SEBAGAIMANA MALAM HARUS DIPERLAKUKAN.

Perdebatan kami adalah seputar loteng atas. Tentang malam-malam yang tak pernah surut. Dan bagaimana seharusnya malam-malam itu diperlakukan. Menggerataki linoleum; meramban lapel; lantas menemukan tempat bibir untuk berlabuh.

Dinding kasar menggasak utar di balik baju. Manik itu berwarna biru. Di dalam kamar gelap, aku mengenal sesuatu. Orasi sembilan puluh. Kala di mana puntung tak kunjung layu. Pemantik terus berujar, pun percik batu.

Orasi sembilan puluh. Seseorang memagut bibirku. Menggoyangkan pinggul seolah-olah akulah sesuatu yang baru. Menelusup di antara pintu. Dan menemukan kejang di antara speaker saru.

Tak mudah keluar dari lingkar polkadot sembilan puluh. Sebagaimana Marlboro tercucuh, seseorang perlu teringat akan satu. Sembilan puluh adalah AM alih-alih FM yang berkemendang tangga empat puluh. Terlalu banyak malam yang terkunyah tanpa tahu. Melilit tungkai; menari rancak; tanpa dentam yang padu.

Bergelimang kata tanpa melodi. Tanpa ekspresi Ibanez dan gebung drum eksperimental Selway. Perdebatan kami bukan sekadar ruang di loteng atas. Tapi tentang monyet-monyet keparat yang bergayut di pagu. Tentang malam-malam yang terlupa, dan sebagaimana malam harus diperlakukan.

Advertisements

ABI.

Aku yang mencintainya terlebih dulu. Seperti ia mencintai kretek yang terkepit di antara dua jemari. Berharap mencicipi bibirnya, bagai ia memagut hilirnya dengan desah napas tertahan. Menari rancak di hadapan kedua matanya, laksana untaian asap yang berdesir.

Malam itu terlalu gelap untuk berbincang. Segelap kulitnya yang sawo matang. Kami duduk bersisian. Memperhatikan gelas-gelas kaca yang berendeng. Lucu. Menertawakan diri. Bertelekan siku sembari melempar senyum.

Gigi itu sudah kuperhatikan barang semenit lalu. Putih tak bersilap duka, menabrak cangkir kopi ketiga alih-alih bibir botol kaca. Kemeja biru khalis tanpa noda. Namanya Abi. A sebagai akronim Arjuna, lantas otot-otot yang menonjol di lengan tembaga itu adalah milik Bima. Abi baru saja memukauku dengan caranya; dengan cerkas matanya, pun ekor bibirnya yang terjenggut cuar. Ia berbeda. Dari sudut mata dan kulit yang mencoraki kesepuluh jemarinya. Ada yang membuat giginya nampak kontras, tak seperti diriku.

Aku mungkin mencintainya terlebih dulu; ia kepalang membenci diriku. Jejap pada cara dudukku yang menyilangkan separuh kaki. Mengetup-ngetup lantai linoleum dengan nada-nada sumbang menandak. Sinkopasi itu bukan milik Adhitia Sofyan, pun gitar akustiknya; nada itu milikku. Biar saja sumbang, toh Abi meliriknya, ‘kan?

Ia jatuh hati pada kakiku. Aku yakin itu. Tetapi, ia benci diriku yang bermata sipit. Berkulit kuning langsat. Dan berbau hiu alih-alih parfum kelas satu.

Sudah tiga kali aku membasuh diri, bau itu tak kunjung raib. Dari ujung helai rema, memang aku tak dapat menipu, karena aku sudah sebegitu dibenci oleh dirinya. Tapi, aku kembali pada malam saat kami menatap satu sama lain, berkontemplasi mengenai identitas dan harkat; sepatu hingga tudung kepala; riasan atau pun gamis.

Aku akan selalu menjadi yang mencintainya terlebih dulu. Memadu perbedaan. Pun menyadari kesamaan. Bahwa kami sama-sama mencintai, kendati silih membenci.

TENGARA.

Unik itu adalah sekelebat kata saat kamu menganggap diri yang paling. Tapi paling bukanlah sesuatu yang selalu sahih. Paling acap menjatuhkan, dan di belakang paling, masih ada paling-paling yang mengekori.

Sebagaimana paling-paling mengkhatamkan langkah, kamu pasti berpikir kalau seorang paling-paling hanya mengada-ada. Tapi paling-paling sama sekali tak dapat disoliterkan sebagai hal remeh temeh.

