SEJURUS SEBELUM MENJADI DEWASA.

Perlu dua cangkir ristretto untuk membangunkan nalarku senja itu. Setelah terperenyak selama dua puluh tiga jam. Dengan bokong yang melesak di jok penumpang Greyhound Lines[1] rasanya sudah cukup sengsara. Pasalnya penerbangan terakhir menuju Denver baru saja ditutup, pun sambungan telepon Debra semenit lalu.

“Hei, Jes, di mana kau?”

Aku tahu, pada mulanya ia akan bertanya soal itu, di mana keberadaan diriku kalau-kalau aku melupakan hari bersejarah miliknya.

Dan begitulah diriku; duduk bersilang kaki di tengah kubikel, nyaris menekan tombol “hold” untuk sebuah telepon iseng. Aku perlu menelan liur sejurus, sebelum akhirnya bercakap acuh tak acuh. “JFK[2]?”

Mudah.

Well, aku tak sabar untuk melihatmu besok. Kau tahu, kami akan menggelar pesta bujang besok malam. Eliza, Carmen, kau dan aku. Bukankah itu sempurna?”

Shit. “Iya, tentu saja.” Ponselku melorot ke sisi dagu. Kekehan Deb sekejap menjadi ringisan pilu di benakku. Penerbangan terakhir baru saja terlewat lima belas jam yang lalu. Dan ya, tentu saja, aku terpaksa membawa berkas-berkas ekshibisi minggu depan ke meja pojok Everday’s Joe.

Pollock dan de Kooning. Duo hebat yang sanggup mengaduk-aduk isi kepalaku. Aku mengabaikan surel Deb, teleponnya yang kelima, pun dengan pesan suara Neil. Jelas aku melewatkan pesta bujang Deb kemarin malam dan hari kemenangannya kini berubah dari H minus menjadi hitungan mundur yang melibatkan numerik berdigit dua.

Kupikir aku takkan datang. Tapi, Deb, kakak perempuanku …. o, shit.

Jangan pikirkan itu. Aku tak punya banyak waktu, terlebih jika telepon hantu Jacobson merangsek masuk; siapa lagi kalau bukan penyeliaku yang superperfeksionis itu. Ingat, Jessica, semunya harus sempurna. Kau tahu apa yang akan dikatakan klien padaku, mereka benci pegawai yang tidak kompeten, tiga kali suara itu membahana, ia seperti baru saja mengatakannya dengan sebilah gergaji mesin yang berdesing di sisi telinga.

Tenang. Menyundut satu batang American Eagles Menthol selalu membantu. Aku mengeluarkan pemantik mekanik itu dengan cepat. Batu apinya meletup, sebelum sampul bajanya terpelecat, mengantuk permukaan linoleum.

Great. Aku baru saja menciptakan manuver yang membuat seluruh penghuni kedai menaruh perhatian ke sudut merokok di sayap kanan, tempatku duduk. Dua senti sebelum sol sepatu itu melandas; tangan asing memungut korek mekanikku di lantai.

Sneakers Chuck Taylor. “Jes?”

“Kit?” ujarku, sedikit gelagapan.

Dua kali aku mengerjap, kedua tangan kokohnya dengan lekas merengkuh lengan atasku. “Wow, aku tak percaya kau akan kemari.” Kombinasi tatapan berbinar dan tawa hangatnya.

Yeah,” aku mendengus dengan payah. “Deb akan menikah besok.”

“Terdengar hebat. Tapi, bagaimana dengan kabarmu? O ya, tidak keberatan ‘kan kalau aku duduk di sini?” Ia menarik kursi di hadapanku, duduk dengan bertumpang kaki, memperlihatkan denimnya yang sobek ala Joe Strummer.

Bahuku mengedik. “Baik. Tentu saja. Kau sudah memesan?”

“Iya, segelas machiatto seperti biasa. Dan kurasa ini milikmu.” Ia menyerahkan Bic tua itu di atas meja.

Thanks.”

“Bukankah ini terasa seperti déjà vu?” Ia meringis.

“O ya?” Alisku berjungkit.

“Hanya bedanya dulu korek itu punyaku,” ujarnya; aku terkekeh; mengangsurkan sebatang American Eagles Menthol padanya.

“Aku tak tahu kalau kau keranjingan rokok organik sekarang.” Ia mengambilnya satu. Menyundutnya dengan lekas lantas mengembalikan pemantik kuning itu padaku.

“Semacam itu.” Rokokku nampak renyuk—lantaran insiden rokek mekanik tolol barusan.

Well, bagaimana pekerjaanmu, … kurator hebat?” Ia masih mencoba mencari istilah itu di dalam diriku; kurator hebat, pacar ekstentrik, well, kurasa aku tidak terlalu ingin membahas soal frasa yang terakhir.

“Tidak terlalu hebat. Madison Square yang bising; penyelia superperfeksionis; klien galak.”

Kit terbahak, menyugar riapnya yang sengkarut. “Kurasa kau kangen rumah.”

“Mungkin saja. Tapi tidak dengan berkas-berkas pekerjaanku.”

Kit menggeser berkas-berkas itu ke hadapannya. “Pollock dan de Kooning? Dua pelukis kesukaanmu?”

Aku mengangguk. “Storefront[3] akan mengadakan ekshibisi minggu depan.”

“Berencana membeli?”

“Yang benar saja,” aku tergelak, “Aku menjaga stand untuk para klien. Semacam patroli keliling.”

“Pekerjaan yang mengagumkan,” ujarku, menyesap rokok di selipan jemari. Kit beringsut ke konter pengambilan, menyeruput machiatto di gelas karton sembari berjalan.

“Kau banyak berubah, Jes.” Ia baru saja terperenyak ketika membuka topik baru. Aku gegas menyurukkan rokokku ke asbak yang nyaris meluap. Mendengar senandung Echobelly di stereo kedai. Kit yang pertama terbahak. Ia khatam apa yang aku lakukan dulu.

“Tidak dengan mata hitamku,” kilahku, sembari mencoba menirukan lirik Great Things di bait reff; bergaya centil semenyebalkan dulu, kala bersolek di depan cermin toilet.

“Gaya keren itu masih ada padamu kok,” seru Kit. Ia terpingkal, berusaha mengeluarkan asap rokok sambil terbatuk-batuk.

