Mars

WARNING: M-Rated. Crime scene. Physical Abuse.
___________
  
 
Sekali seumur hidup, aku memperhatikan dinding berbusa setebal lima senti itu. Partisi yang seharusnya menyumpal ringkingan Russell dari bilik rekam. Ada sebuah poster yang tergantung di pojok sana. David Bowie dengan rambut merah manyala, celak menor yang melabur sepasang mata, pun sebuah imajinasi tolol mengenai penakluk angkasa.

“Zig?” Ada dua yang tercetus di otakku; namaku yang dipanggil atau ia malah berpikir bahwa poster bertuliskan Ziggy Stardust itu baru saja akan balik membalas ucapannya.

“Hmm?” sahutku. Kepalaku pengar. Terlalu banyak konspirasi yang terjadi, antara Mayfair dan Marlboro. Ia baru saja mengoplos bungkus biru itu menjadi satu.

Punggung itu masih belum berbalik. Telanjang sama seperti diriku. Torso sempurna. Ia menggial dengan permainan pelik di kepalanya. Aku masih bertanya-tanya, mengapa ia tertawa? Apa karena ia berhasil menjebakku? Menanggalkan bajuku satu per satu? Anggap saja ia menang taruhan atau roulette Rusia.

Tulangku terasa berderak kala aku berbalik arah. Menghadap tungkai kursi putar dan stool yang baru saja diringkus Dev dari ruangan sebelah. Hidungku nyaris terpagut tungkai besi. Memang sungguh kacau keadaannya. Bisa kujelaskan. Tapi tak pernah kuinterpretasikan. Ini adalah katastrofe. Dengan peluh yang tertinggal di pelipis. Jins yang tertukar ukuran di sisiku. Aku masih bertanya, ini milik siapa?

Kami berbaring tanpa beralaskan matras. Hanya punggung beradu punggung. Bahu menyentuh bahu. Aku mencoba lima gerakan bercinta yang selalu ingin dipraktikkan Joan dulu. Memang tidak seharusnya aku memikirkan Joan. Tapi, aku tak dapat melupakan derai kikiknya kala malam pertama.

Bilik mixing itu hanya kamar berukuran dua kali tiga, mirip kamar mandi, dengan perangkat Neve VR60, sebuah papan tolol yang kerap dibanggakan oleh Russell. Tidak besar. Tumitku bahkan baru saja menabrak bokongnya. Dan ia mendengus spontan.

Sorry,” ujarku.

Aku pikir ia pasti terlelap setelah gerakan kelima. Dan sayup radio AM masih menyahuti pasca-manuver gilanya. “Tidak ada ampun untukmu, Zig.” Aku bisa menatap manik biru itu di hadapanku. Bertelekan sebelah siku. Riap rambut yang menyembul mungil di balik daun telinga.

Betapa beraninya aku mempertontonkan gigi. Tergial kecil dengan sedikit raungan birahi. Ia mengulurkan sebelah tangan, menyugar anak rambut di tengkukku. “Ingin Chiclet?” tawarnya. Lima jam berlalu sejak sesi diskusi palsu itu. Joan menelepon lebih dari lima kali di penghujung malam. Alih-alih, aku terlalu masyuk dengan puntung-puntung Mayfair yang teronggok di asbak.

Abunya bertemperasan. Saat menatap ke kiri, aku dapat mencium napasnya yang dihuni Brooklyn Lager. Suatu hawa yang begitu maskulin, begitu Amerika. Seperti epos-eposnya yang berlatar pegunungan di Colorado.

Ia menunggangiku entah untuk kali keberapa. Bibirnya yang maju. Dua kali lebih dekat. Dan aku dapat merasakan kemaluannya tergoler, menggelitik perutku. Frekuensi AM di radio masih menyahut rendah. Volume terteduh yang baru saja menjamah telingaku.

“Chiclet untukmu, Darling.” Ia memanggilku “darling” malam itu. Tidak seperti Joan yang tak memiliki nama panggilan untuk siapa pun. Ia menyembunyikanku di balik dapur, di bawah konter, di samping kompor kalau bisa. Ia malu jika seseorang menemukanku tidak sebagaimana mestinya.

Aku membuka mulut merasakan karet lekat itu terimpit di sela gigi.

Thanks.” Menirukan decak lidahnya yang terbiasa melumat permen karet.

“Aku menyukaimu Zig.” Ia masih berada di atasku kala tangannya terulur ke samping. Aku membantunya menggapai sebatang Marlboro lisut. Tembakaunya sudah luruh seperempat. Tapi ia masih menjejalkannya dengan paksa di sela bibir, lantas menungguku menyelomotinya dengan api.

Ia menyisapnya sekali; menyelipkan sisanya di bibirku.

“Kupikir ini semacam one night stand?”

“Entahlah.” Bahuku teredik. “Kupikir juga begitu. Tapi, bukankah ini menyenangkan?”

Aku tak menjawab. Menyenangkan? Ia memang luar biasa, itu yang cukup kuakui. Tapi, aku mulai memikirkan Joan.

“Kau memikirkan dirinya?” tanyanya, seolah dapat mengintip ke dalam kepalaku.

“Aku memikirkan Creedy.”Itu yang kedua. Aku mulai berpikir banyak belakangan ini. Tidak hanya Joan. Aku terlalu kesal padanya sampai tidak bisa berpikir, tapi aku masih berpikir tentang Creedy dengan langkah kenesnya.

“Persetan dengan dirimu, Zig!”

Aku tahu, ia akan mengumpat. Seperti kata itu tak pernah punya batasan untuk keluar dariekspirasinya. Ia akan bernapas sebanyak ia mengumpat.

“O, hentikan,” pintaku. Aku berusaha menyentuh hidung bangir itu dengan cuping hidungku. Sekonyong-konyong saja tangannya berpindah. Tak ada belai. Ia sadar kalau Marlboro-nya baru saja dieksploitasi terlalu banyak sampai menyumbat pembuluh otakku.

“Kembalikan!” Tangan kekarnya merebut puntung itu begitu saja. Menggeser duduknya, memunggungi wajahku. Dengan tulang punggung terpapar lurus. Dua tungkai kaki yang terlipat menabrak dada.

“Jangan bilang kau marah untuk hal semacam itu.” Aku berusaha menyentuh bahunya; ia menampik seketika.

“Aku tak pernah memintamu untuk melepaskannya, Zig. Aku hanya benci padamu yang selalu saja berdilema untuk hal yang tak perlu.” Ia menarik napas sejurus. Menatap ke arloji yang tergeletak di sisi kaki stool. Ia menyesap puntung itu dengan lugas, menyemburkan asapnya lapat-lapat.

Istilah one night stand itu hanya ciptaanku semata. Sudah lima kali dalam dua minggu terakhir; sudah ribuan kali bibirku dipagut dirinya dengan semena-mena. Kemaluanku bahkan sudah dilecehkan puluhan kali dengan atraksi eksperimentalnya. Mulanya aku bertanya, apa aku yakin akan melakukannya? Hingga aku berlagak seakan-akan cumbu banalnya adalah yang paling kutunggu.

