Cutting Veins, Pt. 2

Cutting Veins, Pt. 1: https://unbrewedcoffee.wordpress.com/2015/07/29/cutting-veins-pt-1/

.

.

Sepulang sekolah, aku menelepon Earl. Alih-alih, ponselnya ditangguh ke nada tunggu. Berharap gegas bertemu, aku harus memberitahunya mengenai pengintaian malam itu. Kami berada dalam bahaya.

Berganti ke nomor cadangan Rex. Ia tak mengangkatnya.

Memainkan jemari, aku menggigit bibir, menutup ponsel, dan memutuskan mengambil langkah besar lewat gang belakang Leith Academy.

Citadel selalu punya penghuni, Chip biasanya yang paling kerasan tidur tidak memakai celana. Namun, kala itu Rex yang pertama kali kutemui, tengah buang kencing di foyer yang lebih mirip puing tsunami.

“Maaf untuk rencana membolos tadi siang. Aku terpaksa masuk kelas Mrs. Jones,” ujarku. Aku tak langsung masuk. Sejurus melongok, aku harus bertemu Earl.

Rex mendengus. “Kami sudah membongkar mobilnya tanpa dirimu. Ada pistol Luger di dalam sana.”

Luger.

Langkahku terhenti. Aku berusaha mengatur napas yang nyaris membabi-buta. Memikirkan malam yang tak mau raib dari benakku.

Rex merangsek masuk; aku mengejarnya. Dua langkah dari ventilasi masuk. Earl sudah berdandan bak Iggy Pop. Ia menanggalkan kemejanya, menyisakan korduroi biru. Mereka baru saja menggeledah Chevrolet milik Enzo, mobil yang menjadi proyek abadinya selama puluhan minggu. Chip mempreteli satu per satu ban depan, membongkar kompertemen dasbor. Dan Earl sukses mencungkil bagasi belakang, termasuk melongok ke kolong jok.

Luger keparat itu terkepelai di atas sofa. Chip menjelajahinya sembari tertawa-tawa. Mengusap magasinnya dengan kaus, bergaya sok menembak ke arah dinding. Siung. Seolah itu tontonan paling lucu di dunia.

“Kami menemukan Luger di dalam sana, Tip. Di dalam kompartemen dasbor. Apa kau mengenalnya?” Rex yang pertama kali bertanya. Aku menatap Earl. Cuping hidungku kembang-kempis.

“Aku tahu, kau mengenali benda ini,” ujarnya.

Satu hal tentang Luger itu, aku tahu soal jungurnya yang dingin. Menggigil ke di pipiku.

“I-itu milik Enzo,” ucapku. Aku tak tahu harus melirik ke arah mana. Chip yang mulanya tak peduli, beringsut berdiri di hadapanku.

Bollocks. Ia tahu lebih banyak dari itu, Earl,” Chip menyipit ke arahku. Kendalikan dirimu, Tip. 

“Ayolah, Tip. Kami enggan menyiksamu untuk sekadar berkata yang sejujurnya.” Earl berjalan satu langkah, tapi entah apa yang membuatku amat ketakutan. Seolah ada tabir sebesar piringan asing yang melayap di atas kami, menutupi celah-celah rompal dari para-para bangunan. Leherku dibanjiri keringat. Mengingat napas berbau tembakau yang berbisik di sisi telingaku.

“A-aku—” aku perlu sejurus untuk mereguk liur. Rex mengambil pistol Luger itu dari tangan Chip. “Tolong j-jangan tembak aku,” sergahku terbata-bata. Kedua tungkaiku kebas. Bersinjengket mundur, malah menginjak keliman celana.

Rex mendengus geli. “Tip, kau baik-baik saja?” Earl berjalan kian dekat.

“J-jangan tembak aku,” suaraku berubah menjadi rintihan, kugigit lidahku sekuat tenaga. Terjungkal dengan bokong mencium aspal. Earl berlari mendekatiku. Aku menarik kaki, terjajar mundur dengan kesepuluh jemari.

“Tip, hentikan itu. Kau tidak harus bersikap seperti ini.”

“Jangan sentuh aku! Tidak! Dasar homo!”

Jemari Earl berhenti. Terlalu sering ia diancam dengan kata ‘homo’, tapi kata itu tidak pernah meluncur dari bibirku. Bersirobok dengan matanya begitu nanar. Ia mendengus, seolah yang barusan itu adalah akting terburuk yang pernah dijumpainya.

Earl tidak berbicara, ia berbalik, sebagaimana aku hanya memerhatikan jinsnya yang kedodoran menjauh. Menyelomoti batang rokok apapun yang ia temukan di meja, sedang aku menyelisik isi tas yang berhamburan di aspal.

****

Kebohongan pertama yang paling kuingat agaknya ketika aku berumur tiga tahun. Mendiang ibuku bertanya, apa yang hendak kaulakukan saat besar nanti? Aku tidak menjawab, gigiku hanya membentang jadi satu deret singkat, tanganku meramban miniatur astronot itu.

Begitu naif. Aku ingin jadi astronot. Tapi jika sebuah pilihan (d) ada di kuisioner ruang konseling, aku akan mengisinya dengan kata: “pembohong”.

Cukup singkat. Dan pekerjaan itulah yang sejauh ini paling mumpuni kulakukan, menurut Enzo.

Jangan sangkut pautkan Earl. Anggap saja itu satu rekaman dari koleksi besar yang akan selalu kuputar jelang sesi perkenalan. Dan perkenalanku dengan Enzo bukan lantaran bokongnya yang salah terperenyak di bangku kantin.

Lantaran Enzo memergokiku dua hari sebelumnya, bersetelan kemeja dan berdasi biru. Berjalan tergial menanggapi telepon Earl sembari melewati Albert Street. Dan cuaca tidak cukup terik untuk udara Edinburgh yang lembap. Itu transasksi ketiga puluh Enzo yang berjalan nyaris tidak sesuai dengan rencana. Regulasinya mudah, Enzo perlu satu setengah tahun untuk meyakinkan si gempal keparat Barry untuk menyerahkan heroinnya untuk distributor yang lebih intim. Tak perlu uang muka, sekadar peluang konsinyasi.

Mereka menyebutnya Barry The Blow, seperti lelucon hari kemarin, yang mana ia bermain panggung kabaret dengan pistol dan deretan gigi emas. Bedanya, pistol itu asli dan gigi emasnya bukan sekadar saduran. Lumbungnya sebesar kamp konsentrasi, alih-alih, diisi padi, ia isi heroin dari negeri kincir angin.