“Kau juga, Kit.” Ia tersenyum, menyesap cangkir ristretto yang sudah dingin. “Masih mempertahankan Chuck Taylor itu?” Aku menendang sepatu uzurnya sebelum tatapan Kit membuatku berpikir dua kali untuk kembali memesan penerbangan pulang. Mungkin kau kangen rumah. Entah rumah mana yang kumaksud. Kondoku di Queens? Tapi kata-katanya bisa jadi benar. Aku tak ayal memikirkan rak-rak tua The Cupboard ketika dulu kami mencuri sebotol Merlot dari cellar. Berlari kesetanan sepanjang malam. Bercumbu di jok belakang Mustang ayahnya.

“Fort Collins sudah banyak berubah, Jes,” sergahnya. Aku memalingkan wajah dari jendela. Menatapnya lurus-lurus. Tangannya menyumpit puntung separuh hangus dari pinggir asbak. “Kau ingat lapangan di samping rumah orangtuaku?”

“Iya, tentu saja. Kau nyaris tertidur di sana lantaran takut terpergok Amy setelah pesta semalam suntuk.”

“Daya ingat yang bagus.” Lebih banyak tawa, hanya saja ia tak tampak seceria itu. “Mereka baru saja membangun pusat perbelanjaan di sana.”

“Sayang sekali. Kukira aku ingin mengunjungi tempat bersejarah itu lagi.”

Well,” kepalanya berjengit, “entahlah, mungkin yang bisa kau temukan di sana hanya sekadar kebisingan.”

Seperti yang kami buat malam itu? Senandung Sonic Youth dari walkman Kit, ocehan-ocehanku di pangkuannya, menatap langit bergemintang. Berandai soal masa depan ketika tahun senior nyaris berakhir hanya dalam hitungan bulan.

“Setidaknya tempat itu tidak sebising Chinatown di Manhattan.”

“Agaknya kau perlu mengajakku berkeliling jika melipir ke New York suatu hari nanti.”

“Tentu saja. Kau takkan membusuk di tempat ini ‘kan?”

“Untuk sementara waktu sepertinya aku perlu mencuri istilah itu darimu.” Deretan gigi putihnya menyembul. “Aku baru saja mendapat kontrak mengisi scoring terbaru untuk sebuah proyek independen.”

“Wow, Kit. Kau masih bermain di area avant-garde?”

“Tidak banyak yang dapat kulakukan. Aku masih menyukai Sonic Youth dan Jonny Greenwood, asal kau tahu.” Ia menjentikkan rokoknya sekali di sembiran asbak sebelum menyuguhkannya padaku. Seperti terakhir kalinya, di malam terakhir kala kami berpelukan dan aku menaiki kereta pertama menuju Denver keesokan hari.

Menjadi remaja memang payah. Dan satu ide yang tercetus di otakku kala itu, aku ingin cepat-cepat dewasa. Mengenakan blazer, mengitari satu per satu ekshibisi di Tribeca untuk mendapatkan sebuah lukisan Pollock untuk dinding kondominiumku. Tapi, tahu sendiri berapa harga satu lukisan Pollock dalam sekali lelang.

Pura-pura memajang senyum, Kit pasti diam-diam menaruh dongkol dalam hati. Aku meninggalkannya senja itu. Dan kini malah kembali dengan berkas-berkas tolol ekshibisi Pollock dan de Kooning alih-alih mendapatkan lukisannya dan membawanya di sisi meja.

“Bicara soal pernikahan Deb, apa kau tidak mengundangku untuk pernikahanmu?”

Aku nyaris tersedak kalau menyesap ristretto di dasar cangkir. Menyembunyikan kedua tanganku lekas-lekas di bawah meja seolah baru saja terpergok mengunyah camilan Hula Hoops di balik dinding kubikel.

Shit, Kit. Dia tahu rahasia terburukku. Ini ulah Neil. Aku tak benar-benar ingin menerimanya, setidaknya setelah hari bersejarah Deb. Dan aku lupa melepaskannya lantaran gelagapan memesan tiket terakhir untuk keberangkatan bus menuju Fort Collins.

“Sini!” Kit tak benar-benar serius, ia baru saja menjulurkan tangan, menarik lenganku.

“Ini benar-benar memalukan, Kit.” Aku membuang muka.

“Jadi siapa pria beruntung itu?” candanya, bertelekan siku, menopang dagu.

“Baiklah. Namanya Neil. Kami baru bertemu beberapa bulan. Dan ia memberikan benda itu dua hari yang lalu.” Manik biru Kit masih berbinar; tak sabar menelisik cincin platina itu ketika aku menyerahkannya di telapak tangan.

“Lantas, apa yang kau katakan padanya?” Ia menyesap rokok kami yang ketiga. Batang pendek nyaris menyentuh filter.

“Tidak ada. Aku tidak berkata apa-apa. Ia mengizinkan diriku menyimpan benda itu begitu saja.”

“Yang benar saja? Kali ini aku tahu, kau masih seperti dulu, Jes. Si Gadis Mata Hitam itu yang gemar bilang, terserah katamu, Kit.”

Okay, okay. Aku masih memikirkannya. Entahlah. Aku tak bermaksud bertemu Neil secepat itu.”

Kit tertunduk. Entah gagasan apa yang menyembul di balik rambut ikal kecokelatan itu. Apa ia kecewa? Kata-kata kami dulu bahkan tak sempat tersambung; sekadar terputus, dan ia menatapku dengan sebuah raut penuh ragu.

“Aku juga bertemu seseorang, Jes.”

Satu ketukan kecil dari telunjukku.

“Kate Hudgens. Kau tahu, yang berambut hitam sepinggang dulu.”

“Ah, ratu gosip itu.” Manikku jelas menyalang, tapi dadaku bergemuruh.

Kit mendengus geli. “Ia tidak secerewet itu sekarang. Kami sudah bersama untuk tahun kedua.”

Kurasa, aku terlalu banyak melewatkan hal di Fort Collins. Malam bujang Deb, pertemuan Kit dengan Kate, lantas apa lagi?

“Kau masih sahabatku ‘kan, Jes?” Aku benci tatapan teduh itu; sepertinya ada yang tidak beres.

“Tentu saja.” Aku terkekeh sok bahagia. Pengendalian situasi, benar, hal itu yang paling kubutuhkan saat ini.