Ia menyelipkan beberapa lembar quid di kantung jinsku. Sudah pasti. Tak perlu ditegur. Ia hanya dapat menawarkanku hal semacam itu sebelum akhirnya aku menganggap bahwa pertemuan kami selepas diskusi rekam semacam kebiasaan yang diperlu diadisi lebih sering dan berdurasi lebih panjang.

“Hei, kau tak marah, ‘kan?” Aku masih tak yakin bagaimana semua ini akan berlanjut.

Jins kami nyaris saja tertukar. Rontek gespernya terdengar kontras kala aku mematikan tembang terakhir di radio.

Aku mulai mengenakan kaus, mengganjur lumberjack dan menyampirkannya di sebelah bahu.

“Aku tak ingin menjawabnya, Zig. Yang kauinginkan adalah lebih banyak quid, ‘kan?”

Ia masih dengan santainya mengenakan boots kasualnya, sementara aku tepekur. Jins itu baru separuh menutupi paha. Tak ada boxer aku hanya akan bertelanjang diri, mengenakan jins belel. Dan menggendong tubuh kenes itu di rumah.

Bye, Zig.”

Untuk kesekian kalinya aku mati langkah, ia dengan begitu lekasnya menyelinap dan melengos di balik pintu. Aku bahkan akan melupakan ini dalam jenak yang tak pernah terhitung sampai mungkin saja ponselku akan berbunyi di senja nanti atau tiga hari setelahnya.

Aku memungut ponsel itu di ceruk sofa. Tertimpa di balik bantal-bantal apak.

Dua puluh kali panggilan tak terjawab. Joan.

****

Bau itu harus pergi. Aku membuang Mayfair terakhir di stasiun Latimer Road. Pemantiknya kusembunyikan ke dalam ceruk saku. Bibirku mengunyah lebih banyak Chiclet yang kupungut dari babut bilik mixing. Tak boleh terpergok. Beberapa kali mataku mengerjap. Rasanya begitu perih setelah semalam terjaga menatap pagu. Perlu empat menit untuk berjalan dari Royal Oak menuju muka pintu. Arlojiku menunjukkan pukul tujuh. Jalanan sepi di pekarangan keluarga Jones. Hanya bunyi desis air yang otomatis berkeriap lewat alat menyemprot rumput.

Aku mendengus kecil. Memungut koran di patio. Bukan sesuatu yang biasa terlewat. Pekik girang itu bahkan sudah terdengar semenjak langkah pertama sneakers-ku beradu dengan telundakan kayu. Aku menolak menekan bel di sisi pintu; merogoh saku belakang dan memasukkan anak kunci milikku.

“Ziiiig!” Creedy menghambur secepat kilat ke dalam dekapanku.

“Hey! Selamat pagi, gadisku yang cantik,” sambutku, mengecup ubun-ubunnya, dan menggendongnya mengitari koridor depan. “Ke mana Joan?” bisikku.

Tak ada pekik ricuh milik Joan dari balik tirai, kendati aku dapat mendengar siulan kettle lewat lorong dapur. Tepat di sisi konter yang amburadul, Joan masih mengenakan baju hijau bertugasnya. Rambutnya tergelung asal.

Aku mengamatinya dengan diam; Creedy berbicara tentang ini dan itu; tentang apa yang baru dijumpainya di televisi; bagaimana Patrick dan Spongebob menghancurkan rumah Squidward dengan alat peniup karang. Topik-topik menarik yang seyogianya kudengar sebelum klakson Mustang itu meletup di patio depan.

“Habiskan roti pitamu, Creedy.” Suara Joan begitu dingin.“Aku akan mengantarmu sebentar lagi ke halte.” Pandangan kami bersirobok. Aku lekas-lekas menurunkan Creedy, ia terduduk lesu di pinggir meja.

“O, Joan. Bisa kita tunda ini sebentar?” rengeknya, “Zig baru—”

“Cukup, Creedy. Kau tak ingin terlambat, ‘kan?” Joan menatapnya lekat.

Creedy bocah yang penurut, ia benci roti pita, tapi gigi-gigi susu itu mengunyah kecil tepiannya sembari menggerundel.

“Iya, Creed. Aku janji akan mendengarkan ceritamu sore ini,” ujarku membelai rambut cokelatnya.

“Kau berjanji? Kau tak terlihat semalaman Zig.” Tatapan nanarnya menilikku sekilas.

Joan berdeham cukup keras. Itu salah satu dari koleksi triknya yang paling murahan.

“Tentu saja. Aku akan membacakan cerita dari Grimm Bersaudara malam ini.”

“Buku itu sudah habis.” Tak dinyana, Joan meletakkan pisau itu di sisi talenan, menatap singkat diriku dengan penuh kebencian. Creedy masih masyuk mengunyah—Joan takkan melempar benda tajam itu padaku.

“Dengar, Creedy. Bisa kau ambil tas dan buku-bukumu di kamar? Biar aku yang mengantarmu ke halte,” ujarku.

Creedy bukan gadis bodoh. Ia dapat mengendus situasi buruk; kaki lincahnya lekas turun dari kursi, lantas berlari menaiki tangga.

“Cukup, Zig!” Joan yang pertama kali berteriak. Aku menarik napas panjang. “Ke mana kau semalam?” tanyanya.

Ia berharap aku menatapnya mengenakan baju ER tolol itu dan meminta tolong padaku untuk menjaga Creedy sementara ia dapat bercumbu dengan salah seorang dokter kenalannya di pantry.

“Aku pergi ke studio.” Aku berusaha tenang, tak mengacuhkan pekik histerisnya, menggapai tuas pintu lemari es. Mengganjur asal persediaan kotak susu di dasar rak. Mereguknya dengan kasar.

“Dan menyelesaikan album gagal itu?” Joan sudah berbalik menghadapku. Berkacak pinggang, dilahap amarah.

“Tidak ada yang gagal, Joan. Kau akan mendengarnya sebentar lagi, asal kau tahu,” aku membisiki telinganya dengan sedikit seringai.

“Aku tak perlu janji, Zig.” Ia mendorongku cukup keras. “Kau tahu, aku mencari uang setiap malam dan kau malah menghabiskan semuanya dengan Mayfair dan gelas-gelas Bitter.”

“Aku bertanggungjawab,” pungkasku, meletakkan kotak susu tandas itu di permukaan konter.

“Untuk seringai palsu itu. Dan ucapan selamat pagi kepada Creedy. Aku meneleponmu semalaman, Zig. Sialan! Ia mencarimu semalaman dan aku harus bekerja.”

Aku enggan membalas pernyataan itu. Bagi Joan aku hanya suami yang tak berguna. Pemabuk kelas satu. Penggandrung rokok murahan Mayfair yang selalu berada di deret akhir rak mini-market. Seseorang yang agaknya hanya menjadi badut di pagi hari dan menghancurkan acara sarapan pagi.

Lidahku berdecak. Chiclet baru saja berubah rasa menjadi sedikit masam.

Aku menyepah ampas hambarnya di tong sampah. Semuanya terlalu mudah untuk dipecahkan, dari malam-malam setelah aku mendapatkan panggilan pertama, bersenggama dengan seseorang yang seharusnya tak pernah kukenal sebelumnya, tapi tak ada momen yang lebih menggiurkan ketimbang melihat otot-otot di pelipis Joan yang menegang.