Kala itu aku berdiri tegak-tegak; Enzo memasukkan bungkusan cokelat ke dalam ranselnya. Satu jabatan tangan hangat; aku gegas berbalik pura-pura buang kencing di trotoar.

Itu konyol. Jika tak tertangkap basah, pun celanaku akan basah terkena rembesan kencing.

Lima menit, kucoba mencuri dengar derap-derap di aspal. Malah disergap suara yang membikin merinding, “Nyalimu boleh juga, Mate.” Tepukan telak; aku buru-buru menarik ristleting celana. Shite.

“Er, i-iya? Aku tidak tahu apa yang kaumaksud barusan,” pungkasku.

Enzo mengendus. Tingkahku agaknya lucu di benaknya. Ia menyentuh daguku sekali, meniliknya ke kiri kanan seakan-akan jambangan antik di Grassmarket.

“Entalah. Kupikir, kau akan berguna di suatu hari nanti.”

Ia melepaskanku hari itu—aku lupa meletakkan tanda petik di kanan dan kiri. Sekadar sehari, sebelum Earl pulang membawa kabar sinting itu di hari Jumat. Tanpa perlu berselindung, ia tahu benar di mana aku akan terpenyak.

Dan setelah itu Enzo menjadikanku sebagai orangnya yang terpilih. Seperti Barry The Blow dan antek-anteknya yang mencuar nyaris tiga kaki dari jungur hidung. Aku mengikutinya ke mana-mana, tidak sepulang sekolah, bisnis hebat itu digelar malam hari, ketika lampu-lampu meredup dan jalan tak lagi bising.

Dan permainan kami dimulai. “Ingin mencoba?” Kedua kalinya Enzo bertanya, kala itu kami tengah duduk di patio belakang rumahnya, menghidu pipa madat. Malam di bulan keenam sejak insiden buang kencing gadungan.

Alisku berjungkit. Menilik pipa mutakhir ciptaannya, botol mineral bekas yang dibebat berbagai pita rekat.

“Transaksi besok adalah bagianmu. Siap menghadapi Barry?” Ia mengangsurkan pipa dan pemantiknya padaku.

“Tapi besok hari Jumat.” Aku menyesapnya sekali sembari menyulut api; terbatuk-batuk parah dengan mata memerah.

“Peraturan akan diubah, Tip.” Ia tertawa. “Rabu jatahku, Jumat akan menjadi ajang debut hebatmu.” Enzo membangun akademi transaksi itu tanpa sepengetahuan Earl, yang notabene tahu segala hal tentangnya.

Well, mari kita hadapi Barry keparat itu,” seruku. Kami tertawa semalaman. Dan jika ada yang perlu disalahkan, salahkan semuanya pada kanabis kelas tiga yang Enzo dapatkan cuma-cuma.

Aku bertanya padanya mengenai perkara transaksi heroin itu. Mengapa seorang Enzo memilih heroin? “Aku tahu, kau tidak pernah mencicipinya barang setitik,” tantangku dengan cengiran separuh melayang. Memeluk botol madat, kubenahi posisi duduk di atas kursi deck.

“Jangan sok tahu. Aku terlalu sering mencicip sampai-sampai ingin muntah.” Enzo mengentak sneakers-nya. Bersehadap padaku dengan mata sayu. “Ia menyuntiknya berkali-kali, Tip. Tiga kali yang kuingat. Kurasa yang dapat paling kuingat dari wanita keparat itu adalah ketika ia memintaku meraciknya untuk dosis dobel dalam sekali pakai,” dengusannya terdengar payah, tubuhnya ambruk mengempas kursi deck. Tungkainya berderak, untung tidak patah.

Lantas aku tak kembali bicara. Hanya menatap garis horizon yang nyaris raib dilabur malam. Enzo menyulut rokok baru sementara aku menyesap pipa madat miliknya. Sekonyong-konyong saja ia menangis. Bukan dengan efek melodramatis, alih-alih, masih diselundupi tawa sarakastis.

“Wallace, Tip. Kau pernah bertanya mengenai nama belakangku, ‘kan?” celetuknya di sela gemertik bara. Dijeda napas muskil, ia bicara soal Mrs. Wallace yang kerap ia tutup-tutupi.

“Perempuan keparat itu mati lantaran mengendus terlalu banyak heroin.”

Kala itu tangisnya sudah berhenti, seperti Tuhan tak memberikannya cuti untuk sekadar mengenang duka, Enzo bercerita tanpa ekspresi.

“Dan sekarang kau malah menjualnya?” Aku mendengus geli, mempertanyakan paradoks yang begitu sedih.

“Aku perlu perasaan itu, Tip.” Ia duduk berambin. Menyesap lebih banyak asap, lantas mengeluarkannya dari cuping hidung. Sedikit demi sedikit ia malah tertawa, diculik asap kanabis.

“Perasaan takabur kala berurusan dengan Barry?” Aku meliriknya sekali; ia buang muka ke arah kiri.

“Perasaan diinginkan. Ia hanya menginginiku lantaran benda sialan itu.”

Sorry,” ujarku, menyesap lebih banyak kanabis.

Enzo tak lagi menyahut. Manik kelabunya menilikku, bukan biru seperti milik Janet. Lantas, bergumam dalam hati, apa seperti itukah Earl memandang Brent? Seperti saat bungkam di tengah malam; kami tertidur di bangku deck, menggigil sepanjang malam. Menyelinap di kala fajar, melompati birai jendela, dan kembali berpura-pura.

****

Kala itu pukul delapan, aku enggan beranjak dari kasur. Sekadar meramban onggokan buku yang kutimbun di nakas sebagai tugas membaca harian kelas Sastra. Cat’s Cardle dipilih Mr. Keener lantaran terobsesi pada Kurt Vonnegut. Membuka lembar pertama, seseorang pasti tahu, aku tak benar-benar membaca. Jam di pelipir meja menunjukkan pukul delapan; Dad mengetuk pintu untuk ketiga kali, menyembul, sekadar berkata, “Kuharap kau lekas bersiap untuk acara pemakaman itu.”

Dad bukan pria penuh kontradiksi. Ia menutup pintu, sudah dengan setelan kemejanya. Terakhir kami berpakaian serba hitam bukan lantaran menghadiri pesta pernikahan, alih-alih, hari terakhir melihat wajah ibuku di peti mati. Aku masih tidak percaya, harus menemukan wajah Enzo di tempat yang sama.