“Aku tahu, ini terdengar sedikit memalukan—membosankan, sepertinya. Terlebih bagi gadis New York seperti dirimu.” Ia menggaruk tengkuknya, seperti ketika aku menatapnya tanpa ekspresi untuk tembang ciptaan sumbang di hari ulangtahunku yang ketujuhbelas. “Aku ingin saran hebat untuk melamar Kate besok.”

“Wow! Dan kau akan membayarku dengan apa?”

“Dengan sebuah kartu undangan?” Dahinya berkerut. “Aku pasti mengundangmu, Jes. Dan jangan lupa katakan hal itu juga pada Neil. Kalian harus mengundangku.”

Bibirku mengerucut. Aku menggigit bagian bawahnya yang kering. “Pakaikan cincin itu di jariku. Mari kita lihat kemampuanmu, anak muda,” ujarku dengan nada takabur.

Kata-kataku sesungguhnya tak benar-benar serius, sekadar mengerjai Kit. Aku menebak responsnya yang makin salah tingkah. Mengerang dengan frustasi.

Aku tertawa dalam hati.

Kit masih tidak berkata-kata; kepalaku berjengit. Dan ia hanya menyentuh lenganku begitu saja. Menggapai tangan kiriku. Dan satu tatapan lurus yang membuat tengkukku meremang. “Kate?”

“I-iya.” Ini konyol. Pasti suaraku terdengar parah barusan.

“Kau tahu, aku ingin mengatakannya sejak lama. Untuk hari-hari yang kita habiskan bersama. Setelah dua tahun. Kurasa aku ingin melamarmu. So, kau akan menerima cincin ini ‘kan?”

Anggukan itu terasa berat di kepalaku. Ia menyelipkan cincin pemberian Neil di jari manisku, tempat di mana seharusnya benda itu tersemat. Lantas, kaki jenjangnya mulai menarik etape di antara kami. Derit kursi itu seharusnya tidak menjadi masalah.

Kit berdiri menjulang di sisi meja. Kupikir ia akan pergi. Aku lekas-lekas berdiri, alih-alih, ia merengkuhku dalam pelukannya. “Bukankah itu hebat, Jes,” bisiknya di telingaku.

Cukup menutup mata. Aku membayangkan sebuah ruas jalan panjang di tengah malam. Kami bergandengan pulang dengan keadaan pengar. Membagi Marlboro pertama, yang ia curi dari rak Amy, di konser Lou Reed padaku. Mencumbunya lebih lama di bench taman. Menarik kembali kata-kataku kala berbaring di pangkuannya.

Dan berhenti berandai tentang perihal menjadi dewasa.

______________________________________________________
[1] jasa bus umum antar negara bagian, New York menuju Fort Collins
[2] epitel untuk John F. Kennedy; bandara internasional New York
[3] sebuah galeri seni yang terletak di kawasan Tribeca, New York.

Advertisements

KOLAM BEBEK.

Ibarat sebuah kolam, aku harus mencelupkan kedua tungkai kaki. Begitulah hidup; singkat, dingin, dan menggigit. Sebut saja aku A. Penulis gagal, lajang di akhir tiga puluh, dan pengangguran. Yep, tak lebih dari sebuah komposisi ekstremis abad keduapuluhsatu.

Tiga—lebih tepatnya empat—bulan semenjak kertasku kosong. Dengan dua pak Winston, satu pemantik Bic, kupikir, mulanya aku siap berperang. Menggempur ide-ide mengenai klona dan drona-drona di kepala. Alih-alih, sebuah cemooh. Perjalanan hebat milik pasukan Kremlin digebah perkusi tolol Dominic Howard.

Bukan salah Howard. Aku mencoba mencucuh rokok ketiga dari pak kedua. Asbak tengah meluap. Dan bunyi ting serta-merta meringking tanpa ada pangkal-ujungnya. Aku terpaksa membawa mesin ketikku turun dua lantai, menjinjingnya lebih dari lima blok ke SoHo untuk sebuah barisan yang mengular dari antrean mesin kasir Jo.

“Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Jo senja itu. Pojok soliterku sedikit redup. Dibasuh temaram kandil oranye. Aku berusaha menebak apakah itu masih senja yang sama ketika aku meminta Horchata panas tanpa gula. Memerhatikan jemarinya yang ia gasak beberapa kali di apron hijau. “Boleh minta satu?” pungkasnya, terduduk di sisiku.

Serta-merta kuangsurkan pak merah manyala itu ke hadapannya. Ia menyundut satu batang. Punggungnya melesak di sandaran sofa. “Bukan hari yang baik?” Asap secepat kilat berjumat pagu.

Aku mengedik, membiarkannya mencuri lihat kertas renyukku yang kesepuluh. “Tidak begitu baik untuk agensiku.”

Well, kuyakin, kau hanya perlu menikmatinya.” Ia menyesap sekali lagi, lantas mengoper batang yang sama padaku. Asap itu merebak melalui hidungnya yang bangir.

“Tenggelam dalam kalimat-kalimat yang sama untuk kesepuluh kali?”

Estafet rokok ini mulai membuatku kehilangan akal.

Ia terkekeh. “Dan kembali ke kertas pertama kala kau memikirkan sesuatu.”

“Yang benar saja?”

“Ini perkara meracik kopi. Terlalu banyak elemen pemanis sampai kau lupa pahitnya.”

“Dan kau baru saja lupa soal giliranmu,” pungkasku.

Well, sorry,” ujarnya. Kami seolah-olah tak perlu menghitung, senja yang satu ke senja berikutnya, dan puntung itu akan memendek dengan sendirinya.

“Aku lupa bertanya soal jumpa persmu minggu lalu? Apakah itu hebat?”

“Entalah,” aku masih mengepulkan asap sembari bernostalgia. Seingatku hidup dan semengenaskan itu. Boleh saja menempatkan di tengah kolam bebek. Tapi, aku selalu menjadi perenang nomor satu.

Aku menyesap lebih banyak nikotin Winston sementara paru-paruku menggelar orasi. Di panggung petang kelima di bulan Oktober, aku mengalami sensasi tenggelam yang pertama.  Lantaran pertanyaan itu meluncur, apa inspirasimu terhadap karya hebat itu?