Uang di saku belakang jins seakan menggelitiki punggungku untuk tertawa keras-keras.Merogoh ke ceruknya dan meletakkannya tanpa berkata-kata. Lebih dari onggokan quid yang dapat menyumpal mulut besar Joan.

“Dari—”

Aku menciumnya dengan paksa tanpa sempat mendengarnya bertanya. Ia meronta. Tapi, Creedy sudah terlanjur memanggilku dan mengayunkan kotak makan siangnya. “Ayo, Zig!” ujarnya bersemangat. Kaki-kaki mungilnya menandak.

Bye, Love,” bisikku, mengulum senyum.Joan punya cekung mata yang selalu kusuka saat pertama kali matanya, sepasang mata berkantung gelap yang menatapku lelah.

****

Dari balik kelir, aku mengintip pemandangan di bangku penonton. Hillgate penuh sesak dengan gunjing dan asap madat. Dua yang kuingat kala itu; jemariku yang kebas dan Ibanez yang perlu kuinjak. Dan satu petuah bodoh soal Ed O’Brien[1] yang sempat kurapalkan, tapi kini—kala lampu-lampu berkeredap di atas kepala—semua kalimat itu raib begitu saja.

Band-ku payah. Russell tak cukup tangkas mempermainkan gitar; Dev, yang terlalu pandir menghitung tempo, selalu membiarkan anggannya terpergok mengutip ritme milik Dave Groghl[2].

Aku berdiri dengan jins belel malam itu. Bukan dengan sesuatu yang besar. Satu ketuk dari drum kit Dev; aku memulai permainan pertamaku. Kami turun panggung dengan etape yang pendek, Russell meletakkan Gibson bekasnya di lorong belakang. Aku memilih menyesap Bitter dari konter bar. Rasanya buruk. Dan kasak-kusuk itu tak kunjung pergi. Mata-mata sinis yang mencaci selera musikku.

“Malam yang berat?” Jim, dari balik konter, tersenyum kecut.

Aku mengedik, pura-pura tidak mendengar. Bukan salahku yang mengumpat lebih banyak, Bitter itu serta-merta tandas disesapan keempat. Aku marah pada diriku sendiri; pada semua hal yang membuatku memberanikan diri di atas panggung. Kubayangkan raut Joan tadi pagi, bagaimana ia mencemoohgig pertama kami, tapi di saat yang sama aku membayangkan Creedy yang menandak kerasan kala aku memperkenalkan Fender Telecaster padanya.

“Bagaimana dengan satu minuman gratis malam ini?” Jim mengangsurkan satu pint Bitter padaku; membuka pembicaraan yang memang tidak seharusnya ia karang.

Thanks,” ujarku.

“Permainan yang bagus,” sergah seseorang di samping.

Aku nyaris tersedak. Dikerumuni ruap sedap di bibir gelas kedua.

Tom. Aku tak menyangka akan menemukan Tom di tempat semacam Hillgate. Tawanya tempo hari masih kuingat. Berjaket kulit alih-alih berjas necis. Pukul sepuluh di malam Jumat saat aku bertemu dengannya. Ia bersandar di konter bar tempatku berjengit, memperhatikan Brand Turner bersama band kebanggaannya melantunkan “505”.

“Kau punya bakat yang unik, Zig,” ia menyahut sekilas. Melempar tatapan padaku, yang masih terlalu sibuk menyesap lebih banyak Bitter di paruh gelas.

“Kau menonton pertunjukan kami?” Aku masih berada di lini tak percaya, mendapati Tom, adik Joan, menyaksikan penampilan tolol itu. Apa yang akan ia lakukan selanjutnya? Perutku terasa diaduk dengan lebih banyak Bitter dan tingkap-tingkap ide jahanam yang mungkin akan melompat dari tempurung kepalanya.

“Tentu saja. Kau kekurangan personil?”

Dahiku berkerut. Tom di pemakaman Peter adalah semacam bualan. Kendati salah memilih kostum; tidak mengindahkan larangan merokok di ruang tamu; membuang Clipper-nya semena-mena di sofa kegemaran Creedy, Tom tak nampak seperti penggemar aliran eksperimental yang dianut oleh kami bertiga. Rokoknya Marlboro, sungguh Amerika. Begitu pun dengan Brooklyn Lager yang selalu ia pesan pada pertemuan lainnya. Mengendarai Mustang dengan sebelah tangan yang bertelekan di kerai jendela.

“Bagaimana dengan posisi pemegang gitar utama?” tanyanya. Aku melirik curiga.

“Kami baru saja akan menghancurkan band imajiner itu,” pungkasku.

“Wow, kenapa?”

“Kau kentara tak menonton pertunjukan yang barusan.” Aku malas meladeni basa-basi aneh itu. Tom memang tidak bermaksud buruk. Tapi, aku benci gestur dan polahnya. Senyum yang sebentar-sebentar tersungging, tangan yang sekonyong-konyong terulur. Kami di Notting Hill tak pernah bertingkah seramah itu.

“Siapa bilang? Suaramu meleset di larik ketiga.”

Aku meringis. “Thanks. Aku akan menganggapnya sebagai komplimen.”

“Bukan masalah. Aku tertarik untuk ikut audisi.”

Aku terpaksa menerima kehadiran Tom di senja kedua setelah Russell dan Dev membuka sesi audisi di rumah Ned Statham. Harus kuakui, permainan Tom lebih baik dari Russell; suaranya sengau seperti Thom Yorke[3] menyanyikan saduran lagu pendek milik Venus in Furs[4]. Implikasinya mudah. Tom menjadi penggagas utama soal kelahiran nama murahan band kami—The Renegade, sebagai bukti pembalasan dendam terhadap kasak-kusuk di Hillgate. Ia pandai menggauli kata; mencuri obsesi yang selalu kubanggakan di depan Joan.

Luar biasa sialan, bukan?

Tidak ada embel-embel lain untuk Zig, selain tukang mabuk dan penggandrung aliran eksperimental yang gagal. Tom berhasil menggeser posisiku sebagai vokalis utama. Sekali berdeham, tepuk tangan sudah menampik di Notting Hill Arts Club. Aku bersembunyi di belakangnya, menginjak pedal, sebentar Dev mencuri ketuk ritmik barunya dari Phil Selway.

.

Cheers?” Bibir botol bir itu masih berembun, baru saja keluar dari mini bar. Tom terperenyak di sofa studio.

Dev masih di ruang rekam untuk take terakhirnya di single terbaru kami. Aku benci mengatakan kami, Tom lebih banyak mengambil alih, sedangkan aku hanya memberi premis penutup dengan menemukan efek perpanjangan dari status genre yang kami tetapkan—eksperimental. Bukan semacam musik progresif murahan.

Aku mengambil bir itu dengan asal. Enggan melirik ke samping. Rokok Tom kali itu berubah menjadi Mayfair, apa gerangan?

“Rokok?” Sudah kuduga ia akan mengangsurkan satu untukku.

Thanks,” aku mengambilnya satu, setelah menyesap bir dingin itu. “Mengapa kaulakukan semua ini?” Benci berpura-pura, pertanyaan itu pasti terdengar membingungkan baginya.