Menenggak gin yang kusembunyikan di kolong tempat tidur, aku melangkah ke luar kamar. “Sorry. Aku sengaja melakukannya,” ujarku, berjalan menuju patio.

Aku telat lima belas menit dari yang seyogianya. Alih-alih, mengikuti rombongan sekolah. Kepala sekolah kami sengaja menyewa bus untuk membawa murid-murid menuju Rosebank. Kerabat dan teman dekat berendeng di depan; pamannya, si pemilik bengkel dengan perut buncit yang kerap kupergoki berdiri di bersimpangan Leith Docks[1]; Rex; Chip; dan Earl. Tangan tremornya memegangi kertas renyuk.

Ia sempat mencuri lihat ke arahku, sekali. Sementara bibirku memperlihatkan senyum simpatik yang ia tampik jauh-jauh. Kami urung bicara selama dua hari. Malam, teve kubiarkan menyala, kalau-kalau telepon berdering dan ia mengajak menyesap ganja.

Rex sempat menepuk bahuku, berpamitan sebelum ia pergi, tapi Earl masih enggan membuka mulut.

Meremas jemari, aku memandangi pusara itu lebih lama, kendati satu per satu khalayak mulai raib. Aku menolak tumpangan Dad. Epitaf yang tertulis nisan mempertontonkan embos “Enzo Wallace” untuk pertama kali. Dengan kalimat  mutiara Hemingway yang menjadi kesayangannya; ia begitu mencintai dunia yang luar biasa ini, sampai-sampai enggan minggat.

“Kau keparat, Mate.” Napasku terputus, sekali menghidu udara, paru-paruku seperti diinjak sol sepatu. Aku mengambil Pal Mal dari saku, menyulut dua batang, satu kuhisap, satu lagi kuletakkan di pinggir nisan. Dengan julai asap yang dibiarkan menari, mengerdili batang putih. “Kau harus membantuku. Bukan malah terlelap di dalam sana. “ Aku menendang pusara itu. Lantas berjongkok, merokok dengan mata berair. “Itu sama sekali tidak lucu. Permainan kebohonganku nyaris berakhir dan semuanya terus bertanya kepadaku—”

“Apa yang sebenarnya kaulakukan bersama Enzo?” tanya seseorang di belakang sana, suaranya berat, seketika membuatku tersedak asap. Kubuang puntung milikku, melindas milik Enzo dan lekas berbalik.

Barry tersenyum. Sementara aku meniti sol sepatunya yang dibesut licin;menggunkan manset, kugasak kedua mataku yang basah.

“Bagaimana kabarmu, Nak? Er, Tip?” Kekehnya terasa mengintimidasi. Seolah transaksi pertama terulang kembali. Kukepalkan tinju. Kabar persetan, siapa peduli. Menghantamnya keras-keras sampai tubuh jangkung itu terjengkang beberapa senti.

Shite!” pekiknya, tak dinyana aku sanggup melakukan hal itu. Darah menggerumuti tepian bibir gelapnya.

“Jangan sok simpatik, Barry. Aku tahu, apa yang kaulakukan.” Napasku terengah. Sementara tinjuku terasa nyeri hingga ke lengan atas.

“Lantas, kenapa tak bertanya hal yang sama pada tempan pusaramu?” Alisnya meninggi. Ia gegas menggeluarkan sepucuk Glock, lantas menarik laras; aku mengangkat kedua tangan.

Kubiarkan deru angin melabur tungkai hidung, menatapnya lurus-lurus, bayangan Luger milik Enzo masih terasa menghujam pipiku. “Jangan sekali-sekali bergerak, Banci.” Magasinnya mengisi satu perluru ke ruang lontar.

“Aku ingin barangku kembali.”Barry menyentuhkan moncong sedingin es itu di dahiku.

“A-aku tak mengerti apa yang kaubicarakan,” ujarku, terbata-bata, dengan gigi bergemeletuk.

“Jangan berpura-pura, Tip. Kau ingin menjadi yang selanjutnya atau teman-teman busukmu itu?”

Aku menggigit lidah keras-keras. Berharap dapat menarik kata-kata itu. Keringat kembali membanjiri punggung. Kutilik ke atas, Barry tidak main-main. Giginya boleh dipertontonkan, alih-alih, roman mukanya dilabur murka.

“Si Bajingan Tengik itu mengambil barangku. Sedikit demi sedikit hingga ia pikir aku tidak tahu. Katakan di mana benda itu?!” Suaranya meninggi. Aku tak ingin diteriaki Banci di tengah pusara, Earl sudah tak terlihat batang hidungnya.

“Tidak ada pesan, Bar.” Aku melirik pusara Enzo. Memikirkan tangan-tangan yang mungkin mendobrak dari dalam tanah, lantas menariknya ke dalam liang.

“Omong kosong!” Ia berteriak frustasi. Hanya dalam hitungan detik, ia sanggup menarik pelatuk. Alih-alih, tangan kirinya menjambak rambutku. Mata kami bersirobok. Aku berusaha menahan tangis.

“Dua hari—beri aku waktu dua hari untuk barang milikmu,” desisku, mengangkat kedua tangan, memberikan etape sejurus. Barry The Blow selalu menggemari kata ‘negosiasi’, seperti yang Enzo bilang.

“Kau mencoba menipu?” Alisnya berjungkit. Menarik rambutku kian erat. Aku memicing kesakitan.

“Tidak. Tentu saja tidak.” Sekadar dengih paru-paru yang terdengar. Menahan nyeri memikirkan kulit kepala yang nyaris luruh. “Pikirkan sebuah kemungkinan, Barry. Daripada meledakkan kepalaku tanpa sebuah hasil.”

Barry melempar pandangan jauh ke depan, tempat seharusnya aku bisa berteriak meminta pertolongan. Melirik pusara Enzo dengan sebuah epitaf berpahat simetris. “Jangan coba-coba menjebakku. Pukul dua belas, Tip. Albert Street. Jangan melarikan diri.” Ia menendangku di perut. Glock hitamnya kembali terselip di celah ikat pinggang. Tubuhku terpelanting mencium rerumputan, memegangi perut sembari bergelung kesakitan.

Entah apa yang harus kulakukan; selain melihat sol pantofel yang mengentak-entak; rontek dompet yang menggelambir; dan langit yang begitu biru.