Paling-paling tidak pernah tahu kalau kamu ingin menjadi yang paling. Paling-paling hanya tahu kalau ia harus berjalan di terompah yang sama denganmu.

Ada suatu pekan kala tengara[1] datang dan berbisik di koridor telinga. “Hati-hati, wahai paling!” teriaknya dengan lamat-lamat.

Tidak ada seorang pun yang mendengar; hanya kamu, yang tengah menandaskan kopi mandailing di patio.

Kamu takut, jelas saja. Belum saja paling-paling pergi, parket di bawah kakimu sudah berderak nyaris rompal. Siapa lagi yang melipir? batinmu bertanya-tanya.

“Saya Tengara,” tamu tak undang itu rikuh di birai.

Tengara, sungguh siapa yang mengundangnya?

Kamu waswas; menatap ke samping. Paling-paling menyesap lisongnya, berlagak takabur. “Usir saja dia,” bisiknya di telinga kirimu.

“Usir?”

“Iya, usir. Kamu tidak ingin kalau jabatan palingmu direbut orang, ‘kan?”

Kamu bergidik. Benar, benar. Terlebih direbut oleh seorang  dengan nama yang pelik. Tengara? Siapa peduli?

Di kala yang sama, Tengara raib; paling-paling nampak tersenyum girang. Tapi sejatinya hatimu bertanya-tanya; kini siapa yang sesungguhnya seorang paling?

 

_____________________

[1] tengara /te·nga·ra/ n tanda; firasat

LANGUT.

Bosan rasanya mengubini sebuah pendahuluan dengan celotehan nama. Ada beberapa yang menyukai frasa majemuk, memarikirkan metafora dengan parafrasa literalis; memagari kalimat dengan embel-embel diksi yang ganjur. Tapi aku memilih sebuah logat numerik tentangnya. Saat ini kami berkepala tiga, aku tiga puluh dan dia tiga puluh satu, dengan gurat-gurat nostalgia yang mulai memudar, duduk, berayom di bawah tenda kudapan lele di bawah jalan layang kota.

Rasanya sudah lama seiring era itu langut dengan sendirinya. Masih dengan banjar gigi yang sama ia tertawa. Hanya sedikit menampas potongan rema, aku ingat kala pertama kali kami berjumpa, ia, si Kepala Jamur yang kemudian menjamuri setiap kepala di seantero sekolah. Era terdahulu kala Nick Carter dan Aaron Carter masih sama-sama berpiak tengah. Ibuku juga dulu begitu, selalu saja mengirap belahan poniku di tengah, seolah hanya ada satu-satunya cara untuk membuat wajah lebih dramatis ketimbang menyisirnya ke kanan atau kiri.

Tapi kini, dengan wajah yang tirus dan hidung bangir sempurna, duduk bertelekan siku. Menatapku lurus dan menanyakan hal ini itu yang terasa asing di benaknya. Sedikit celoteh, sedikit cericip, juga sedikit kikik. Tahu tidak, sebenarnya tempat pojok itu adalah kursi reyot yang sama.

Lagi-lagi aku enggan berkomentar mengenai nama. Sebut saja inisialnya O. Aku selalu mereka-reka tentang segala definisi berakronim O. Obeng. Ojek. Dan orang gila. Tapi setiap aspek dalam O memang selalu ada pada dirinya. Obeng lantaran O gemar menyatroniku dengan sejuta pertanyaan, memutar-mutar otak, sekaligus memutar-mutar perut dengan bahu serojanya yang menempel di lapel kemeja dari semprotan ruang setrika. Ojek lantaran jok Ninja putihnya yang selalu kududuki sepulang sekolah. Dan orang gila, lantaran ia selalu mencintai paradoks. Aku gandrung gelap; ia cinta terang. Ia gemar menyapa; aku acap merunduk. Aku gemar tahu, ia keranjingan tempe. Tapi satu yang menyatukan kami, sepiring melamin yang licin tandas di ayoman kedai ini.

Ya, waktu memang sungguh lekas berlalu, tapi seandainya aku dapat merengkuh, aku berharap bisa merengkuh tangannya di bawah pojok remang pecel lele di samping jembatan layang.

 

 

Nama memang tak berarti apa-apa

Malah selalu membuatku langut akan dirinya

Pulang

Untuk kesekian kali hari ini terasa sia-sia. Tanpa senarai kegiatan yang digenapi, aku duduk bersama segelas kopi. Kopi pahit tanpa ampas; tanpa embel-embel decaf. Hanya dingin es batu yang bergumul di tepian lidah. Di lembar kedelapan-puluh-lima, aku merasa hari ini kembali tidak berarti. Hanya janji-janji yang tersemat; senyum-senyum yang mencuat. Dendang lounge yang kopong.