“Kau menginginkan semua ini ‘kan, Zig?” Ia ikut mereguk di sampingku.

Aku mengedik. Mungkin salah satunya. Tidak ada kasak-kusuk buruk mengenai gig amatir di Hillgate, pun terdaftar sebagai salah satu band yang paling ditunggu di Arts Club. “Entahlah. Aku benci harus mengakuinya.”

“Karena kau merasa akan mencapainya sendirian?”

“Aku hanya ingin menyenangkan hati Joan,” pungkasku.

“Bukan menyainginya?” Ia melirikku sembari mendengus, seolah tahu ke mana kata-kataku akan mengarah. “Aku tahu, kau kalah satu kosong dengannya.”

Keparat! Aku meletakkan botol birku di coffee table. Kusulut rokokku dengan Clipper merah. Berdiri secepat kilat menuju pintu keluar. Aku mengumpat lebih banyak di sela nama Joan.

Notting Hill kala itu hujan, pukul sebelas lebih seperempat, aku menolak pulang, alih-alih mengepulkan lebih banyak polusi asap ke udara. Jemariku memutih. Menyingkap ekor jaket, menarik ritsleting hingga menutupi dagu. Pintu kaca terayun di belakangku.

“Aku tak menyangka kau menjadi begitu tersinggung.” Tom tertawa keras, mengelap sisa bir di tepian bibir. Kakinya mengayun depan-belakang, berjungkat-jungkit seolah kehabisan gaya untuk melucu.

Aku melirik sinis ke arahnya, mengumpan tatapan menuju jalanan sepi di seberang.

“Hei, hei! Kau tak marah ‘kan?”

Kali ini ia benar-benar menyebalkan.

“Hentikan, Tom,” aku berjingkat singkat; Tom nyaris terjerembap menghantam tembok.

“Lihat. Aku tak menyukaimu sejak hari kita bertemu.” Aku memasukkan kedua tangan di saku.

“Itu lucu. Aku menyukaimu.” Menyesap lebih banyak Mayfair, obrolan kami terdengar semakin kacau. Kuanggap ia mulai mabuk kala itu. Dari sekejap mengumbar lebih banyak sesap, kini kedua kakinya sudah melompat-lompatmengusir dingin.

“Tapi, aku tidak,” aku bersikukuh dengan jawaban itu.

“Siapa bilang?”

“Tutup mulutmu, sialan.” Aku baru saja akan meninjunya, saat ia berjalan mendekat. Matanya biru—mata Joan yang tiap hari menghujaniku dengan rasa bersalah. Tangan kami beradu; tangkapannya menghantam kepalan tanganku. Dengih napasnya terasa menyapu pipi, tembakau bercampur tar busuk. Aku memperhatikan mandibulanya yang tirus.

Shit!” Aku berusaha mendorongnya menjauh.

Ia balas melempar tubuhku. Terjajar mundur dengan langkah limbung. Jemarinya meraup kedua pipiku. Menyasarkan ciuman di bibir. Aku ingin muntah. Menendang selangkangannya, alih-alih, mencengkeram kontur bata yang tersusun di sisi kepala.

“Aku akan membantumu mengalahkan Joan, Zig,” bisiknya.

Percik sinting itu hanya kurasakan sekali, terbersit di antara mata biru yang sama. Berdengih di telingaku. Aku membiarkannya mencumbuiku malam itu. Menarik ritsleting jinsku, menjilati apa yang seharusnya menjadi miliknya.Seolah lidahnya membungkam mulutku berminggu-minggu, ia menyelipkan tip pertama di saku belakang. Lembaran quid yang akan kulempar di hadapan muka Joan.

****

Aku dan Tom bertengkar hebat semalam. Untuk sebuah alasan yang retoris, aku menyelinap lewat pintu belakang. Langit masih gelap. Mungkin pukul tiga dini hari. Joan masih bertugas, pun Creedy yang dititipkan di meja resepsionis. Semuanya terasa semu. Aku tak sempat berganti pakaian, yang kulihat hanya samar pantulan bulan di kisi-kisi jendela. Terduduk di sofa ruang tengah,Mayfair-ku masih di selipan tangan. Asap terakhir dari yang estafet di perjalanan pulang. Aku mencoba menekan speed-dial nomor tiga. Nama Tom muncul di layar kaca. Empat kali nada sambung itu terdengar, ia masih enggan menerima sambungan.

Bukan maksudku untuk pulang. Alih-alih, Tom kerap mempertanyakan hal yang sama. Menyudutkanku untuk memilih dirinya atau Joan. Shit!

“Zig!” panggilan itu terdengar entah di pukul berapa, matahari sudah naik sepenggalah. Aku masih merasa disorientasi, bergelung di atas sofa. Joan menilikku dari jauh. Ia tak berharap banyak, hanya mata lelah dengan kantung mata yang menghitam.

Aku meraup Creedy begitu ia terperenyak di bibir sofa. “Morning, Creedy,” ujarku, mengacak rambutnya.

“Kau ke mana tadi malam?” tanyanya, mencoba menggapai remote teve di atas meja.

“Ini.” Aku menyerahkannya. “Kau tahu, Fender Telecaster yang kemarin kutunjukkan padamu.”

“Benda keren itu?” Alisnya berjungkit, Creedy masih mencari saluranyang tepat untuk tontonan di pagi hari.

“Aku akan memberikannya satu khusus untukmu.”

“Benarkah?” Matanya berbinar.

“Tentu saja,” aku sengaja membuat volume sok beranimo di ujungnya, melirik ke konter dapur, tempat biasanya Joan berdiri. Dulu aku begitu menganggumi siluetnya di pagi hari, setelah semalaman menonton serial Doctor Who. Bagaimana senyumnya menyapu telingaku dan aku menciumnya tepat di dahi.Hingga peristiwa-peristiwa sinting yang terjadi belakangan ini.

Joan tak berada di sana pagi itu. Tidak dengan mata lelahnya, aku mencari-carinya ke sudut ruangan.

“Creed, kurasa aku harus mencari Joan. Kau tahu ‘kan di mana kau akan menemukan sereal pagimu?”

Creedy tak terlalu menggubris, alih-alih, bersila kaki di depan layar kaca.

Aku segera bangkit dari sofa dan menaiki tangga. Pintu kamar kami tak terkunci. Joan sengaja membiarkan segalur celah. Etape singkat di mana aku dapat melongokkan tatapan ke dalam sana.

“Joan?” panggilku, diikuti suara engsel pintu.

Ia buru-buru menghapus air mata, terpogoh-pogoh menyembunyikan sesuatu dariku.

“Zig,” suaranya parau.

“Apa yang kausembunyikan di belakang sana?” Tatapanku berubah sinis. Berkontemplasi mengenai apa yang selalu ia gunjing bersama para tetangga, tentang Zig, suaminya yang pembelot, pengangguran sejati, menyesap Mayfair di Latimer Road dan lekas-lekas membuangnya karena takut bau itu mengikutinya hingga ke serambi.

“Bukan urusanmu.” Ia terjajar mundur.

Okay, bukan urusanku. Kau terus saja menutupi sesuatu, Joan. Lantaran aku hanya pria bodoh yang menyusahkan hidupmu?”