****

Sekerat Barney’s merupakan sebuah obligasi dalam bertandang ke rumah Enzo. Menaiki undakan bercat biru, patio porak-poranda dengan berbagai marka. Tiang kayunya tak lagi dibebat tali kuning polisi. Kutarik gagang pintunya; terkunci. Berjongkok di pinggir patio, kurogoh celah di antara petak kayu terakhir. Enzo selalu meninggalkan satu kunci untukku—untuk menyelinap masuk, pun keluar di tengah malam. Earl, Rex, dan Chip tak pernah tahu, aku pergi sesering itu, terakhir kali kami terperenyak berlima di sofa ruang depan, lantaran Earl keranjingan menantang semua orang bermain Rainbow Six.

Pun dengan kedatanganku kali ini, aku berbohong pada Dad—hendak kembali ke sekolah, berkonsolidasi dengan kelompok doa.

Aku memasukkan anak kunci ke lubang, lantas memutar gagangnya ke arah kanan. Menoleh ke kiri, membayangkan Enzo yang kegirangan, ingin lekas-lekas menyesap bir dingin dari bibir botol. Tangannya yang digasak, jemari kakinya yang melompat-lompat di balik sneakers butut.  Rumah itu kini bau tengik, setelah tiga malam lalu dihuni separuh personil kantor polisi. Merokok, menyesap bir, sekadar mengusir dingin. Jendelanya tertutup rapat, kelirnya tak dibiarkan terempas.

Ronce kunci masih menggelendoti pintu, ketika aku meletakkan kerat bir di atas meja. Memperhatikan marka di permukaan lantai. Aku memilih berjongkok, meramban getir lini putih yang menjadi tempat terakhir Enzo duduk. Membayangkan antek-antek bayaran Barry menyekapnya dan menjadikannya sebagai pencandu dalam satu malam. Tanpa sidik jari, pun barang bukti.

Keparat.

Menilik ke sekeliling rumah, lemari pajang itu masih berdiri di sayap kiri—lemari milik mendiang ibunya. Aku menarik kaki, meramban satu per satu kaleng yang berendeng di sana. Tempat di mana Enzo menyimpan butiran E yang kerap ia bagi dua. Seperti malam itu.

“Kau perlu “eksodus”, Tip. Untuk sekadar tidak menjadi Banci,” ujarnya, ketika kami duduk berdekatan. Tangan jenjangnya memamerkan itu pada remang lampu.“Ini pil hebat, ambil satu. Lantas, kau akan punya kekuatan super,” pamernya, sementara aku tak henti bertanya, tentang betapa kelabu matanya. Dan bibirnya tak pernah berhenti mengunyah Peppersmith. E tidak membuatmu menjadi pemadat pilon yang rela menggadaikan segalanya. Rasanya tak keruan, tapi tak seabsurd kala bibir itu menyentuh bibirku. Jantungku berkebit; kepalaku pengar bukan kepalang. “Bukankah kau ingin melakukannya malam itu?” tanyanya, diikuti tengik tembakau dan senyum tolol yang kami pertontonkan bersama.

Aku menemukan plastik E di dalam kotak Rolodex berduli. Menelan satu butir, menjejalkan sisanya ke saku jas. Membuka ponsel. Menyoroti satu per satu pernak-pernik dan bingkai foto tentang liburan terakhirnya ke London. Dan berharap bisa menemukan sesuatu yang dapat menjawab teka-teki sialan Barry.

Aku kembali berbalik. Bersandar dengan punggung luruh dan duduk bercangkung kaki. Mengambil sebotol Barney’s, mencungkil tutupnya di sembiran meja. Menyesap seperempat botol. Kepalaku seketika terasa berat. Seperti pertama kali kusentuh mandibula itu dan bertanya, siapa diriku sebenarnya?

.

E memberiku Enzo, Enzo yang aku mau, berjalan lewat pintu. Tubuh jangkungnya, manik kelabunya. Mengenakan kemejalumberjack kusut itu dan jins belel terinjak sneakers yang kerap memeluk kedua tungkai kakinya.

Kami bercinta seperti malam terakhir ketika ia membuka ritsleting celanaku. Dan melakukan akrobat spektakuler di atas sofa. “Barry mendatangiku,” ujarku dengan napas terengah.

Enzo tersenyum. Aku begitu takut ia akan berang. Kuperhatikan jemarinya yang masih mendekap tubuhku. Tubuh kami sama-sama telanjang di bawah satu remang lampu.

“Ia mencari barang itu.” Kususuri tulang selangkanya dengan bibir. Seolah takut kehilangan dirinya untuk kedua kali.

“Itu untuk Earl, Tip. Katakan padanya, aku minta maaf. Untukmu juga, tidak ada yang boleh berkata Banci.” Ia mengecup dahiku.

“Jangan konyol.”

“Jangan konyol juga untukmu. Bersikap seperti kau tidak ingin. Kau menginginkannya ‘kan, Tip?”

“Aku hanya ingin kau tetap di sini,” kataku.

“Tidak. Kau yang mengatakannya, Tip. Kau ingin Janet.”

Dadaku kontan terimpit. Berat tubuh Enzo menimpa tubuhku. Kulihat kedua mata nyalang itu. Lengan kirinya yang merogoh ke balik punggung.

“Apa yang kaulakukan?” Suaraku gemetar; pistol Luger menyembul di antara jemarinya.

Please,” aku mengangkat kedua tangan. Alisku menandak. Berusaha melepaskan diri. Ia baru saja mengarahkan moncongnya ke arah kepala; aku berteriak kesetanan. “Hentikan! Hentikan! Enzo!”

Dan peluru itu menembus kepalanya. Pecah menjadi onggokan daging berbau formalin.

.

Masih menemukan diriku duduk berambin, bersandar di kerai lemari, tubuh basah kuyup diguyur keringat. Teriakanku berakhir parau, disambut denting Botol Barney’s yang terguling, menggelincir di kolong sofa.

Sebuah gumpalan menyumpal kerongkongan untuk sekadar tidak mengumpat. Aku tidak menginginkan Enzo. Aku melirik ke sekeliling, alih-alih, kegelapan yang menyergapku. Kulirik arloji. Petang datang lima menit lebih cepat dari perkiraanku.

Aku ingin menangis. Tanganku memporak-porandakan seluruh isi lemari, kugulingkan satu per satu bingkai foto. Melempar pernak-pernik dan kaleng-kaleng keparat ibunya, menghujani lantai.

