyanyi dan sang produser?” Snorty melirik ke samping.

“Tidak ada yang bilang itu skandal, Snort.” Manik biru itu menilik lurus ke arahnya, sedikit sengak, sedikit mengiris. Menyesap rokok untuk ketiga kalinya sembari terpejam.

“Tapi, apa kau menyukainya?” Snorty menjentikkan sisa abu di pelipir tiang.

“Entahlah.” Fudge lebih tinggi dari yang ia kira, mendaratkan kedua telapak di permukaan tanah berlumpur. Berjalan-jalan dengan  langkah berat, mengangkat tungkai satunya sembari kepayahan mempertahankan keseimbangan. Frasa “siang itu” selalu yang mencuat di kepala Snorty. Athens yang seolah menyepi, satu per satu kepala yang diingatnya pergi mengudara dan mengadakan eksodus ke Philly[1] atau pun Frisco[2]. “Snort! Aku nyaris lupa kalau ini sangat menyenangkan. Tidakkah kau ingin mencobanya?” pekik Fudge di tengah lapangan.

Snorty tersenyum. “Kurasa tidak,” ujarnya, menatap lumpur itu dengan waswas.

“O! Ayolah!” Fudge beringsut ke arahnya. Mencengkeram tangan-tangan yang berdesakkan di saku depan. Bibirnya masih menjepit rokok. “Buang rokokmu!” Fudge merampasnya, mengisap seperempat batang dengan napas panjang, lantas melemparnya ke belakang.

“O, Fudge. Jangan lakukan hal itu padaku,” rengek Snorty.

“Aku akan terus melakukannya jika kau tak ingin berdiri.” Fudge memamerkan cengiran sengitnya. “Dan jangan bilang kau masih menyembunyikan buku itu di balik sana.” Kekehan Snorty sejurus berhenti. “Buku lirik bersampul biru yang dulu selalu ada di ranselmu,” bisiknya. Laki-laki tahu, jemari kurus yang menyinggungi tangannya takkan tinggal diam, merogoh kian dalam, mengelus sampul papannya. Capitnya berusaha mencubit sisi kiri, sedang tangan Fudge terlebih dahulu menarik sisi bawah.

“Baiklah…” napasnya terengah, Snorty jatuh terenyak di kursi ayun. Fudge yang terlampau beranimo membuka sampul depan, beranjak ke bagian tengah sementara laki-laki di hadapannya berusaha memutar otak. Mungkin tak ada yang terlalu penting, debatnya dalam hati. Hanya lirik-lirik payah dan beberapa halaman yang disobek bekas serenade picisnya.

“Ini keren, Snort!” seru Fudge, membolak-balikkan lembar-lembar renyuk itu. “Tidakkah terpikir untuk mengajukannya ke beberapa produser? Atau bahkan agensi band? Ku—”

Kepala Snorty kini tertutup tudung lusuh.

“Hei,” panggil Fudge, berjongkok di hadapannya. “Kau masih benci pada kebohongan itu?”

“Boleh kujawab entahlah?” Bahu Snorty melenting sejurus.

Fudge tak benar-benar mendengarkan, dua hal yang terlintas di kepalanya: rumpun kertas usang dan satu lini sobekan di bagian satu per tiga buku.

Jantung Snorty berdegup, sangsi mendelik. Kuku tirus Fudge baru saja menyapukan manuver terhebatnya di gutter samping, lantas menarik secarik kecil kertas dari ceruk ikat pinggang. “Yeah, aku menemukannya!”

Snorty takkan pernah lupa pada sorak itu, sorak anual dari sofa ruang tamu di tengah liga Superbowl. Hanya saja tangan Fudge tak dikepal. Alih-alih, membuka lipatan-lipatan kusutnya.

Chocolate fudge, judulnya tertulis dengan huruf-huruf doyong.