Entahlah. Kupikir, aksi mengenai distrik sembilan puluh tak lagi menjadi hebat di benakku. Kata-kata lawas, pemikiran-pemikiran Yorke hanya akan mengenap seperti serapah Nietszche di radio. Kopong; berangsur diberangus pemikiran baru.

“Kuyakin mereka masih memujamu seperti dulu,” bujuknya; aku mendengus.

“Seperti kala kau membawa antrean masa itu di minggu pagi untuk tanda tanganku?”

“Tentu saja.”

“Jangan konyol.”

“Aku sama sekali tidak mengada-ngada.”

Bagi seorang A, aku benci berjalan di tengah kloset trofiku. Mengenang masa lalu malah tambah membuat pilu. Satu kata kutulis, kupikir aku tak lagi seperti dulu. Dengan kata-kata cerkas, aku membual dengan hebat. Jurus-jurus jitu memerangi kehidupan. Tapi, aku justru kalah dalam pertempuranku sendiri. Bukankah itu lucu?

Jo tidak menyahut, ia menurunkan kedua kakinya yang tadi tercangkung di depan dada. Lafayette Street di pukul sebelas. Berjam-jam kami bermain kata. Dan ia baru sadar kalau harus menutup tokonya.

“Kau akan menutup pembicaraan ini begitu saja?” tanyaku serta-merta.

Ia mengedikkan bahu.

“Tanpa wejangan dan pemikiran-pemikiran sinting?” Aku tahu, permainan senja itu tidak berjalan seyogianya, alih-alih, sebuah konsultasi sinting mengenai kolam bebek.

“Kau sudah terlalu banyak memilikinya.”  Jo beringsut menuju kaca muka, membalik papan “open”.

“Jangan bercanda,” singgungku, enggan membereskan kertas yang bertemperasan di atas meja.

“Ingat bagaimana kau membuatku?”

“Kupikir kau seorang barista hebat, Jo.”  Dan Jo memang kian hebat disanding pertama kali menjumpainya di balik pintu.

ABI.

Aku yang mencintainya terlebih dulu. Seperti ia mencintai kretek yang terkepit di antara dua jemari. Berharap mencicipi bibirnya, bagai ia memagut hilirnya dengan desah napas tertahan. Menari rancak di hadapan kedua matanya, laksana untaian asap yang berdesir.

Malam itu terlalu gelap untuk berbincang. Segelap kulitnya yang sawo matang. Kami duduk bersisian. Memperhatikan gelas-gelas kaca yang berendeng. Lucu. Menertawakan diri. Bertelekan siku sembari melempar senyum.

Gigi itu sudah kuperhatikan barang semenit lalu. Putih tak bersilap duka, menabrak cangkir kopi ketiga alih-alih bibir botol kaca. Kemeja biru khalis tanpa noda. Namanya Abi. A sebagai akronim Arjuna, lantas otot-otot yang menonjol di lengan tembaga itu adalah milik Bima. Abi baru saja memukauku dengan caranya; dengan cerkas matanya, pun ekor bibirnya yang terjenggut cuar. Ia berbeda. Dari sudut mata dan kulit yang mencoraki kesepuluh jemarinya. Ada yang membuat giginya nampak kontras, tak seperti diriku.

Aku mungkin mencintainya terlebih dulu; ia kepalang membenci diriku. Jejap pada cara dudukku yang menyilangkan separuh kaki. Mengetup-ngetup lantai linoleum dengan nada-nada sumbang menandak. Sinkopasi itu bukan milik Adhitia Sofyan, pun gitar akustiknya; nada itu milikku. Biar saja sumbang, toh Abi meliriknya, ‘kan?

Ia jatuh hati pada kakiku. Aku yakin itu. Tetapi, ia benci diriku yang bermata sipit. Berkulit kuning langsat. Dan berbau hiu alih-alih parfum kelas satu.

Sudah tiga kali aku membasuh diri, bau itu tak kunjung raib. Dari ujung helai rema, memang aku tak dapat menipu, karena aku sudah sebegitu dibenci oleh dirinya. Tapi, aku kembali pada malam saat kami menatap satu sama lain, berkontemplasi mengenai identitas dan harkat; sepatu hingga tudung kepala; riasan atau pun gamis.

Aku akan selalu menjadi yang mencintainya terlebih dulu. Memadu perbedaan. Pun menyadari kesamaan. Bahwa kami sama-sama mencintai, kendati silih membenci.

TEH CELUP.

Semua orang berlomba-lomba menyalahkan kretek, sementara Kay mendewakan batang lencir itu. Ia suka Black dengan aroma teh celup. Mengingatkannya pada perempuan tua itu. Biasanya mereka bercengkerama hingga senja tandas, begitu juga dengan poci yang telah dijerangnya.

Hari itu ia berpakaian lengkap; scarf, korduroi, pun kemeja hitam. Aparel konyol yang tak pernah ia lirik di etalase butik SoHo. Hingga Drew membelikannya satu, Kay tak percaya ia harus mengenakannya sepagian. Di tengah kabut yang melayahi langit Tribeca. Duffle coat dengan ikat pinggang yang masih terbebat rapi. Lidahnya pahit saat ia mencari-cari kotak ketiga yang mungkin terselip di ceruk saku.

Kaki-kaki jenjangnya bersandar mundur. Napasnya terhela panjang. Batang hitam itu adalah batang terakhir, setelah tiga kotak yang baru saja ia borong di Brooklyn Vaper semalam. Tumitnya kini terasa ngilu, heels yang mengganjal tungkai kakinya menggerus-gerus permukaan aspal.

“Perlu korek?” sahut seseorang di belakangnya. Kay mendengus kecil, ia hafal kode itu, “korek” yang takkan pernah ditawarkan oleh Dom, Andy, atau rekan-rekan sejawatnya yang lebih nyaman berkata “lighter”. Kay merogoh-rogoh saku sebelah; pemantiknya hilang. Seperti Zippo yang selalu ia tinggalkan di meja saat sesi senja. Matanya terpejam kuyu, ia rindu omelan perempuan ringkih itu; mengkritiknya yang lagi-lagi merokok di sotoh griya tawang.

Kay tak banyak bicara. Ia mengangsurkan batang yang terselip di bibirnya. Memajukan separuh tubuh sementara laki-laki bersetelan hitam itu menyelomotinya dengan batu api. “Thanks,” ujar Kay.