“Tutup mulutmu, Enzo!” pekikku, meremas rambut.

Kau ingin mengaku sekarang, Tip. Kutendang lemari itu hingga nyaris terguling. Aku tidak menemukan apa-apa.

“Di mana benda keparat itu, Enzo?!”

Kau tahu jawabannya, homo.

“Aku bukan homo! Aku masih menyukai Janet!”

Tapi kau masih menginginkan aku ‘kan?

Aku berusaha tidak mengindahkan suara itu, bergerak ke sisi samping. Mendorong lemari beberapa meter ke arah kiri.

“Persetan, Enzo,” bisikku. Lubang itu sebesar tiga puluh senti. Dibobol paksa di belakang lemari. Kurogohisi dengan tangan gemetar, lantas menemukan beberapa bungkusan cokelat. Sepucuk Beretta 92 dan sebuah kunci mobil. Beretta serta-merta menyisipi sela ikat pinggang. Aku memikirkan kata-kata terakhir Enzo satu malam sebelum kami menemukannya menyayat nadi:

Jangan bergerak, Tip. Jangan sekali-sekali kau menyentuh mobilku.

****

“Berhenti! Berhenti, Enzo!” pekikku, berlari di pelataran jalan, mengayunkan kedua tangan. Entah dari mana sepasang kaki itu menandak. Aku mendengarnya berlarian. Satu meter menganju dari iris mataku, menengok ke belakang. Ia enggan berhenti. Senyumnya mencuat. Seolah-olah kami hendak menerkam barang bagus di pesta tengah malam.

Aku terus berlari. Mengumpat beberapa kali. Duke Street sudah termaram mendekati pukul sepuluh. Etalase gerai redup satu per satu. Dua jam sebelum janji temu dengan Barry. Napasku terengah. Rontek kunci bergemerincing di saku belakang.

Berbelok di gang pertama, dengan bau onggokan sampah paling menyeruak. Aku menyusupi jalan rahasia menuju Citadel.

Sedikit pengar, aku melihat Citadel dengan penerangan minim seperti seharusnya, seseorang mungkin di dalam. Sepertinya Chip. Speaker dibiarkan menyala. Duran Duran [2]seperti baru saja menggelar konser, membawa seisi fan base dan memporak-porandakan ruang tengah.

Chevrolet milik Enzo terparkir di sayap kiri. Chip sudah memasang keempat roda seperti semula. Tak sempat mencari batang hidung Earl, aku harus segera membawa mobil itu pergi. Merangsek pintu depannya yang tak terkunci. “Shite!” Bokongku belum sempat terperenyak di jok, alih-alih, melihat bubuk putih terburai dari kulit jok.Mereka sudah mengetahuinya. Aku berusaha mengembalikan duli-dulinya, bergerak secepat mungkin sebelum seseorang datang memergok.

“Kau mencoba membohongi kami untuk hal ini?” Sekonyong-konyong saja aku merasakan moncong pistol di tengkuk; Earl mencoba menggebah.

Aku tak serta-merta mengeluarkan suara, sekadar mengangkat tangan. Earl menarik pelatuk pistolnya. “Jawab, Banci!” pekiknya.

“Aku baru mengetahui ini beberapa jam lalu,” kataku, perlahan membalikkan badan, tersudut, bersandar di pintu mobil.

“Keparat! Kau membohongi kami!” Aku mendengar Rex dengan isi botolnya yang berkecipak. Bau Vernon seketika menguar lantaran ia membantingnya berkeping-keping di atas aspal.

Kutatap mata Earl lekat-lekat, tangannya yang  memegang popor dengan kesepuluh jemari. “Aku sungguh-sungguh. Aku berbohong, iya, tapi tidak dengan benda ini—benda ini harus dikembalikan.” Tangannya gegas mencengkeram lapel kemejaku. Penampilan kami sama-sama kacau, napas yang memburu, sengit tembakau yang melayap dari lapel kemeja.

“Hei!” Chip ganti memekik. “Barang ini bahkan bukan milikmu.” Menyembul dari sisi kiri, membuka pintu. Lantas mempertontonkan heroin itu di tangannya. Bulir-bulir berjatuhan; aku mereguk liur.

“Aku berbohong soal Barry. Barang itu milik Barry The Blow.”

Bollocks. Kau tahu apa soal Barry!” damprat Chip, mengempas pintu mobil. “Kita terlalu lama memercayainya, Earl.”

Earl sejurus membisu. Jemarinya boleh mencengkeram kuat; pistolnya mengendur. Lengannya gemetar. “Kau melakukannya dengan Enzo selama ini?”

Aku mengangguk. “Maafkan aku.”

Ia mendorong tubuh kuat-kuat. Mendengus geli. “Kau orang baik, Tip. Bukan En—”

“Aku pembohong yang payah, Earl. Aku mencintainya,” aku memberangus kontemplasi Earl. Menengok aspal, sengaja menghindari tatapan mata itu. Sejurus hanya bunyi perkusi Roger Taylor[3] yang terdengar dari stereo, sebelum jemariku balas menarik popor senjata dari sela ikat pinggang.

Shite!” Rex bergerak mundur. “Earl!” pekiknya.

Aku mengacungkan benda itu lurus-lurus, ke arah Rex yang hendak menerjang; kaki Chip yang melentuk ketakutan. Earl masih geming. Aku lekas-lekas menyuruk masuk ke dalam mobil. Mengunci keempat selak pintu.

“Keparat, Tip!” pekik Chip. “Buka pintunya.” Gebukan keras itu menghantam roda kanan belakang. Jemariku gemetar hebat, berusaha memasukkan anak kunci.

“Buka pintu! Banci!” Rex mengangkat tinggi-tinggi kursi kayu itu. Menghantam kaca belakang. Suara mesin meringking beberapa kali, sebelum akhirnya berderum. Aku tidak sempat berpikir dua kali; melirik Earl; menginjak kopling dan menarik persneling menuju gigi mundur. Ban berdecit disambut derum mesin.

.

Beretta masih mengait di telunjuk kanan; aku menginjak pedal gas dengan kecepatan maksimum. Jantung meninju rusuk. Melintasi tiang lampu di perimeter Easter Road. Kepalaku pengar, dengan mata separuh memicing, entah berapa lama lagi aku harus menahan muntah di kerongkongan.