Pertengkaran baru saja dimulai. Kedua kalinya di minggu ini. Aku enggan memulai, tapi ia baru saja memancingku untuk melakukannya.

Joan tak menjawab. Tak biasanya ia membiarkan punggungnya dicium tembok. Duduk mencangkung di lantai dengan derai air mata.

“Sialan, Joan. Apa yang sebenarnya terjadi?!” pekikku frustasi.

Ia mengangsurkan benda itu perlahan. Persegi panjang dengan dua garis merah di tengah. Aku mendengus. Ia pasti bercanda. Pasti ulah para dokter jaga di pantry. Bukankah itu yang selalu kukehendaki?

Aku tepekur memikirkan tawa-tawa milik Joan, lantas Tom yang mencanduiku semalam. Apa yang baru saja kupikirkan?

“Omong kosong!” semburku.

“Terus saja tertawa, Zig. Kau hanya bisa tertawa atas perbuatan binalmu ketimbang berusaha. Kau tahu, apa yang kuharapkan selama ini?” Joan menghapus air matanya. “Aku berharap kau berubah. Kau melupakan mainan tololmu. Telecaster itu hanya semacam bualan. Kau bisa mencari pekerjaan yang lebih layak ketimbang menulis lagu, tidak ada orang yang ingin memainkan lagumu.”

“Tutupmu mulutmu!” aku mendorongnya mundur.

“Kau yang harusnya tutup mulut, Zig. Aku akan keluar malam ini.” Joan mengambil langkah maju.

Aku menarik napas panjang. Ia pasti dapat mencium bau Mayfair yang tertinggal. Aku enggan berdebat lebih lama. Di saat yang sama aku memikirkan apa yang terjadi dua minggu belakangan, apa yang kulakukan bersama Tom di studio; di toilet Arts Club; dan kini aku berada di sini, menatap Joan yang baru mengaku kalau ia mengandung bayi itu.

****

Grand Union di akhir pekan tak ubahnya ritual penting bagi Tom. Memarkir Mustang di Harrow Road. Membiarkan sedikit celah di tepi jendela. Aku sengaja memutar radio ke sinyal 87.7, tepat kala duo Whamp! melansirkan hit terbaik mereka; Russell menyembulkan kepala dari jok belakang.

Di pertemuan kami yang ketiga, aku mulai mempertanyakan bagaimana Tom bisa begitu kaya? Memberikan lembaran quid dengan cuma-cuma. Bertolak dari Amerika hingga terdampar di Pulau Britania. Dev bertaruh tentang formula brengsek yang ia sembunyikan di dasbor mobil. Malam turun begitu bisu. Tom duduk menyamping di belakang kemudi, menyelonjorkan kaki jenjangnya di pahaku. Mulanya Dev yang bercanda dengan pertanyaan itu.

Shit, Man.” Tom hanya mengulangi frasa Amerika-nya dengan begitu kental, tanpa embel-embel “mate” yang kami gunakan. “Kau tahu, ini bukan soal perkara mudah.”

“Tentu saja.”

“Tapi kami tahu, kau yang menyewa semua perkakas itu.”

Kami tak pernah lupa dengan cek lisut yang dikeluarkan dari saku belakang Tom di hari pertama bertandang ke St. Quentin Avenue. Jins sompek. Shirt bekas kemarin. Lumberjack tengik. Asap yang dilahap siang.

“Aku tak ingin kalian terlibat.” Ia tersenyum padaku, lantas kepada Dev; Russell malah sudah terpingkal saat ia membuka pengait dasbor depannya. Di depan lututku, kompartemen yang kukira hanya tempat menimbun lebih banyak Chiclet kegemarannya, dua bungkus tepung putih itu mengintip.

Dev paling girang. “Dua puluh quid, Mate,” ujarnya girang. Tangannya terkepal, sementara duduknya merosot ke belakang.

Aku mendengus kesal. Tidak berkomentar, alih-alih, melempar tatapan jauh ke pelipir jalan. Air beriak. Mengawasi kerlip lampu jalan yang terhalang Mulch.

Mulanya semua hanya introduksi awal. Bungkus putih itu tidak sendirian. Bersama pada handai; sendok, Clipper, dan jarum suntik. “Afrosidiak,” pungkas Tom, ia baru saja memberikan sampel cuma-cuma. Satu kali suntik toh tak masalah, tak ada efek samping, hanya kerasan sampai mati. Lebih baik dari seks, lagi pula siapa yang ingin bercinta dengan pria-pria brengsek seperti kami—kelas bawah dari kasta se-London raya.

Tom tak pernah memaksa, ia mengendus Heroin-nya sendiri sebelum kami bercinta, tertawa-tawa, bahkan semalam suntuk sementara aku memandang pagu untuk sebuah fantasi pribadi. Malam-malam kami terlalu elok. Rintihannya adalah candu. Tapi, dekapannya hanya semacam laporan tindak kriminal yang kian menjadi.

“Aku harus pergi ke Edinburgh besok.” Dan besoknya, lalu besoknya, nukilan brengsek.

Acara bertengkar kami menjadi seperti frekuensi curah hujan yang mengguyur London. Sebentar-sebentar ia membanting mic hanya lantaran sebuah jargon bodoh di teve; menonjok Russell lantaran tertawa kepalang nyaring.

Aku merelakan lengan untuk praktik pertama Dev malam itu. Untuk sebuah utopia yang tak berujung. Aku menyalakan Mayfair ketiga. Merokok memandang lama ke langit. Memikirkan Joan; mendengarkan ketuk repetitif sepatunya yang mengarah ke luar rumah; jeritan Creedy yang memilih untuk tinggal. Keparat, Joan! Brengsek!

Sotoh kondominium Russell bisa dibilang yang terbaik. Sendok-sendok baru saja berdenting. Clipper meletupkan semburan batu api. Desis itu baru saja disambut meriah oleh Russell.

Dua kali Tom menepuk lenganku setelah mengikat dengan tali pinggang. “Kau siap, Tom?” Aku menangkap cengiran di bibirnya. Lantas merasakan Heroin itu menendang nadi. Satu suntikan penuh. Pandanganku berkemedang. Perutku mual. Di tengah kesenjangan, Tom bukan hanya mengumbar kemaluannya, ia memang berkata yang sejujurnya.

.

Mateshit! Mate,” Russell berada di atas sana. Di atas pohon ara. Luar biasa lucu. Kau tahu apa yang ingin disampaikannya?

“Sudah pukul dua, Mate,” ujarnya.

Aku masih pengar. Separuh sadar. Dev celentang di sempadan kebanggannya, langkan tinggi di pucuk gunung. “O, Rus. Kau luar bisa menyebalkan.”

“Persetan. Ponselmu berbunyi sejak tadi.” Ia mengangsurkan benda itu padaku.

Aku melihat senarai miss-call di layar depan. Tiga kali. Tom.

“Tom,” dengusku geli.

“Ia ingin mobilnya kembali,” Russell menceletuk di belakang. Kulongokkan kepala sembari berjalan limbung. Mustang itu terparkir di pinggir trotoar.

Ponsel itu kembali berbunyi; aku mengangkatnya tanpa mengintip ke layar.

