KOLAM BEBEK.

Ibarat sebuah kolam, aku harus mencelupkan kedua tungkai kaki. Begitulah hidup; singkat, dingin, dan menggigit. Sebut saja aku A. Penulis gagal, lajang di akhir tiga puluh, dan pengangguran. Yep, tak lebih dari sebuah komposisi ekstremis abad keduapuluhsatu.

Tiga—lebih tepatnya empat—bulan semenjak kertasku kosong. Dengan dua pak Winston, satu pemantik Bic, kupikir, mulanya aku siap berperang. Menggempur ide-ide mengenai klona dan drona-drona di kepala. Alih-alih, sebuah cemooh. Perjalanan hebat milik pasukan Kremlin digebah perkusi tolol Dominic Howard.

Bukan salah Howard. Aku mencoba mencucuh rokok ketiga dari pak kedua. Asbak tengah meluap. Dan bunyi ting serta-merta meringking tanpa ada pangkal-ujungnya. Aku terpaksa membawa mesin ketikku turun dua lantai, menjinjingnya lebih dari lima blok ke SoHo untuk sebuah barisan yang mengular dari antrean mesin kasir Jo.

“Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Jo senja itu. Pojok soliterku sedikit redup. Dibasuh temaram kandil oranye. Aku berusaha menebak apakah itu masih senja yang sama ketika aku meminta Horchata panas tanpa gula. Memerhatikan jemarinya yang ia gasak beberapa kali di apron hijau. “Boleh minta satu?” pungkasnya, terduduk di sisiku.

Serta-merta kuangsurkan pak merah manyala itu ke hadapannya. Ia menyundut satu batang. Punggungnya melesak di sandaran sofa. “Bukan hari yang baik?” Asap secepat kilat berjumat pagu.

Aku mengedik, membiarkannya mencuri lihat kertas renyukku yang kesepuluh. “Tidak begitu baik untuk agensiku.”

Well, kuyakin, kau hanya perlu menikmatinya.” Ia menyesap sekali lagi, lantas mengoper batang yang sama padaku. Asap itu merebak melalui hidungnya yang bangir.

“Tenggelam dalam kalimat-kalimat yang sama untuk kesepuluh kali?”

Estafet rokok ini mulai membuatku kehilangan akal.

Ia terkekeh. “Dan kembali ke kertas pertama kala kau memikirkan sesuatu.”

“Yang benar saja?”

“Ini perkara meracik kopi. Terlalu banyak elemen pemanis sampai kau lupa pahitnya.”

“Dan kau baru saja lupa soal giliranmu,” pungkasku.

Well, sorry,” ujarnya. Kami seolah-olah tak perlu menghitung, senja yang satu ke senja berikutnya, dan puntung itu akan memendek dengan sendirinya.

“Aku lupa bertanya soal jumpa persmu minggu lalu? Apakah itu hebat?”

“Entalah,” aku masih mengepulkan asap sembari bernostalgia. Seingatku hidup dan semengenaskan itu. Boleh saja menempatkan di tengah kolam bebek. Tapi, aku selalu menjadi perenang nomor satu.

Aku menyesap lebih banyak nikotin Winston sementara paru-paruku menggelar orasi. Di panggung petang kelima di bulan Oktober, aku mengalami sensasi tenggelam yang pertama.  Lantaran pertanyaan itu meluncur, apa inspirasimu terhadap karya hebat itu?

Entahlah. Kupikir, aksi mengenai distrik sembilan puluh tak lagi menjadi hebat di benakku. Kata-kata lawas, pemikiran-pemikiran Yorke hanya akan mengenap seperti serapah Nietszche di radio. Kopong; berangsur diberangus pemikiran baru.

“Kuyakin mereka masih memujamu seperti dulu,” bujuknya; aku mendengus.

“Seperti kala kau membawa antrean masa itu di minggu pagi untuk tanda tanganku?”

“Tentu saja.”

“Jangan konyol.”

“Aku sama sekali tidak mengada-ngada.”

Bagi seorang A, aku benci berjalan di tengah kloset trofiku. Mengenang masa lalu malah tambah membuat pilu. Satu kata kutulis, kupikir aku tak lagi seperti dulu. Dengan kata-kata cerkas, aku membual dengan hebat. Jurus-jurus jitu memerangi kehidupan. Tapi, aku justru kalah dalam pertempuranku sendiri. Bukankah itu lucu?

Jo tidak menyahut, ia menurunkan kedua kakinya yang tadi tercangkung di depan dada. Lafayette Street di pukul sebelas. Berjam-jam kami bermain kata. Dan ia baru sadar kalau harus menutup tokonya.

“Kau akan menutup pembicaraan ini begitu saja?” tanyaku serta-merta.

Ia mengedikkan bahu.

“Tanpa wejangan dan pemikiran-pemikiran sinting?” Aku tahu, permainan senja itu tidak berjalan seyogianya, alih-alih, sebuah konsultasi sinting mengenai kolam bebek.

“Kau sudah terlalu banyak memilikinya.”  Jo beringsut menuju kaca muka, membalik papan “open”.

“Jangan bercanda,” singgungku, enggan membereskan kertas yang bertemperasan di atas meja.

“Ingat bagaimana kau membuatku?”

“Kupikir kau seorang barista hebat, Jo.”  Dan Jo memang kian hebat disanding pertama kali menjumpainya di balik pintu.

Advertisements

4 thoughts on “KOLAM BEBEK.

  1. Hai kakak^^
    Aku reader baru,
    dan aku mau tanya boleh?
    Cerpen kakak itu menginspirasi aku, mulai dari majas, diksi dsb.
    Gimana sih kak caranya biar pintar merangkai kata2?

    • Halo, salam kenal ya 🙂 Terima kasih sudah mampir kemari. Mungkin tipsnya membaca banyak buku? Dan berani untuk ambil risiko untuk menggunakan kata-kata yang jarang digunakan orang lain 🙂

  2. Hai, Ce. Masih inget aku? Kkkk~ aku ganti nama pena dan url blog karena satu alasan menyebalkan. *gak nanya*

    Perasaan lumayan lama ya cc gak nulis, tapi tulisannya makin keren aja. 😀

    Aku mesti baca dua kali baru paham sama cerita ini. Hehehehe, maklum lagi ngadat ni otak. XD

    Keep writing, ce. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s