Sneakers sompek itu lagi-lagi menyembul, menutupi spion kiri. “Kenapa kau begitu keras kepala, Tip?”

Enzo. Berpangku tangan, dengan kepala yang diangguk-angguk, seolah ia mendengar melodi sunyi lewat stereo.

Ia sudah mati tiga hari lalu. Persetan. Aku membersit hidung, pura-pura tidak mendengar, terlepas bunyi rontek-rontek yang menggelambir di spion muka, yang nyaris membuat kepalaku pecah. Kuarahkan Beretta itu menuju pelipisnya. Ia tertawa kecil. “Apa yang hendak kaulakukan dengan benda itu? Menembak kepalaku?”

“Tutup mulut!” Aku menggebrak roda kemudi. “Aku harus mengembalikannya.” Melempar pandangan ke ruas jalan. Tempat janji temu dengan Barry The Blow berada dalam hitungan meter. Aku menginjak pedal rem.

“Dan bersikap seperti jagoan, Banci?” Alisnya menjungkit. Menarik kaki dari dasbor. Merogoh saku untuk sebatang Berkeley. Aku mematikan mesin mobil. Bersihadap dengan dirinya, yang melipat sebelah kaki.

“Bisa kau berhenti bicara?! Aku tak ingin membuat kita semua terbunuh.” Aku hendak menarik gagang pintu. Memutuskan untuk menutup telinga.

“Kau tidak akan menyelamatkan siapa-siapa!” pekiknya.

“Persetan, Enzo! Ini semua lantaran ulahmu! Apa yang kauberikan?! Kau mati, keparat!”  umpatku, dilahap amarah. Kucekik lehernya dengan kedua tangan. Berharap ia lekas-lekas dikirim ke neraka. “Kau tidak meninggalkan apa-apa kecuali barang sialan itu yang malah membuat semua orang terbunuh.”

Enzo tertawa santer. Seperti ketika kami menonton kejuaraan Piala Eropa.

“Keparat, Enzo!” Kutinju tubuhnya berkali-kali; menghantamkan kepalanya di kerai jendela. Tawa itu tak urung raib.

“Kau orang yang paling berani yang pernah kukenal, Tip.” Ia tergelak kecil, sebelum menahan kedua tanganku di depan dada. Mengelus dahiku. Napasku terenggah. Menatap matanya yang nanar.

PRANG!

Peluru itu menancap di belakang kepala. Aku merasakan aliran hangat yang menggerayangi leher. Sakit sedikit menggigit—nyaris tak terasa, alih-alih cengkeramanku di lapel kemejanya sekonyong-konyong mengendur. Pengar di kepalaku menjadi berlipat ganda. Melirik ke depan, Enzo sudah raib. Hanya dengih napasku yang terputus-putus.

Sementara siluet-siluet jangkung itu datang menyatroni mobil kami dan menyulap jendela samping menjadi puing. Dingin merambat di sekujur tungkai kaki. Seseorang menarikku keluar.

Kuamati giginya, ia berjongkok di emperan. Warnanya emas. Disilap temarang lampu di pelataran Albert Street. “Kau orang paling naif yang pernah kutahu,” ia terkekeh, meninggalkanku dengan punggung bisu itu dan membawa mobil Enzo pergi.

-fin

________________

[1] distrik tempat prostitusi di Edinburgh
[2] Band beraliran new wave asal Brimingham
[3] drummer pertama Duran, Duran

A/N: Untuk Renton, Spud, Sick Boy, Begbie, dan Tommy. Iggy di awal, Layus di akhir.  Kurt, Anthony, Axl, Liam dan Noel.

Advertisements

14 thoughts on “Cutting Veins, Pt. 2

  1. Pingback: Cutting Veins, Pt. 1 | Not My Cup Of Tea

  2. Zura, kapan novel kamu keluar? Harusnya aku baca tulisan kayak gini dalam bentuk buku. Buku yang aku ambil dari etalase yang memajang novel best-seller. Sumpah aku ga bohong! Baca tulisan kamu itu sensasinya kayak lagi baca novel ngehits yang harganya mahal dan aku mikir dua kali untuk beli bukunya lalu dengan gatau malu aku download e-booknya, baca sambil kegirangan sambil susah payah mengontrol ekspresi wajah supaya tetap elegan. WAHAHAHAHA. Aduh aku ngomong apaan tolongin ;____;

    Apa ya? Aduh, begitu selesai baca ini, isi kepalaku langsung ramai, Zura. Ada banyak banget hal yang pengen aku sampaikan, tanyakan, dan pastikan sama kamu tentang cerita ini. Kita-harus-bicara! Hahahaha. Tuh kan sampe pusing harus mulai dari mana. Aaaaaah kamu berhasil menyiksaku ehe. Tapi ini siksaan yang enak kok (lah????)

    Oke, pertama-tama. Terimakasih sudah ngetag aku ya. Seneng banget rasanya bisa baca cerita keren dari penulis yang paling paling aku senpaikan selama ini. Hahaha. Ini, aduh, lebih dari keren! Lebih dari mempesona! Lebih dari luar biasa! Hah, aku kehabisan kata pokoknya. Plot, tema, detail cerita, karakter, semuanya oke banget nget nget. Hanya, gatau kenapa aku masih penasaran sama Enzo, mungkin karena dia di sini kebanyakan muncul sebagai hantu. Ah sudahlah.

    Gimana ya? Sebenernya aku butuh membaca ulang cerita ini supaya ngerti sepenuhnya. Tapi secara keseluruhan besar aku nangkep kok ((yeah!!!)) ini kompleks sebenernya, tapi sederhana juga di saat bersamaan. Karakter-karakternya bermasalah dan menggemaskan (?), konfliknya juga ga sembarangan. Drugs, LGBT, pembunuhan. Aduuuuuuuh cyiiiin apa kabar my kokoro????

    Tip si Culun anak seorang polisi, yang ironisnya gaul sama sama pemakai + jatuh cinta pula sama partnernya, Enzo -_- lalu Enzo yang sejak kecil punya masa lalu yang kelam, sumpah aku shock kalo mama Enzo itu…. huaaa!!! nahasnya dia dibunuh pula -_- belum lagi Earl si Homo dan Rex yang kayaknya ga bisa jauh-jauh dari botol, teler mulu lah. Sumpah, kupikir awalnya cerita ini gakan di bawa ke arah sana, kupikir bakalan jadi cerita sekelompok anak badung yang, yah, entah yang apa, yang jelas aku ganyangka ini bakal sekompleks ini. Aduh aku ga kuat zura, ga kuat pengen teriak. Aku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya sama narasi kamu:( AH SEMUANYA DEH POKOKNYA GA NARASI DOANG!