“Zig?” Tom terdengar begitu gembira. Tentu saja. Ia baru saja mengadakan trip bisnis ke Edinburgh, bukan? Kliennya baru membeli tepung-tepung eksilir itu. “Zig?”

“Tom?!”

Shit! Dev membiarkanmu mencobanya?”

“Mencoba apa?”

“Aku membutuhkan Mustang-ku. Westbourne Grove, lima belas menit lagi, katakan pada Russell.” Ia berkata cepat lantas memutuskan sambungan telepon.

Aku tersenyum kecil. Malam begitu dingin. Aku menggajur jaket dan lumberjack di sandaran kursi. Menarik satu batang Mayfair; mencuri Clipper dari tangan Dev.

“Russ, berikan kuncinya padaku.”

“Sepertinya bukan ide yang bagus, Zig.” Ia meletakkan botol Budweiser-nya dengan enggan. Dua kali dentingan. Kepalaku terasa nyaris pecah.

“O, persetan dengan Tom. Aku ingin kunci itu,” paksaku. Russell merogoh saku belakang jinsnya.

“Kau masih separuh sadar, Mate.”

“Aku baik-baik saja,” sebutku, mengambil anak-anak kunci itu dari tangannya.

Menuruni tangan kondo adalah perjalanan terpanjang sepanjang masa. Aku mulai memikirkan ilustrasi Bowie di kamar rekam. Memikirkan Tom[5] dalam perjalanan luar angkasa. Hitungan mundur. Tujuh beregresi menjadi enam, lantas lima, dan berujung pada angka satu. Aku hanya ingin lekas mendarat menjamah dunia baru. Tak ada pekik, tak ada kekecewaan, hanya ada pesta semalam suntuk.

Radio meraung di frekuensi AM. Siaran amatir yang tertangkap separuh berkelutuk. Aku mulai membuka dasbor. Mengaduk isinya, berharap menemukan kaset lotak seputar Germs atau hal semacamnya, alih-alih menemukan sepucuk Beretta.

Shit, Tom?!” aku tertawa tidak percaya. Sebuah senjata dengan magasin terisi penuh. Aku memutar-mutar jungurnya. Menggenggam popornya. Luar biasa. Aku bisa mengisar kepala Joan dengan benda itu.

Westbourne Grove atau entahlah. Aku melihat Tom yang berdiri dengan Marlboro di tangannya. Bersandar di dinding etalase gerai. Kanopi di atasnya reyot, becek terasa lengket di sol sepatu.

“Zig?!” Ia melebarkan tangan seolah tak percaya aku berada di hadapannya.

Aku melompat keluar mobil. Menutup pintu dengan satu bantingan terkeras yang pernah kudengar. Membawa Beretta dengan sebelah tangan. Tom berpakaian pelik malam itu, ia mengenakan kostum astronot putih dengan helm yang direngkuh di tangan kanan.

“Tom!” Aku tertawa terpingkal. “Apa yang kaulakukan dengan pakaian itu?” Ia pasti ingin mengajakku pergi. Pergi ke Mars. Tempat seharusnya aku tinggal.

“Zig?” Ia tergopoh-gopoh melangkah. “Letakkan benda itu sekarang juga.”

“Maksudmu ini?”

Shit!” Mata Tom serta-merta nyalang. “Berikan padaku.”

“Tidak! Aku ingin meminjamnya, Tom. Aku akan membunuh Joan. Keparat kau, Joan! Keparat kau!” jeritku lantang.

Tom membekapku.

“Lepaskan!”

“Berikan padaku, Zig.” Tangan kekarnya menarik lenganku. Menjatuhkannya hingga kami bergulat di atas limpasan.

“Tidak!”

“Lepaskan, Zig. Ini bukan dirimu.” Tom menampar pipiku. Menelisik tepat ke mata. Matanya begitu biru. Aku terdiam. Mata Joan yang selalu menuduhku.

Napasnya berdengih. Aku menggapai Beretta yang menunggu. “Hentikan, Zig. Kau pasti bercanda untuk—”

DAR!

Satu tarikan pelatuk; aku tertawa. Kau mati, Joan. Kau mati. Memandang jauh ke atas langit. Remang lampu jalan diisi dengan desir air dan lenguhan anjing dari loteng lantai dua. “Tom?” panggilku singkat, mengatur napas yang berdengih.

“Tom?” aku menyenggol pinggangnya. “Tom?!” lebih keras. Aku menoleh perlahan. Tom membeliak di sana. Kemejanya dirembesi darah. “Shit,” terlalu banyak umpatan yang bisa kulancarkan, aku menarik tubuh itu. Mengusap dahinya. “Tom? Aku minta maaf. Shit. Please, aku ingin kau buka mata sekarang.”

Aku memandang ke samping. Tak ada seorang pun di sana. Ini tak bisa berlangsung terlalu lama, para tetangga akan mulai memakai slipper, mengenakan kemerjas, dan melongok ke luar jendela.

Aku menyeret mayat itu ke sisi bumper. Mendobrak bagasi belakang. “Sorry, Tom. Aku—” tangisku pecah kala membopong tubuh itu masuk. Menjejalkan tangannya yang terurai. Darah menodai setiap jengkal jemariku. Aku menutup pintu dengan paksa. Membuka pintu kemudi lantas menginjak pedal gas sekencang-kencangnya. Konsol tengah berdecit nyaris patah.

Harus ke mana? Aku tak boleh terlihat. Aku mendengar tawa Creedy kala itu. Aku melihat mata abunya. Bercermin dengan perawakanku sekarang.

Tom agaknya tengah mengumpat tanpa sepengetahuanku, mendobrak barisan jok belakang sehingga tangan-tangan jenjangnya dapat mencekik leherku.

Aku memutuskan untuk berhenti. Decit ban merundung malam. Aku menilik ke belakang. Bagasi itu baru saja menjungkit ingin terbuka. Kaki-kakiku terseok mundur. “Maafkan aku, Tom!”

Aku berlari sekuat tenaga, terlalu takut untuk melirik kedua kalinya. Tom ada di sana. Baju astronotnya bernoda seperti kesumba.

“Jangan bunuh aku, Tom.” Satu per satu jemariku menggapai sembiran jembatan. “Tom!” aku berteriak sekali lagi. Mendengar telapak kaki itu mendekat; memanjat tembok lebih keras. Jungur sepatuku semakin tersudut.

“Tom!” pekikku sekuat tenaga. Aku membiarkan tangan-tangan itu menggapaiku. Melahapnya di antara gelap. Menghujat setiap pori-pori untuk ikut bernapas. Di dalam dingin dan gelap aku melihat Tom yang begitu tampan. Bagaimana setiap jengkal tubuhnya melekat di atas tubuhku. Senyumnya yang begitu menawan.

Kurasa aku memang sudah berada di Mars.

-fin.

 _____________________

[1] Salah seorang gitarisRadiohead
[2] Sebelum membentuk Foo Fighters, Dave Grohl merupakan drummer dari band grunge Nirvana
[3] Vokalis Radiohead
[4] Venus in Furs merupakan band fiksional yang didirkan oleh Brian Slade pada film Velvet Goldmine (1998)
[5] Berkaitan dengan lagu “Space Oddity” milik David Bowie (1969) yang bercerita tentang petualanga Mayor Tom keluar angkasa

A/N: Zig dan Tom adalah milik Bowie. Malam adalah milik para monyet. Mars adalah satu dari sekian banyak agenda adegan yang ingin saya tuntaskan.