Bukan sebuah resep. Hanya nada-nada random yang tercipta di kepalanya. Snorty pikir, sebuah lorry pasti akan segera menabraknya setelah keluar dari Route 67; teringat ia membuang serenade itu di tong sampah kelas kala graduation dulu.

“Kuharap tadi kita membawakan tembang ini di podium.”

“O, sungguh jangan bahas itu.” Kala itu hidungnya tak lagi basah, melainkan pipinya yang memerah.

“Jangan bilang kalau kau masih menganggap semua pujian adalah sebuah kebohongan. Dan aku dilarang berkata keren serta berterima kasih untuk lagu lucu itu?” Sekali lagi Fudge menariknya untuk berdiri. “Sesekali kau perlu tinggal dalam kebohongan, Snort. Setidaknya untuk tahu, kau mampu untuk membuat mereka tertipu.”

Snorty terkekeh.

Bukan sebuah pseudonim; bukan juga sebuah tajuk pada kertas lirik; Snorty menekuri kaki-kaki yang terendam lumpur itu, agaknya ia tahu, mengapa semua orang memanggilnya “fudge[3]”.

 

 

______________________________________
[1] Philadelphia
[2] San Fransisco
[3] Fudge /fʌdʒ/ n  cokelat cair yang terlihat seperti lumpur dan digunakan untuk mengisi saus di pertengahan kue; kebohongan; omong kosong.

TEH CELUP.

Semua orang berlomba-lomba menyalahkan kretek, sementara Kay mendewakan batang lencir itu. Ia suka Black dengan aroma teh celup. Mengingatkannya pada perempuan tua itu. Biasanya mereka bercengkerama hingga senja tandas, begitu juga dengan poci yang telah dijerangnya.

Hari itu ia berpakaian lengkap; scarf, korduroi, pun kemeja hitam. Aparel konyol yang tak pernah ia lirik di etalase butik SoHo. Hingga Drew membelikannya satu, Kay tak percaya ia harus mengenakannya sepagian. Di tengah kabut yang melayahi langit Tribeca. Duffle coat dengan ikat pinggang yang masih terbebat rapi. Lidahnya pahit saat ia mencari-cari kotak ketiga yang mungkin terselip di ceruk saku.

Kaki-kaki jenjangnya bersandar mundur. Napasnya terhela panjang. Batang hitam itu adalah batang terakhir, setelah tiga kotak yang baru saja ia borong di Brooklyn Vaper semalam. Tumitnya kini terasa ngilu, heels yang mengganjal tungkai kakinya menggerus-gerus permukaan aspal.

“Perlu korek?” sahut seseorang di belakangnya. Kay mendengus kecil, ia hafal kode itu, “korek” yang takkan pernah ditawarkan oleh Dom, Andy, atau rekan-rekan sejawatnya yang lebih nyaman berkata “lighter”. Kay merogoh-rogoh saku sebelah; pemantiknya hilang. Seperti Zippo yang selalu ia tinggalkan di meja saat sesi senja. Matanya terpejam kuyu, ia rindu omelan perempuan ringkih itu; mengkritiknya yang lagi-lagi merokok di sotoh griya tawang.

Kay tak banyak bicara. Ia mengangsurkan batang yang terselip di bibirnya. Memajukan separuh tubuh sementara laki-laki bersetelan hitam itu menyelomotinya dengan batu api. “Thanks,” ujar Kay.

“Aku turut berduka, Kay,” ujarnya.

Kay tersenyum pilu.

Satya mendekapnya perlahan, seperti yang selalu Kay rindukan saat terakhir kali memandang punggung itu meninggalkannya di garis lampu merah. Kay benci jika sesekali ia harus mengakui, ia menyukai hari itu. Kala setiap orang yang tak pernah ia jumpai muncul dari balik pintu. Seperti pintu subway yang selalu memberinya kejutan; Satya yang muncul dengan senyum sumringah.