    Lho? Komenku kok membabi-buta tak beresensi gini? Hahaha. Intinya aku suka ini zura. LUAR BIASA BANGET LAH PECAH PECAH HAHAHAHAHAHA. KEEP WRITING! MAAF RUSUH :))

    • Terima kasih lho, Kak sudah mampir. Rusuhannya nampol banget. Saya awalnya enggak mengira kakak langsung baca. Hahaha… woles aja, Kak padahal.

      Kabar buruknya, saya belum kepikiran menulis novel, tapi semoga aja ya ada sedikit pencerahan, barangkali saya berkesempatan untuk menerbitkan sesuatu di suatu hari nanti.

      Karakter Enzo sebenernya belum dibeberin semua sih, dan Rex juga, sebenernya saya pengin mengupas lebih jauh tentang latar belakang setiap tokohnya kenapa bisa bertingkah binal kayak begitu, tapi sayangnya, cerpen (ceritanya ini cerpen) udah kepanjangan. Akhirnya, saya harus merelakan beberapa part deh untuk disensor dan menjadi misteri. Hahaha….

      Maaf ya, Kak bahasanya yang mungkin berat, saya berusaha untuk nurunin diksi banget sih sebenarnya. Sebelum diedit bahkan ini sedikit sadis bahasanya, tapi karena konfliknya ini ribet banget sih ya, saya harus tega ganti, semoga kakak masih mengerti dengan alur ceritanya yang kebanyakan maju mundur ini.

      Iya, Tip itu memang digambarkan culun sih, sebenernya saya menjuluki setiap tokohnya: Wanker (Tip), Alcoholic (Rex), Homo (Earl), Porno (Chip), makanya rasanya kayak kriminal gado-gado amatiran di sini. Cuma sayang, Chip gak bisa terlalu dijelaskan, saya lebih suka Earl sih soalnya #diinjek.

      Terima kasih ya, Kak sekali lagi untuk rusuhannya. Komentarnya bikin terharu :))

  3. Wuah. Kak Zura. Tolong aku. Speechlees banget. Suer. Kak. Kak. Ya ampun kak Zura. Kapan novelnya terbit kak? Nanti kalo novelnya udah terbit, harganya jangan terlalu mahal ya, biar aku bisa beli.

    Tapi sumpah, ini tuh asdfghjkl KEREN BANGET KAK :”) GAKUAT AKU KAK GATAU HARUS KOMEN APA YA AMPUN MAMAK :’) Karakternya, narasinya, plotnya…… mantep kak belajar dr mana? huhu.

    Awalnya aku rada nggak ngudeng ini tentang siapa siapa siapa. Tapi lama-kelamaan aku ngerti bahwa ada seorag Tip yang punya bapak polisi, temenan sama Enzo dan kawan-kawan yang suka mabuk, make drugs dan homoan. Akhirnya dia kebawa-bawa, dan yang asalnya Tip ini culun akhirnya jadi suka nge-drug dan homoanlah sama si Enzo.

    Yang aku tangkep disini enzo dibunuh sama si Barry itu dan akhirnya si Tip juga ditembak sama si Barry pas mau balikin barang yang diambil Enzo kan? Eh maafin kalo salah wkwkw TAPI INI KEREN BANGET GATAU HARUS GIMANA LAGI KAK AJARIN AKU HAHAHAHAHA.

    Kalo ada sosok enzo tuh jadi anak ‘normal’ baik-baik rajin sekolah nggak nge-drug dan berasal dari keluarga yang baik-baik saja, bukan dengan ibu yang meninggal karena nyandu drug dengan dosis dobel *halah* aku bayangin enzo sebagai sosok yang cool-calem-caem-cakep-rambut rancung-rancung gitu haduh kak idaman :’) HAHAHAHA

    Overall ini sukak sekali sukak sukak sukak aku suka aku suka!!! Mungkin kakak bisa trf ilmu tulis-menulis ke aku kak biar kalo sekalinya bikin cerita cetarnya ga ketulungan kayak gini WAHAHAHA diksinya emmmmmhhh saiq banget kak emang :’) keep writing kak pokoknya! Thanks banget sudah di tag yeaaaaaah!! 🙂 maafin komen panjang nan aneh ini kak hahahaha :))

    • Susan, terima kasih ya sudah mampir. Masih belum tahu, kepikiran juga belum sih untuk novelnya hahaha. Tapi, siapa tau ada kesempatan ya.

      Di bagian depannya memang banyak sekali karakter yang bertebaran sih; tapi kamu pinter banget. Kamu benar soal karakter Tip di sini, walaupun dia berusaha menutupi jati dirinya di bagian awal.

      Endingnya benar kok. Sedikit tricky sih, soalnya saya enggak pengin bilang kalau beneran ditembak awalnya.

      Hahaha… iya, Enzo memang sosok ketua idaman sih, tapi dari latar belakangnya yang begitu saya pengin menyampaikan ide tentang sosok seseorang ngedrugs atau drug dealer yang mungkin dianggap sampah di masyarakat, tapi mereka punya sebab kenapa mereka menjadi seperti itu. Kasihan juga sih.

      Terima kasih ya dek sudah suka ceritanya. Mari kita belajar bareng. Saya juga sebenarnya sering mencari teman diskusi untuk tulisan-tulisan. Mungkin dari sana jadi bisa bertukar ilmu juga.

  4. Zura, you are awome! ((Seperti biasa))
    Sebelumnya mau makasih udah tag tulisan keren ini!!
    Gila udah lama gak baca tulisan kamu, sekalinya post pasti bikin nganga dan ga bisa tidur. Huhuhuhu aku tuh baca part 1 tadi malem, terus ngantuk dan lanjut pagi2, tp hasilnya malah kepikiran sama plot yg kamu bikin!

    Aduh selalu gak ngerti formula apa yg kamu pake buat bikin cerita kaya gini. Aku berasa lagi baca novel terjemahan yg selalu bikin penasaran ampe ga bisa tidur ((iya, aku ngulang ga bisa tidurnya karena emang kenyataan gitu)) hahaha seperti komen2 di atas, aku bakal rela beli novelmu kalau suatu saat terbit!