Pulang berhariba di kedua paha. Bersampul kuning yang kian membuatku jeri. Aku berucap untuk pulang dan melupakan apa yang mereka elukan; berpolah apatis seolah tak peduli. Tentang hari ini, tentang maaf-maaf palsu yang naga-naganya terlalu naif untuk dipercaya. Tentang sebuah regulasi, tentang sebuah lini mati.

Mati-mati anda sekalian berkata, pukul lima seyogianya kita berjumat di pagar sebuah rumah. Di bawah ayoman puitik petala nan cerah. Namun, imaji itu kepalang membual. Bual yang sulit dipercaya untuk kesekian kali. Bual yang membuat Tuhan mengguyur mayapada dengan disko seribu satu malam.

Tapi tetap aku ingin berkata, “terima kasih.”

Terima kasih telah membuatku menunggu. Karena dengan lama aku berpikir tenang sebuah prosa, prosa tentang menanti kawan yang enggan muncul batang hidungnya.

SPEKTAKULER.

Re adalah jingkat gitar kedua saat manik cokelatmu memaku pandang padaku. Mi adalah jingkat tak berarti, kendati seringai itu tak retas dari bibirmu. Untuk mededah lembar baru, aku mengingat mantra itu. Madah di kelas geometri. Sebuah langkah kecil yang berkontemplasi tentang esok hari. Bukan kemarin, tapi hari ini, pekan kala hal-hal spektakuler dapat terjadi. Membersit seperti gempuran kembang api. Memegar tak ubahnya rok midi. Ada senyummu dan senyumku. Ingat bagaimana blok-blok putih itu berbanjar di bibirmu. Aku mengecupnya sembari bersenandung

Adalah kemarin yang pernah raib.
Lesap dan sejamaknya dilupakan.
Tetapi raib mempertemukanku denganmu.
Yang selalu bergunjing tentang hal yang selalu baru.

TIGA PULUH KONTEMPLASI.

Tiga puluh detik menuju kontemplasi tengah malam, mataku membeliak. Tak ada suara, hanya dengus tirai di jendela. Sejurus pagu menjadi begitu menakutkan untuk ditatap. Begitu risau untuk duduk bersehadap. Seumpama dunia. Berjam-jam. Berlalu. Melintas. Dan kami tetap saja bertatap muka. Tersesat di antara galurnya.

Tak beriak, datar, lesap dalam senarai nekropolis. Tak ada gigi-gigi yang bersinggungan, pun seringai yang bercadik. Ada malam sebelumnya kala aku tidur bertiarap. Mengira para pagu akan langut. Mencariku yang tertidur agar membelot anekdot.

Sebagian khalayak menjulukiku sebagai penghelat, tapi aku mendeklarasikan diriku sebagai pemimpi. Mengukir rune sebagai perjalanan mengarungi pancawaktu. Menulis eulogi agar tak ayal digigit peradaban.

Sejurus aku perlu ligatur untuk berhenti. Menghela kata, mengulum pungtuasi. Berhenti bersehadap untuk sejurus, sejurus dalam narasi yang tak menentu. Namun, pagu mendobrak angan itu. Kasau berhandai dengan sawang. Cendawan tak ayal berkoloni, mendeklamasikan kala agar kami tak pernah berjibaku.

Dalam tiga puluh detik di remang senja, pagi itu aku tahu, pagu tak lagi membutuhkanku. Pagu tak perlu sebuah alibi untuk membuatnya mengayomi sesuatu. Sawang ibarat memberangus visinya di masa lalu. Berintrik untuk segera membangun alterasi dan merakit aneksasi.

Yang tersisih adalah empat bilah kerai yang mengungkungku. Memanifestasikan rasa untuk menekuk dagu. Menyelomot kertas, agar aku—sang pemimpi—takluk dan bisu.

Tiga puluh detik untuk memekik. Aku memiliki waktu. Tiga puluh hari untuk berceracau. Empat jemari untuk menekuk dan mengacungkan jari tengah. Mendobrak kerai dan berlari. Berlari menggapai sesuatu yang raib dan menemukan yang terdahulu.

Tiga puluh detik yang ditemukan.
Tiga puluh detik untuk bermimpi.
Tiga puluh detik yang membisiki telingaku untuk menghirup napas
Dan berlari.