“Aku gak tahu kalau kamu bakal datang,” Kay menjentikkan abu kreteknya di birai balkon. Memandang sekilas, semuanya masih sama. Satya yang jangkung, dengan surai ikal yang sesekali melompat keluar dari galur telinga, dan senyum rikuh yang kerap dilemparnya. Wajah orientalnya yang tersipit-sipit jengah. Kontras bersanding di sisinya dengan kulit sawo matang dan mata cakram pekat.

“Drew menelepon aku semalam,” bisik laki-laki itu.

Sudah ia duga. Kay terdiam. Mengangsurkan Black favoritnya ke hadapan Satya, laki-laki itu tersenyum. “Aku sudah berhenti, Kay.”

Perempuan itu menyeringai kecut. Membayangkan benak Satya yang menilai bau napasnya; kontras antara teh celup dan tembakau. “Padahal kamu yang pertama kali mengajariku.” Sesapnya dalam-dalam, batang itu sudah tandas seperempat.

“Dan bunda ngomel setengah mati malam itu,” imbuhnya perlahan, melepaskan rangkulan di bahu Kay.

“Aku kira kamu lupa,” Kay menyenggolnya dengan sengaja.

Satya tidak menyahut. Kay tahu benar perangai laki-laki itu. Handai taulannya dengan rambut ikal yang pertama kali mewawancarinya untuk buletin bulanan. New comer, kata seantero high school. Awalnya Kay pikir itu konyol. Sekolahnya di Tomang dulu bahkan tak pernah memasukkan data dirinya ke mading mingguan. Tapi, laki-laki belasteran itu malah bilang ia ingin mewawancarai Kay untuk alasan seorang siswa baru.

“Kay?” panggil Satya.

“Aku rindu kamu, Sat,” sergah Kay lekas-lekas. Namun, ia memandangi kembali tubuhnya dengan atribut serbahitam. Begitu juga dengan tubuh jangkung Satya yang dibalut dengan kemeja yang sama legam dengan miliknya. Ia merasa buruk pada perempuan tua itu, yang mungkin saja kala itu memandangnya dari kejauhan.

“Aku juga rindu kamu.”

Kay menarik napas dalam-dalam. Melirik cincin platina yang melingkari jari manis Satya. Rindu itu mungkin hanya sebatas bertegur sapa bagi Satya, tapi berbeda dengannya. Rindu selalu menjadi bidah. Tatapannya berubah sayu. Langit ini beranjak jingga, dan Kay baru saja menyisakan tempat mungil di sotoh griya tawang pribadinya.

“Aku ketemu benda ini di gudang,” sekonyong-konyong jemari itu mengeluarkan benda persegi balik saku blazer.

Ada tawa kecil yang Kay perdengarkan. Terpelecat begitu saja di antara gigi-gigi putihnya, ia tak menyangka Satya ingat tentang walkman uzurnya.

Kay memindahkan rokoknya ke tangan kiri. Menerima walkman itu dengan hati-hati. Satya yang masyuk memilah kabel headset, lantas memasangkan salah satu speaker reniknya di telinga. “Kay?” angsur laki-laki itu; Kay memasang yang satunya di cuping kanan.

Sudah lama sekali 1979 berlalu, seperti kata Billy Corgan di senja terakhir mereka bertemu. Koleksi vinyl The Smashing Pumpkins yang berbanjar di rak toko loak Downtown. Kikik tawa saat Satya memamerkan walkman dengan mixtape pertamanya. Dan ciuman pertama mereka di bawah ayoman Ford Mustang milik ayah Satya.

Kay membiarkan asap kreteknya lesap ditelan angin. Jantungnya semakin berdegup; Satya menutup mata di sisinya. Mandibula tirus yang selalu ia bayangkan saat bangun di pagi hari.

“Aku tahu, kamu belum melupakan kita, Kay,” ujar Satya.

Kay termangu, sejurus saja ia bisa mendengarkan bantingan pintu di hadapan matanya. “Bisa tolong jangan bahas itu.”