    Oke, soal cerita, part 1 emang bener2 bikin bertanya2 banget. Awalnya aku kira ini cuma sekedar cerita tentang misteri meninggalnya enzo, tapi ternyata lebih kompleks 😮
    Dan di part2 aku langsung paham tentang semuanya. Tentang masalalu enzo, tentang hubungan enzo sma tip dll~
    Aku suka karakter earl gatau knp, dia homo tapi cool dimataku(?) Hahahaha
    Soal diksi gausahlah aku komen2. Dari dulu emang gaya nulis kamu paling khas. Gak usah nyantumin nama, langsung bisa tau kalo kamu yg nulis.

    Udahlah aku gak tau mau komen apa lagi. Kalo makin panjang takutnya mata kamu sepet liat komen gajelas aku lol xD
    Pokoknya keep writing yaaa!!!

    • Halo, titayu 🙂 terima kasih lho sudah mampir. Iya, sudah lama banget saya enggak nulis. Sibuk dengan kuliah sih kalau di awal tahun, jadi paling menulisnya pas liburan aja 🙂

      Di part satu itu memang masih ringan sih, semacam baru perkenalan tokoh aja, tapi saya seneng kalau kamu langsung pengin melanjutkan ke part duanya, soalnya di sanalah memang jawabannya.

      Saya juga suka Earl, kendati paling suka Enzo. Karakter yang paling serius saya garap sebenernya Earl dan Tip sih. Earl mengingatkan saya sama Iggy Pop beneran soalnya. Kontroversial. Hahaha…

  5. Baahhh, Ce Ching 😀 ini keren banget yuuuuuuuuuuuuuuu!
    Tuh, kan bener dugaanku sebelumnya. Enzo dibunuh (bukan bunuh diri). Kenapa polisi selalu salah duga? *eh* Di film-film Detective Conan sering kok kayak gitu.

    Sebetulnya aku rada kasian sama Tip. Kayaknya dia anak baik. Yahh, yang culun pasti baik, tapi karena pergaulan jadi begitu. Sampe dia suka sama Enzo -_-
    Tapi ini fic keren. Asli, bagus banget dari diksinya, karakter setiap tokoh, alurnya yang gak bisa kutebak. (btw, si Earl cool banget dalam bayanganku).

    Keep writing, Ce.
    Makasih udah ngetag cerita ini di twitter 😀

    • Halo, Vera. Maaf baru bales. Terima kasih ya sudah mampir dan membaca bagian duanya juga.
      Polisi selalu salah duga >>> biar ceritanya rame, kalau terkaannya bener, langsung tamat deh ceritanya 🙂

      Earl memang cool dong, ketimbang Tip, sebenernya saya lebih suka Earl sih (apa ini)
      Sama-sama.

  6. uwoooww~~ serasa ngebaca novel terjemahan keluaran lama.
    ide ceritanya nggak-Indonesia banget.
    diksinya jago banget.
    suasana Inggrisnya dapet banget.
    entah bagaimana begitu selesai baca jadi keinget John Green.
    cerpen yang kereeeennn!!!

    • Terima kasih sudah mampir, Cas 🙂
      Iya, ide ceritanya sedikit menyimpang dari normal. Diksinya mungkin sedikit sulit, tapi saya seneng kalau kamu masih bisa menikmati ceritanya.

  7. Awesome as always! Kalau tulisan kakak kece-kece terus rasanya aku nggak bakal bosen maksa buat bikin novel deh (lhakokmaksa)

    aku sampe bingung mau ngomen yang mana dulu. dari awal banget kakak emang enggak mau langsung to the point sama problemnya, ya, tapi engak bikin reader loncat ke paragraf selanjutnya. terus ide cerita yang kakak ambil tuh anti mainstream banget. dan yang paling aku suka, kakak itu nulisnya enggak pernah setengah-setengah, selalu perfect, merhatiin setiap detail dari nama gang, jenis mobil, merek rokok sampai celana jeans kedodoran. bener-bener bikin feel-nya kentel!

    aku agak kaget sih Kak Zura ngelanggar tata cara penulisan, semacem naruh ‘Dan’ habis titik, but it’s truly okay aku tetep jatuh cinta sama tulisannya.

    Kak Zura ini bacaannya apa aja sih kok tulisannya bisa badai gini huhuhu. udah ya kak maaf ini komennya enggak penting terus aku sambung sama part 1 soalnya baca marathon hehehe. Mangats terus kaaaaaak ❤

    xoxo,
    Helmy

  8. Zura, sebelumnya kumau minta maaf karena dateng ke sini terlambat banget..mungkin hampir sebulan abis kamu ngetag ya maaf……………………ㅠㅠㅠㅠㅠㅠ

    AWESOME AS ALWAYS!!! Ini cerita zura banget. Ini ceritanya udah kamu banget zurrrr…………tbh aku cuma bisa terpesona kamu bawain cerpen kaya gini. Ini tema plus plot yang gabisa dianggap biasa jujur aja. Tapi aku salut sama kamu bikos kamu bawain ceritanya jadi ‘zura banget’ pesan moralnya dapet banget. Misterinya alurnya karakternyaa……..ah tolong zura ajari aku biar bisa nulis yang lebih ‘manusiawi’ kaya tulisan kamu. Demi apa aku speechless aja baca tulisan kamu ini huhuhu. Senpai abis laaah………….aku cuma engga bisa bayangin kamu mikir apa ja pas nulis cerpen ini. Kenapa hasilnya bisa tetep kece meskipun temanya agak berat dan well, aku musti baca dua kali biar paham maksud ceritanya zur! Tetep kece diksi kamu tetep oke duh kuselalu suka baca karya kamuuu….

    Pokoknya aku gatau lagi mau ngomong apa zura. Aku suka karakter Earl……dan namanya cakep juga wks. Terima kasih udah tag akuuuu ❤
    Salam sayaaang heheheheee 🙂

  9. Ching ching, sankyuu udah ditag. Maaf baru selesai baca ceritanya. Seperti biasa; keren. ^^
    Ditambah twist ending pula. Tapi… entah kenapa kamu kayaknya suka menyorot cerita tentang LGBT ya? Tapi, aku sih nggak masalah soal itu. Hanya, itu jadi semacam ciri khas kamu.

    Aduh, iri banget nih. Baca tulisan-tulisan kamu udah setara dengan baca novel-novel terjemahan. Semisalnya bikin novel nanti, kabarin ya. Aku pasti bakalan beli! ^^/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s