“Aku turut berduka, Kay,” ujarnya.

Kay tersenyum pilu.

Satya mendekapnya perlahan, seperti yang selalu Kay rindukan saat terakhir kali memandang punggung itu meninggalkannya di garis lampu merah. Kay benci jika sesekali ia harus mengakui, ia menyukai hari itu. Kala setiap orang yang tak pernah ia jumpai muncul dari balik pintu. Seperti pintu subway yang selalu memberinya kejutan; Satya yang muncul dengan senyum sumringah.

“Aku gak tahu kalau kamu bakal datang,” Kay menjentikkan abu kreteknya di birai balkon. Memandang sekilas, semuanya masih sama. Satya yang jangkung, dengan surai ikal yang sesekali melompat keluar dari galur telinga, dan senyum rikuh yang kerap dilemparnya. Wajah orientalnya yang tersipit-sipit jengah. Kontras bersanding di sisinya dengan kulit sawo matang dan mata cakram pekat.

“Drew menelepon aku semalam,” bisik laki-laki itu.

Sudah ia duga. Kay terdiam. Mengangsurkan Black favoritnya ke hadapan Satya, laki-laki itu tersenyum. “Aku sudah berhenti, Kay.”

Perempuan itu menyeringai kecut. Membayangkan benak Satya yang menilai bau napasnya; kontras antara teh celup dan tembakau. “Padahal kamu yang pertama kali mengajariku.” Sesapnya dalam-dalam, batang itu sudah tandas seperempat.

“Dan bunda ngomel setengah mati malam itu,” imbuhnya perlahan, melepaskan rangkulan di bahu Kay.

“Aku kira kamu lupa,” Kay menyenggolnya dengan sengaja.

Satya tidak menyahut. Kay tahu benar perangai laki-laki itu. Handai taulannya dengan rambut ikal yang pertama kali mewawancarinya untuk buletin bulanan. New comer, kata seantero high school. Awalnya Kay pikir itu konyol. Sekolahnya di Tomang dulu bahkan tak pernah memasukkan data dirinya ke mading mingguan. Tapi, laki-laki belasteran itu malah bilang ia ingin mewawancarai Kay untuk alasan seorang siswa baru.

“Kay?” panggil Satya.

“Aku rindu kamu, Sat,” sergah Kay lekas-lekas. Namun, ia memandangi kembali tubuhnya dengan atribut serbahitam. Begitu juga dengan tubuh jangkung Satya yang dibalut dengan kemeja yang sama legam dengan miliknya. Ia merasa buruk pada perempuan tua itu, yang mungkin saja kala itu memandangnya dari kejauhan.

“Aku juga rindu kamu.”

Kay menarik napas dalam-dalam. Melirik cincin platina yang melingkari jari manis Satya. Rindu itu mungkin hanya sebatas bertegur sapa bagi Satya, tapi berbeda dengannya. Rindu selalu menjadi bidah. Tatapannya berubah sayu. Langit ini beranjak jingga, dan Kay baru saja menyisakan tempat mungil di sotoh griya tawang pribadinya.

“Aku ketemu benda ini di gudang,” sekonyong-konyong jemari itu mengeluarkan benda persegi balik saku blazer.

Ada tawa kecil yang Kay perdengarkan. Terpelecat begitu saja di antara gigi-gigi putihnya, ia tak menyangka Satya ingat tentang walkman uzurnya.

Kay memindahkan rokoknya ke tangan kiri. Menerima walkman itu dengan hati-hati. Satya yang masyuk memilah kabel headset, lantas memasangkan salah satu speaker reniknya di telinga. “Kay?” angsur laki-laki itu; Kay memasang yang satunya di cuping kanan.

Sudah lama sekali 1979 berlalu, seperti kata Billy Corgan di senja terakhir mereka bertemu. Koleksi vinyl The Smashing Pumpkins yang berbanjar di rak toko loak Downtown. Kikik tawa saat Satya memamerkan walkman dengan mixtape pertamanya. Dan ciuman pertama mereka di bawah ayoman Ford Mustang milik ayah Satya.

Kay membiarkan asap kreteknya lesap ditelan angin. Jantungnya semakin berdegup; Satya menutup mata di sisinya. Mandibula tirus yang selalu ia bayangkan saat bangun di pagi hari.

“Aku tahu, kamu belum melupakan kita, Kay,” ujar Satya.

Kay termangu, sejurus saja ia bisa mendengarkan bantingan pintu di hadapan matanya. “Bisa tolong jangan bahas itu.”

“Lalu kamu bakal menghindariku terus.” Mata kelabu itu mengisarnya dengan sejuta arti. Mungkin ia rindu, tapi itu bidah; mungkin ia risih, tapi ia perlu seorang handai kala itu. Kay menatap lurus, ke gedung seberang dengan ukiran-ukiran pilar ala Renaissance. Riap rambutnya tertiup lembut.

“Aku gak menghindar, Sat. Tapi, ini bukan waktu yang tepat,” ucapnya lamat-lamat.

“Aku pengin kamu bebas.” Satya tak peduli dengan dalihnya; dengan pakaian serbahitamnya; dengan raut kuyu; dengan kerabat dan para taulan yang berkeriap di lantai bawah.

Ctak. Tombol play kala itu menyembul naik. 1979 menyisakan klakson taksi yang mengantre di sisi jalur pedestrian. “Bebas beraspirasi, sekaligus bebas untuk memilih.”

Kay lupa rokoknya habis. Tandas seutuhnya begitu juga dengan puntung-puntung yang bertemperasan di bawah kakinya. “Sudah saatnya kamu bergerak, Kay.” Jemari kurus Satya menahan lengannya; Kay kewalahan menahan rasa pahit  di hilir lidahnya.

“Cukup, Sat!” sentaknya.

Bungkus kretek di sakunya terlebih dahulu berhasil dirogoh Satya. “Kalau begitu aku ingin kamu berhenti juga.” Ia membuang kotak kosong itu

“Kamu gak berhak mengatur apa-apa tentang aku. Kamu sudah punya Mai.”

“Dan kamu?”

Pertanyaan singkat itu cukup menyadarkannya. 1979 bisa saja sekadar ilusi. Satya yang terlebih dahulu mencabut speaker dari cuping telinga. Headset itu diletakkannya menggantung di birai balkon.

