SELASA.

Tak jenak dengan sebuah gigitan kecil, Okta baru saja membuat marka besar yang menyigar belahan belakang. Kruk, kruk, kruk. Diimbuh sedikit decakan. Bibirnya belepotan mentega dan saus sambal. Lidahnya yang sesekali dijulurkan. Dengan butiran kuning-jingga yang menghujani kakinya yang diayom denim gelap. Kala itu mungkin jagung bakarnya telah tandas separuh. Tongkol kedua dari empat yang tengah tergoler di atas piring.

“Rin, ngapain sih nontonin gue?” Okta yang gusar lekas-lekas menurunkan pangkuan kaki.

Itu memang gayanya; kalau tengah grogi, lebih tepatnya. Dan aku tahu bagaimana lagam-lenggok itu akan berlanjut. Menyugar rambut dengan sebelah tangan, lantas menggosok-gosok telapaknya—setelah sebelumnya ia meletakkan tongkol geripis itu, menjungkit di pelipir piring.

“Ada apa sih, Ta?” Aku ikut meletakkan tongkol yang utuh itu di samping miliknya.

“Maksud lu?” Okta baru saja membesut bibirnya dengan tisu. Menutul tipis ceruknya, lantas membiarkan lembar itu beronggok di sisi kudapan roti bakar.

Masih berlagak bego lagi, umpatku dalam hati. “Semua ini.” Aku menarik napas panjang.

“Bukannya ini ritual kita?” Rupanya ia baru saja me-restock alasan-alasan jitu itu di dahi.

“Tapi ini Selasa.” Sayang, aku punya alasan yang lebih baik.

“Memang kenapa kalau Selasa?”

“Bukan seharusnya Sabtu?”

“Sabtu terlalu bising.” Okta ada benarnya. Tidak ada ritual makan jagung bakar berdua di depan Simpang Raya kala malam Minggu. Alih-alih, kongkow-kongkow mahasiswa dari lereng Dago Atas, lengkap dengan derai tawa, tepuk santer, dan kikik yang memekakkan timpani.

“Satu-kosong?” Kali ini ia yang menimpali duluan.

“Nyebelin.” Bibirku mengerucut kecil.

“Eh, dua lawan kosong ding.” Cengiran itu selalu saja menjadi tedengnya. Tubuhnya bersendeng ke depan; aku dapat mencium bau cengkih yang menguar. Satu kali sebelum menaiki jok pengemudi, bersandar di pintu Pajero Sport-nya, ia merokok dengan nikmat, menungguku keluar dan mengunci birai depan.

“Makasih buat sogokannya.” Aku terjajar mundur; membenarkan letak duduk dan menyilangkan kaki; Okta mengeluarkan kotak Marlboro andalannya dari saku belakang.

“Bang, ada korek gak?” tanyanya ke arah gerobak di belakang kami. Kakinya berlari kecil, sementara aku masih rambang tentang Selasa pelik barusan. Hari kedua yang seyogianya kala yang tepat untuk mencorat-coret bloknot sembari mendengarkan dendang tawanya di layar teve. Alih-alih, ia muncul, mengangsurkanku plastik biru berisikan “The Metamorphosis” milik Franz Kafka di muka rumah.

“Eh, melamun aja!” Selalu saja Okta yang pertama mengujar. Kala bibirku mengatup dan menatap ke ruas jalan sembari mengencangkan genggaman pada tangkai jagung bakar; aku pikir tangkai itu akan terjun bebas.

“Enggak kok.” Aku berusaha menyembunyikan degup jantungku.

“Belakangan ini lu bengong terus deh, Rin.” Asap sudah berjulai, berlenggok rancak di antara kami.

“Gue lagi mikirin ide cerita—buat cerpen terbaru,” bualan itu menyembur lekas. “Lagian lu juga agak aneh belakangan ini. Milih tempat yang gak biasanya.”

Ha! Kena dia.

“Ini kayak biasanya kok.” Okta sama sekali tidak gugup. Sialan. Ia hanya menyesap rokok di sela jemarinya dengan perlahan. Membiarkan baranya meletik-letik, disapu angin malam.

“Gak ada live music, Okta. Atau setidaknya stereo yang 24/7 diisi sinkopasi jazz Griffith Frank gitu?” Kedua bahuku ikut mengedik. “Dan juga hari Selasa.”

“Ngotot banget sih, Rin. Harus ada alasan ya kenapa Selasa?” Aku benci nada bicaranya, seolah-olah tidak ada yang salah dengan hari Selasa.

“Jelas dong. Kan bukannya lu harus syuting?”