Advertisements

48 thoughts on “Mars

  1. Dear Zura. You always amaze me by your writing skill. Seriously buat orang yang kosakatanya masih terbatas kayak aku, ini memang memusingkan. Tapi cool. Jadi ngomong-ngomong soal ceritanya, ini benar-benar komplit. Mulai dari cinta, seks bebas, disorientasi seksual, dan kriminal. Wow. Lantas aku memutuskan untuk memasukkan namamu ke dalam list penulis-yang-bisa-menulis-NC-yang-bisa-ditoleransi karena bahasa yang kamu gunakan halus dan tidak serta-merta eksplisit lalu pembaca hanya disajikan porn berkedok aksara, ngga. Tulisanmu ngga gitu. Tulisanmu ini penuh pengertian. Dan aku suka caramu menggambarkan apa yang kamu bilang ‘rated’ sebelumnya.

    Aku dua kali menemukan kamu menulis ‘kebanggaan’ menjadi apa aku lupa, yah, masalah biasa sih kalau typo. Everybody does it.

    Aku mau tanya dong, kenapa Azura tampaknya memberikan sedikit titik berat pada merek rokok yang mereka hisap? Apakah merek rokok itu menunjukkan semacam identitas?

    Boleh aku bilang kalau cerita ini wow, sekali lagi? Alright, wow!

    Tetap menulis, Azura!

    • Komen pertama 🙂 terima kasih banget ya, Eci.

      Iya, ceritanya memang komplet sih. Cuma karena itu juga mungkin sulit diterima oleh masyarakat di sekeliling saya. Saya berharap walau menulis yang tentang beginian, tetap ada yang mau baca. Ini semacam keinginan saya sih dari dulu. Kalau dari dulu saya sering menulis tentang segala sesuatu yang manis, kali ini pengin jungkir balik dan menulis di baliknya.

      Syukurlah. Karena yang sebelumnya saya sempat agak kena warning lantaran gak menulis “warning” di bagian pendahuluannya.

      Er, soal merk rokok itu. Itu memang ada maksudnya. Marlboro di sini adalah sebuah brand rokok untuk orang yang “berada” sedangkan Mayfair, kendati dua-duanya produksi Amerika. Tapi, Mayfair itu punya target market buat orang yang ekonominya rendah di Inggris. Jadi, ya bisa disimpulkan sendiri saat Tom mengganti rokoknya menjadi Mayfair saat ingin mendekati Zig hehe… sebenernya itu sudah tanda sih. Semacam teka-teki yang aneh yang saya coba selipkan di dalamnya.

      Terima kasih. Kamu juga 😀

  2. Chiiiiinngggggg….
    Serius ya aku tuh selalu amaze sama kosakata kamu. Serius rasanya tuh sampek merasa butuh kamus. Kamu bisa tau banyak banget kosakata gini darimana siiihhh *nangis*

    Okeh ini aku bacanya dari awal menghayati sekali dan… Ternyata zig itu cowok. HAHAHAHAHAHAHHAA dan bener ya penyimpangan seksual.

    Ditambah dengan nama2 yg aku ga kenal itu resmilah aku kelempar juga ke mars huhuhu

    Eniwei, kenapa mesti mars? Ada apa dengan mars?

    Keep writing ching ^^

    • Hai, Kak 🙂 wah, gak nyangka kakak baca, padahal tadi saya ragu, tag kak ika gak ya? Hahaha…
      Terima kasih lho, kak. Er, yang sekarang sebenernya saya gak terlalu pake banyak kata kok, cuma banyaknya memang mainin padanannya aja sih.

      Iyaps. Ini ceritanya memang sedikit ganjil sih tentang seksualitasnya. Hahaha.

      Kenapa harus Mars? Karena sebenernya kedua tokoh utama di sini itu adalah tokoh-tokoh ciptaan David Bowie, yang pertama Ziggy Stardust dan yang kedua Major Tom (di lagu Space Oddity). Dan di kisahnya seorang Ziggy Stardust itu memang berasal dari Mars.

  3. Hi, Zura. Sorry baru bisa baca dan komen sekarang. Hehe…
    Thank you for tagging. ^^
    Aku selalu suka cara kamu nulis. It’s cool. You’re so good with words.
    Dan tetep aku selalu bisa belajar banyak dari tulisan-tulisan kamu. ^^
    Aku suka cara kamu nyeritain relationship-nya Zig & Joan (entah aku suka banget sama angsty relationship kayak mereka) terus juga cara kamu mengemas adegan NC jadi lebih nyaman untuk dibaca.
    Off topic, aku suka banget nama-nama tokoh disini. Hehe..
    Once again, thank you for tagging. It’s a great story. Keep writing. ^^

    • Hai juga, Feby. Terima kasih ya sudah membaca 🙂 saya seneng lho kalau kamu suka, saya awalnya keder ingin tag kamu atau enggak, saya tahu, kamu gak suka dengan ide utama yang coba saya angkat di sini.

      Tapi, saya seneng banget pas kamu bilang ada bagian yang kamu suka 😀

      Iya, sebenernya, adegan rated di sini bukan menjadi yang utama kok. Cuma sebagai penjelasan tentang kultur yang udah menyimpang belakangan ini. Hehe 🙂 tapi, sesungguhnya, Mars ini pengin bercerita tentang hubungan antar manusia yang kadang ganjil, tapi sering ada ditemukan di dekat kita hehehe…

      Sama-sama. Terima kasih ya sudah mampir.

  4. Satu kata buat tulisannya, WOW!
    Aku nggak tahu harus komen apa. Kosatakanya, hem… Mungkin bagiku masih sedikit aneh. Karena baru menemukan kosakata tersebut. Tapi jalan ceritanya keren. Pergolakan hidup karena cinta dan strata sosial.
    Ada beberapa yang aku masih bingung.
    Berarti Zig itu biseksual dong kak? Creedy itu siapa? Anak joan-zig? Terus pasangan biseksual zig itu tom atau russel.
    Aku baru sekali baca yang begini kak hahahahhaah

    • Wow juga karena kamu membaca cepat sekali, dek 🙂
      Terima kasih ya sudah menyempatkan waktu untuk membaca fiksi Mars ini. Saya senang sekali dapet komen dari kamu.

      Maaf kalau gaya bahasa saya agak aneh, juga dengan kosakatanya yang mungkin sulit. Sebisa mungkin saya mencoba untuk bercerita dengan gaya yang cepat sih.

      Zig itu memang biseksual. Dan Creedy itu anaknya dengan Joan. Yang biseksual itu sebenernya hanya Zig. Dan yang homoseksual itu adalah Tom. Russell di situ adalah gitaris band The Renegade. Teman sepermainan Zig dan Dev.