Dua kali tepukan berat itu didaratkan di bahu kanannya, tepat sebelum kelotak pantofel beradu dengan permukaan sotoh.

Teh celupnya baru saja habis untuk selamanya.

ISENG.

“Hujan,” katanya, bukan mengutip salah satu pepatah Socrates. Hujan seperti rintik yang tengah menyapu patio belakang. Kepala di hadapannya melongok. Mungkin itu sebuah alasan, taksirnya. Jemari kurus itu meramban pelipir kursi, lantas terperenyak begitu saja di atas busa. Bukan Skoal, asbak putih itu dibiarkan bersih. Alih-alih menggelar parade asap, kedua tangannya terlipat di atas meja, silih tindih, lantas mengetuk-ngetuk pinggirannya. “Kucari Kamu” berlindap dari speaker uzur kafe pinggiran. Keroncong semi jazz sendu.

Tamu itu bertandang tanpa diundang.

“Kamu sendirian ya?” tanyanya, bibirnya gatal, dikerubungi tanya. Melucuti papan menu, namun lagi-lagi meletakkannya serta-merta.

Rindina lantas menutup buku, ia pikir, pria itu akan raib, berevaporasi ibarat kumulus uap yang mengeriapi cangkirnya.

“Iya, Mas.” Napasnya sengaja diberi jeda, berharap seorang waitress menghampiri mereka.  “Mas Raka sendiri?”

Nyatanya tidak. Seharusnya ia sudah tahu kalau itu Raka. Dan Rindina baru saja terpergok dalam momen goblok. Memainkan tali jaketnya yang mengular di pundak.

“Menunggu klien.” Lengan kekar Raka bertumpu pada pegangan formika. “Kamu sering kayak gini?” Kaki jenjangnya terlipat di atas tungkai lainnya.

“Gini gimana?” Rindina hanya pura-pura pilon, berandai-andai kalau yang menemaninya adalah koloni standar; kertas dan pena.

“Baca buku gitu,” bahunya melenting mungil. “Saya sangka kamu lebih suka buang  waktu di balik layar komputer.”

“Itu juga suka sih, tapi gimana ya …?” Rindina menggenggam ponsel di saku jaketnya—hendak menekan tombol potong nomor tiga. Ia benci sendirian, tidak dengan Andini, rekan dismorfianya. Dini bisa jadi akan membenarkan letak roknya sebelum bicara, tapi itu setidaknya lebih baik alih-alih konversasi putus-nyambung-tulalit barusan. Bahkan sekarang lidahnya hanya berpasrah, menggelendoti langit-langit.

“Jadi gimana?”

Lucu. Bagaimana bisa “jadi gimana”?

“Er, i-iya. Iseng nunggu hujan.” Rindina terbata-bata menurunkan sebelah kakinya yang tersilang di atas sofa. Ia berangan, kafe itu miliknya, kendati hanya menyewa sepetak dua kali tiga dengan secangkir Tora Bika.

“Tapi, gak di malem minggu gini dong. Bersama Sun Tzu lagi.” Mata sayunya mendelik. Meraup yang seharusnya tidak ia sentuh. Buku merah manyala itu tergeletak renyuk bekas dijejalkan merangsek kotak pen tablet. “Jangan-jangan lagi nyusun taktik perang nih,” goda senyum tipis itu.

Rindina meringis. Kalau boleh tidak sopan, ia ingin menggaruk-garuk kepala. Bingung. Rambang. Tapi, bisa-bisanya ia jeri. Sesekali menengok ke arah pintu.

“Eh, kamu … gak usah setegang itu deh. Dan gak usah pake “mas-mas” itu. Kita kan bukan ketemuan gara-gara proyek Drupadi, santai aja gitu. Rileks.”

Mana bisa rileks. Ia lebih baik membahas proyek gila itu sekali lagi, tidak hanya Drupadi, mungkin bisa bersekuel-sekuel, lengkap ke cucu, cicit hingga canggah Yudistira. Ampun.

“Iya, Ma-as. Saya cuma iseng menghabiskan waktu saja di sini.”

“Tapi gak di malem minggu kayak gini ‘kan?”

“Nggak juga sih. Sayangnya malem ini saya memang sendirian. Mas sendiri lagi menunggu siapa?” Hah! Ia menemukan poin itu, seperti kata Sun Tzu, “pisau terselubung dalam senyum”, kini Rindina menyunggingkan senyum tinggi-tinggi. Raka yang terlihat sempurna di benaknya pasti ada cacat cela.

“Er, ada sih … temen.”

Satu sama. Raka meletakkan buku merah itu di atas coffee table. “Kopi tubruk satu ya, Mas,” ujarnya dari kejauhan. Obrolan itu bisa jadi menarik. Berlatarkan kafe yang lebih mirip warkop megah. Kerai yang mengarah ke patio belakang terbuka lebar.

“Temen?”

“Eh iya, Dini bilang kamu suka nulis.”

“Pinter banget sih ngelesnya, Mas.”

Dari yang terkekeh patah-patah, keduanya kini menertawakan seloroh aneh itu.

“Iya deh. Temen saya tadi janjian pengin ngobrolin sesuatu, tapi cowok lho,” timpal Raka.

“Gak bakal saya rebut kok.” Sekilas Rindina tercenung, dalam lima menit cangkir yang terhidu menjadi berbeda. Jemarinya terasa ringan merangkul cuping putihnya; tiga per empat gelas sudah isinya tandas.

“Serius deh, tentang kamu yang suka nulis. Apa saya boleh baca?”

“Uhuk!”

Rindina terbatuk.

“Rin?” Raka buru-buru mengangsurkan napkin yang terlipat di atas meja.

“Uhuk! Uhuk! Nggak—uhuk! Gapapa kok. Makasih, Mas,” ujarnya, serta-merta mengelap kopi yang kini tumpah ruah, menodai jaket putihnya. Shit!

“Maaf lho bikin kamu kaget. Tapi, kalau saya pikir, kamu hebat lho, bisa meng-handle keduanya.”

“Cuma iseng kok, Mas.”

“Iseng bagaimana?”

Lagi-lagi “bagaimana”, apa tidak aklamasi lain selain “bagaimana”?

“Ya nulis iseng gitu, buat diposting di blog pribadi aja. Toh saya gak berminat jadi penulis beneran. Kayak Mas yang suka di bagian advertising, tapi buat iseng aja.”