Kali ini ia melempar tatapan itu jauh; melampaui sempadan trotoar. “Gue baru aja narik kontrak, Rin.” Kantung mata itu tak nampak kuyu, suara seraknya hanya terdengar statis, melesat dalam kecepatan cahaya, lantas membuatku melempar tatapan kaget.

“Lu bercanda?”

“Dini ngajak gue kawin,” ia bicara tanpa menatapku, menyemburkan asap ketiganya dari celah bibirnya. “Dia pengin gue selalu ada buat dia.”

Aku diam. Ingin berujar, ‘selamat ya’? Sejurus lidahku kelu. Ingin berprihatin? Itu gagasan terpilon yang bakal ditertawai olehnya. Kenapa harus prihatin? Bukannya  memang itu yang selalu diharapkan Okta?

Tapi, bagimana dengan aku?

“Selamat ya, Ta.” Akhirnya kata itu lepas landas dengan sendirinya. Disambut mata lelahnya, sekaligus asap yang membuhul kami berdua. Agaknya aku salah bicara. Sekejap kata “selamat”-ku meresidu kebisingan. Entahlah. Ia bingung mau menanggapi oborolan kopong ini dengan seringai macam apa; dibuat-buat? Jenaka? Tapi ia tak nampak sebahagia itu.

“Rin?” Tiba-tiba saja ia menjentikkan abu itu di pinggir kursi plastiknya. Okta buru-buru mengajak keempat tungkai doyong itu merapat. Kerikil yang silih berjibaku, bergulir menghampiri sneakers-ku. Aku menunduk dan merasa lucu, hingga mata kami bersirobok dan mulutnya ingin memberitahuku tentang sesuatu.

“Lu suka Raka?” Pertanyaan itu membuat dadaku mencelus, enggan menatap manik matanya. Alih-alih, memperhatikan ritme lututnya yang bertolak turun naik dari aspal pelataran jalan.

“Gue gak tau, Ta. Raka salah satu klien gue. Kami cuma sebatas itu.” Tangannya menangkup tanganku. Rangkulan pepat yang selalu membuatku ingin mencengkeram jemarinya lebih lama.

“Gue berharap lu dapet temen baru selain gue, Rin,” bisiknya. Aku termangu seketika; suara Okta terdengar pilu. “Yang bisa nemenin lu buat ritual tiap Sabtu.” Senyumnya menyembul, tapi aku melihat buku-buku jemarinya mencengkeram pelisir denim

“Kan ada Egi?” Dengan bodohnya aku mencoba menyelinapkan nada jenaka itu di antaranya.

“Jangan pura-pura gak tau, Rin.” Elusan itu berhenti di punggung tanganku. “Egi ada proyek di Singapura. Dia bahkan cuma pulang sebulan sekali.” Percuma aku menyembunyikan tatapan itu pada trembesi di seberang jalan. Okta tahu, sama seperti aku tahu segala hal tentang dirinya, tentang semiotiknya yang selalu terbaca, begitu juga dengan tangannya yang tiba-tiba merengkuhku dalam pelukannya.

Dekapan yang selalu berakhir dengan kata enigmatik ciptaannya; sebuah hubungan tak terdeskripsi di antara kami yang enggan Okta petakan ke dalam kata, tapi mungkin “sahabat” adalah kata yang selalu membuatku tersesat.

Tersesat di antara rangkulan, pun dekapannya yang membuatku berharap akan mengayomiku untuk selamanya.

Advertisements

KELAB BOTANI TUJUH STRIP DUA.

Semuanya dapat terjadi dalam satu kerjapan. Percaya atau tidak? Bualan atau oplah kebenaran? Aku mengintip dari balik birai langkan. Petak kudeta di antara gadis di kelas delapan. Tak ada tawa, kendati kasak-kusuk yang mengisik kelab botani.

Ada perdu, ada pula jenggala labu. Ranah itu bukan milikku. Kendati, kemarin senja, kau meronce andekdot yang sama. Menyiangi ipuh, mengirap debu. Sekali lagi, pagi tak seperti biasanya. Dua puluh dua derajat sempurna, seperti kala pertemuan mingguan kita di kelas tujuh strip dua.  Tapi, aku terlalu takut untuk mengungkap tawa.

Liris berjumpa jerjak berbata. Aku sadar, kau bukan membersihkan ladang itu lantaran sukarela. Tetangga mengintip tetangga. Dari langkan susun tiga, debar jantungku dilindapi lara. Kau ada di ujung sana. Memamerkan tawa kepada si Susun Dua.