“Lalu kamu bakal menghindariku terus.” Mata kelabu itu mengisarnya dengan sejuta arti. Mungkin ia rindu, tapi itu bidah; mungkin ia risih, tapi ia perlu seorang handai kala itu. Kay menatap lurus, ke gedung seberang dengan ukiran-ukiran pilar ala Renaissance. Riap rambutnya tertiup lembut.

“Aku gak menghindar, Sat. Tapi, ini bukan waktu yang tepat,” ucapnya lamat-lamat.

“Aku pengin kamu bebas.” Satya tak peduli dengan dalihnya; dengan pakaian serbahitamnya; dengan raut kuyu; dengan kerabat dan para taulan yang berkeriap di lantai bawah.

Ctak. Tombol play kala itu menyembul naik. 1979 menyisakan klakson taksi yang mengantre di sisi jalur pedestrian. “Bebas beraspirasi, sekaligus bebas untuk memilih.”

Kay lupa rokoknya habis. Tandas seutuhnya begitu juga dengan puntung-puntung yang bertemperasan di bawah kakinya. “Sudah saatnya kamu bergerak, Kay.” Jemari kurus Satya menahan lengannya; Kay kewalahan menahan rasa pahit  di hilir lidahnya.

“Cukup, Sat!” sentaknya.

Bungkus kretek di sakunya terlebih dahulu berhasil dirogoh Satya. “Kalau begitu aku ingin kamu berhenti juga.” Ia membuang kotak kosong itu

“Kamu gak berhak mengatur apa-apa tentang aku. Kamu sudah punya Mai.”

“Dan kamu?”

Pertanyaan singkat itu cukup menyadarkannya. 1979 bisa saja sekadar ilusi. Satya yang terlebih dahulu mencabut speaker dari cuping telinga. Headset itu diletakkannya menggantung di birai balkon.

Dua kali tepukan berat itu didaratkan di bahu kanannya, tepat sebelum kelotak pantofel beradu dengan permukaan sotoh.

Teh celupnya baru saja habis untuk selamanya.

TENGARA.

Unik itu adalah sekelebat kata saat kamu menganggap diri yang paling. Tapi paling bukanlah sesuatu yang selalu sahih. Paling acap menjatuhkan, dan di belakang paling, masih ada paling-paling yang mengekori.

Sebagaimana paling-paling mengkhatamkan langkah, kamu pasti berpikir kalau seorang paling-paling hanya mengada-ada. Tapi paling-paling sama sekali tak dapat disoliterkan sebagai hal remeh temeh.

Paling-paling tidak pernah tahu kalau kamu ingin menjadi yang paling. Paling-paling hanya tahu kalau ia harus berjalan di terompah yang sama denganmu.

Ada suatu pekan kala tengara[1] datang dan berbisik di koridor telinga. “Hati-hati, wahai paling!” teriaknya dengan lamat-lamat.

Tidak ada seorang pun yang mendengar; hanya kamu, yang tengah menandaskan kopi mandailing di patio.

Kamu takut, jelas saja. Belum saja paling-paling pergi, parket di bawah kakimu sudah berderak nyaris rompal. Siapa lagi yang melipir? batinmu bertanya-tanya.

“Saya Tengara,” tamu tak undang itu rikuh di birai.

Tengara, sungguh siapa yang mengundangnya?

Kamu waswas; menatap ke samping. Paling-paling menyesap lisongnya, berlagak takabur. “Usir saja dia,” bisiknya di telinga kirimu.

“Usir?”

“Iya, usir. Kamu tidak ingin kalau jabatan palingmu direbut orang, ‘kan?”

Kamu bergidik. Benar, benar. Terlebih direbut oleh seorang  dengan nama yang pelik. Tengara? Siapa peduli?

Di kala yang sama, Tengara raib; paling-paling nampak tersenyum girang. Tapi sejatinya hatimu bertanya-tanya; kini siapa yang sesungguhnya seorang paling?

 

_____________________

[1] tengara /te·nga·ra/ n tanda; firasat