Raka mendengus. “Kamu lagi nyindir saya ya, Rin.”

Eits. “Nggak kok.”

“Saya tahu, mungkin saya sok ikut campur dan perfeksionis, tapi kamu bener, saya memang suka iseng. Iseng itu kadang baik ‘kan?”

Rindina enggan menimpali. Jantungnya tak merasakan rasa lain selain melompat-lompat kesetanan. Sinting! Gila! Miring! Dobel combo, kalau kata Egi dulu, yang keranjingan Nitendo. Bisa-bisanya ia berlagak satir, menghina kliennya. Kalau ia mencoret kontrak di depan mata, bagaimana? Atau jangan-jangan merobek surat itu menjadi dua belas bagian, mirip yang kerap dilakukan dosennya dulu. Sudah sukar mengukir dan memadu warna, eh, tahu-tahu hanya kucing liar yang menjadi penikmat semata.

“Iseng memang perlu, Mas. Tapi, saya minta maaf buat yang barusan,” kikiknya kecil.

“Gak masalah. Kita kan bukan klien-desainer sekarang. Cuma ada Rindina dan Raka, ya kan?”

Rindina dan Raka? Seperti itukah yang seharusnya terdengar?

“Eh, Rin!” Raka sontak mendorong kursinya, berjungkit kecil, sembari memperdengarkan kerit yang memekakkan telinga. “Temen saya udah dateng nih.”

Rindina terkesiap. Menoleh ke belakang.

“Ra—” pria itu berkacamata berbingkai hitam, tipis, dengan senyum luntur. Jabat tangannya hanya sekenanya di pipi telapak. “Rin? Kenapa di sini?”

Oke. Sungguh jenaka. “Egi?”

“Lu kenal sama Raka?”

“Raka ‘kan?”

“Egi? Mas Raka? Temennya—”

“Tunggu! Tunggu!” serobot Egi. “Jangan bilang ini klien yang—”

“Egi!” semprot Rindina, tak sabar lagi menarik tangannya untuk segera duduk.

Raka salah tingkah, atau lebih tepatnya tergopoh-gopoh menerima angsuran cangkir kopi tubruk dari atas pinggan plastik.

“Kok bisa di sini sih?” tanya perempuan itu tidak sabar. Buku-buku jarinya menancap mantap di lengan Egi.

“Iya, kan gue memang janjian sama Raka. Itu mau ngediskusiin tentang akustik proyek gedung teaternya di Singapura.”

Gak lucu. Dan gak logis, ia tidak mungkin bertemu dengan seorang Egi karena ia tahu, Egi bukan penyendiri. Egi mungkin ‘penyelia dasbor’ seperti dirinya, tapi dasbor itu bukan dasbor tak berpenghuni.

“Egi!” seseorang menyembul dari telundakan patio.

Shit! umpat Rindina dalam hati.

“Eh, Ka. Nih kenalin temen gue,” Egi berdiri tegap; Rindina merasa dirinya melesak di antara parit sofa.

“Okta. Oktarino.”

“Raka. Raka saja sih.”

Perempuan itu menggigit bibir, mencoba mengartikulasikan sebuah nama yang tersemat pada lawan bicaranya. Jadi ini toh Raka si Perfeksionis itu?

ENAM, TUJUH PER TUJUH.

Angka itu tak seyogianya berendeng di atas meja. Melingkari lurik kertas seperti yang dieja Egi untuk ketiga kalinya. Delapan digit berwarna jelaga, beremblem sebuah nama persero akbar yang dikenal lekat dengan masyarakat Bandung.

“Lu yakin nemuin ini jatoh dari tasnya?” Egi curiga aku membual. Kerai kacamatanya menilik sarkastis, terlebih kala mendapatiku tak beranjangsana bersama Rindina seperti biasanya. Jangan salahkan siapa-siapa, toh perempuan itu nampak lebih berseri, menghabiskan waktu dengan kliennya.

Kartu nama itu digamit Egi separuh jari, menggelendot nyaris melorot mencium lengan sofa. Hanya ada kami di pojok Starbucks. Di belakang dinding konter. Aku melempar pandangan ke luar pintu kaca, urung mencucuh Djarum Black dengan batu api pemantik. Senja itu hujan tengah berekspansi. Kurik bergaris seperti yang selalu kunikmati berduaan dibingkai jendela mobil.

“Iya dong, siapa lagi coba yang naik mobil gue. Lu?” Mataku mendelik gemas. Egi mendengus kecil.

“Siapa kek? Dini, mungkin? Bisa aja itu klien dia.”

Egi menutup bukunya, Madam Bovary karya Gustav Flaubert—yang naga-naganya akan diwariskan kembali pada si Penyintas Dasbor. Aku menarik napas tak sabar. Entahlah. Bandung macam sudah berubah. Tak seperti yang selalu kurindukan di penghujung minggu.

“Ta? Woi, Ta? Lu denger gue gak sih?” Egi menyenggol lututku.

“Eh? Iya?”

“Lu mikirin apa sih?”

“Nggak kok. Gue lagi mikirin gue sama Dini,” kalimat itu meluncur begitu saja. Egi tersengih.

“Napa senyam-senyum? Dari zaman wafer Superman kayaknya emang lu demen banget ngetawain gue.”

“Tumben-tumbenan bintang FTV galau, gue kira galau lu udah kesedot semua buat akting.”

Aku menyesap cangkir teh itu dengan tak sabar. Mengangkat sebelah kaki, sembari mengeluarkan ponsel dari ceruk saku.

“Gue tau, lu masih mikir tentang nomer itu.”

“Itu bukan urusan gue, Gi. Dan ya … mungkin lu bener. Bisa jadi itu punya Dini.”

“Nah, lho… lu gak cemburu sama Dini atau cemburu sama si Raka itu?” Ia terkikik kecil. Sialan. Satu hal yang tak pernah kumengerti dari Egi. Ia selalu berhasil menggiringku ke sisi pojok, ibarat Jisung Park menggulirkan bola.

“Kampret lu, Gi!

Egi tertawa keras. Petak empat kali tiga mungkin tak sempat mematok derainya hingga melayap ke konter kasir.

Aku memasang wajah masam.

“Eh, tapi kayaknya bukan dua-duanya deh.”

“Bukan apa maskud lu?”

Aku menurunkan kaki. Memajukan bahu. Egi bukan juru kunci; tangan kirinya melengas, sehabis mengenggam gelas Iced Vanilla Late.

“Ya, lu gak cemburu ke Dini, tapi ke orang lain.”

“Siapa gitu?” Egi sukses membuat kedua alisku berjingkat.

“Ah, udah gak usah dibahas.” Ia mengibas-ngibaskan tangannya.

“Eh—”

“Dodol sih lu,” umpatnya membuang muka. Napasnya menjeda seperempat detik. “Lu tau gak sih, Ta …”

“Tau tentang apa?”

“Tentang itu.” Ia menunjuk ke cangkir tehku. English Breakfast Tea yang agaknya ia kira terlalu feminin untuk perbincangan ala laki-laki. Aku tertawa kecil. Ditahan-tahan, sembari tidak mengerti.

“Udah keempat kalinya gue mergokin lu minum English Breakfast Tea.”

“Terus? Lu mau tanya, apa gue gak bosen sama English Breakfast Tea?”

“Nggak. Tapi, itu ‘kan minuman favoritnya Rindina.”

“Masa?” Aku separuh terbatuk. Batuk terkonyol sekaligus menohok.

.

.

Ada kalanya aku tak dapat membedakan hitam dan putih.

Nyata dan fiksi.

Lantaran lini itu telah membaur dengan kurik beritme keenam dalam tujuh per tujuh.

 

           

DISMORFIA PUBLIK.

Sebagaimana bossa mengalun, ketuk bolpoin itu selalu menjadi staccato pengiring. Denting statis; decak lidah berkasak-kusuk menghantui jeri. Ada tiga yang menjadi pertanyaan Andini: a) bagaimana bentuk alisnya, b) bagaimana dengan pose duduknya (apa klien mereka akan tertarik); dan c) yang terakhir, apa pakaiannya menarik? Kalau boleh, Rindina pasti sudah membatin dari komuter bus Damri yang hendak mereka ditumpangi, menepi di kanopi Leuwi Panjang. Menerka kalau sahabat karibnya seorang pengidap dismorfia.

“Udah, Din, tenang aja deh. Kita ‘kan cuma ketemu klien. Yang penting sopan, toh semua bakalan deal.” Rindina berhenti memainkan bolpoin hitamnya; mengendarkan pandangan ke patio kafe.

“Tapi, gak bisa gitu dong, Rin. Gue ngerasa gimana gitu kalau gak oke. Kebayang deh kemaren …” Andini menarik keliman roknya, berusaha menutupi lutut. Lucu. Jumbai brokatnya bahkan menggantung sepuluh senti mengayomi paha.

Duh, lagi-lagi. “Rin, lu dengerin gue gak sih?”

Rindina sibuk menekuri jungur sepatu. Sneakers Chuck Taylor usang yang kerap menemaninya menerjang lopak hujan.

“Eh, iya. Sorry, Din. Gue lagi mikir soal topik ntar. Takut grogi gue.” Rindina membolak-balik halaman agendanya dengan tak sabar.

“Gue aja yang ngomong entar deh.”

“Mungkin gitu lebih baik. Gue nyatet aja, kayak biasa. Nanti baru deh konsep advertising-nya gue olah di rumah.”

Andini menghela napas, menyesap teh limunnya yang masih mengepul. “O ya, Rin. Boleh tanya sesuatu?” Ada bunyi denting yang mengadu, entah sendok dengan sembiran cangkir atau cangkir dengan lapik keramik.

“Um, iya?” Alisnya tertaut menjadi satu.

“Soal Okta.” Andini memajukan tubuhnya; Rindina menarik napas. “Dia aneh banget deh kemaren.”

“Maksud lu?” Ia hanya berharap sesuatu dapat menarik Dini untuk tak membahas nama itu. Bossa bahkan terlalu elok untuk diinterupsi. Jemarinya memutih, tak sadar mencengkeram sisa kain jinsnya.

“Pas kemaren, dia romantis banget. Lu tau sesuatu ‘kan?” Dini meniliknya dengan manik bersaput lensa kontak biru.

“Er,” Rindina tertunduk, aduh, tolong. “Dia memang orangnya gitu sih. Tapi, gue juga gak seberapa kenal sifat dia.”

Bohong.

“Lu kan temenan sama dia dari lama banget.”

“Iya sih, tapi gue gak sering-sering banget ketemu dia belakangan ini. Lu tau lah, dia udah jadi orang terkenal. Gue—mungkin bisa jadi dia kadang lupa sama gue.”

Well, gue sempet ngira lu berdua pacaran.”

Rindina membeliak. Gawat. “Gila ah lu, Din. Gue mana mung—”

“—mungkin aja kok, Rin. Tapi, lu kok kayaknya gak tertarik sama siapa-siapa deh.”

Rindina mendengus. Dengih konyol yang mengingatkannya dengan desing semprotan obat nyamuk. “Gue tertarik kok.”

“Wih, sama siapa?”

“Beneran pengin tau?”

Dini ganti berbinar. Celak ungunya disimbur percik penasaran. Lehernya mengangguk tiga kali.

“Siapa nih?”

“Raka.”

“Raka siapa?”

“Raka, karakter di novelet gue.”

Dini mendengus geli. “Sinting ih lu. Mana dapet cowok coba kalau lu gitu melulu. Pacaran sama tokoh fiksi. Sampe lebaran monyet kayaknya bakalan ngejomblo.”

“Biarin.” Rindina mencebik, diekori gelak tawa; tanpa sadar menggerecoki meja tetangga. Keduanya nyaris tak memperhatikan kemeja bergaris yang sedari tadi mengamati dari beranda masuk.

“Er, Rindina?”

Rindina sekejap bungkam, mengatur napasnya yang masih berbias kekehan. Andini yang buru-buru merapikan roknya, berdiri kikuk.

“Mas itu …?”

“Er, iya, saya Raka. Yang janji ketemuan, sekretaris saya bilang kalau tempatnya di kafe ini. Ini beneran Mbak Rindina ‘kan?”

Dini menyenggol pinggang sahabatnya tak sabar.

Raka. Sial. Satu hal yang bisa membuat semuanya menjadi pelik.

Yaitu, takdir.