      Maaf lho kalau temanya membuat kamu terkejut hahaha…

      • Zuraaaa! Ayemkaming fufufufuu~ :DD
        Boleh ga aku terpesona (untuk kesekian kalinya) sama tulisan kamu? Huhuhu ini keren binggo zuraa, you deserve it! NC yang engga NC /lah/ gue ngomong paan cobak? :”’

        Zuraa zuraaa! Kamu bener-bener ya? Ini kalo NC rated macem gini aku masih enakeun aja bacanyaa. Kan NC-nya engga terlalu eksplisit vulgar gitu huhuhu tetep sukak lah sama tulisan kamu zuraa. :))
        Nahkan kusuka karakter Zig nih dia meskipun timpuk-able tapi dia karakternya oke banget kamu bener-bener bisa bikin dia hidup(?) banget zuraa! Trus sama Joan sama Creed ya Tuhan aku juga suka merekaa. Trus pas angsty-nya Joan sama Zig itu nancep bingo yesh! Lalu apa lagi yaa? Plot yang kamu gambarin juga enakeun nyambung zur. Aku suka kamu ngegambarin si Zig yg biseksual trus Tom yg homoseksual… Well, ini anti-mainstream banget! Two thumbs up buat Zura! ❤ ❤

        Duh, jangan kapok ya Zura bok komen kamu kurusuhin beginiii ehehee, abis… engga tau mau komen apa kalo udah baca ficnya zuraa! Ohiya satu lagi aku suka cara kamu nyambungin Mars sama kehidupan serba rumitnya Zig :'''
        Babay Zura! ❤

        Kutunggu tulisanmu selanjutnya! :))

      • Halo, Riris. Terima kasih lho sudah mampir. Saya seneng banget waktu kamu spot kemarin malem. Hahaha….

        Syukurlah kalau ini dinilai gak terlalu vulgar. Saya memang bukan mau menonjolkan adegan NC-nya sih. Jadi adegan itu cuma sebagai bumbu tambahan aja.

        Terima kasih buat komen super hebohnya ya, Riris.

  5. Halohalo! Wuah rated ini… tapi, oke- as long as its one of Kak Zura’s masterpieces, aku baca dari huruf pertama sampe titik terakhir. Yeap.

    Komentar abadi yang pasti ada di setiap karya Kak Zura- diksi dan kosakatanya selalu memukau. Ditambah dengan plot twist yang unik, walaupun cinta masih jadi bahasan utama, tapi ia diramu dengan cara yang berbeda. Kisah percintaan dilematis yang dialami Zig, ditambah dengan latar belakang kerasnya kehidupan jalanan dengan dominasi (yang saya kira…) gaya rock and roll di sana, membuat fiksi satu ini menjadi salah satu bacaan yang “kerennya pecah abis”. Tapi saya penasaran sampai sekarang, Kak. Kalau Zig dituangkan ke lukisan kira-kira semenarik apakah wajahnya, atau kharisma apa yang akan dia tampilkan? Habis, yang ingin memiliki seorang Zig sepertinya banyak sekali sampai datang dari dua jenis /eeh/ :”3

    Ditunggu karya-karya yang selanjutnya ya, Kak. Ciao!

    – Akira

    • Aloha, terima kasih lho dek sudah mampir. Saya kaget kemarin malem, tetiba kamu dateng dan menagih janji *tsah*

      Ah, kamu bisa aja nih. Di cerita yang ini permainan diksinya udah dikurangi kok. Saya lebih pengin memperkuat di ide dan penokohan aja sih.Kalau ditanya kira-kira kayak gimana Zig itu… kayak gimana ya? Saya selalu membayangkan Zig itu Bowie di kala muda atau enggak Jonathan Rhys Meyer dalam Velvet Goldmine haha 🙂

  6. Aaaahhhh zuraaaa~~
    Udah berapa kali sih aku bilang kalo tulisanmu keren? Plis jangan bosen kalo sekali lagi aku bilang keren! Hahaha

    Di fic ini vocab yg kamu pake emang gak serumit tulisan kamu yg dulu2 tapi tetep aja aku harus sedia kbbi di sebelah :p
    Di part awal aku mengira2 hubungan antar tokoh itu. Dan awalnya aku kira Zig homo dan gak punya keluarga lagi. Tapi di part selanjutnya kamu ngegambarin gimana Zig sebenernya punya love-hate relationship sama joan? ._.
    Alurnya kompleks dan wow.. gak ngerti mau bilang apa lagi. Cool as usual ♥

    • Terima kasih. Hehehe 🙂 thanks banget ya sudah mampir dan menyempatkan membaca.

      Eh, akhirnya ada yang bilang kalau vocabnya gak rumit *tebak konfeti*
      Hahaha… ini susahnya kata saya karena memang pertama saya membuat jalan ceritanya maju mundur tanpa pemberitahuan, jadi pembaca juga harus awas buat tahu, kapan saya bicara maju, kapan mundur, kapan mundur di dalam mundur.

  7. Sebelumnya makasih udah ditag ya, Ching. Senang banget baca karyamu. Abisnya berbobot sih 😀

    Di awal cerita sebenarnya aku sempat bingung, semula aku kira Zig itu perempuan. Dan hubungan normal-normal aja menurutku. Tapi menjelang pertengahan cerita baru rada ‘ngeh’ kalo Zig bukan perempuan (dan malah punya anak dan istri). Wow.

    Aku suka sekali ide ceritanya. Tentang biseksual. Juga tentang bagaimana kamu mengakhiri ceritanya. Pokoknya endingnya keren menurutku >_<

    Dan terakhir, seperti biasa, ceritamu selalu kaya akan diksi.
    Ditunggu cerita selanjutnya 🙂

    • Sama-sama. Terima kasih juga lho sudah disempatkan buat mampir.

      Iya, di depan memang penokohannya masih agak samar. Tapi, ya endingnya …. ketauan deh hehe 🙂 Thanks lho sudah menyukai ceritanya.

  8. Just one word.. OMG.. You’re always making me speechless eonni.. =))
    Dari tata bahasa yang eonni gunakan, seperti yang mungkin pernah ku bilang sebelumnya, orang-orang pasti gak bakal nyangka kalau yang ngebuat cerita ini itu seorang cewek.. =))
    Bagaimana bisa penjelasan cerita eonni itu seakan-akan seperti sudah berpengalaman (?) Maksudku ini benar-benar kisah cowok banget gitu..
    Juga kosakatanya selalu membuatku tercengang LOL.. Ini menandakan banget bahwa aku masih harus lebih banyak belajar lagi kosakata-kosakata ini.. LOL..
    Selain itu juga, aku sn kisah-kisah eonni itu identik sama kenakalan band-band sama rokok-rokok.. Bagaimana bisa eonni hapal betul rokok-rokoknya dan tahu lagi rasa-rasanya seperti apa.. *thumbs up..*
    Kalau eonni sama sekali gak merokok, aku acungkan jempol deh soalnya penjelasannya mendetail banget.. 😀

    Oh ya kalau boleh jujur, pas bagian awal aku rada bingung sih bacanya, eh menuju pertengahan, aku sudah taw kalau Zig ini cowok eh pas pertengahan menuju ending kok dia sama Tom.. *hening..*

    Dan endingnya nyebelin (?).. Masih ngegantung huhuhuhu udah cukup greget sih tapi masih kurang puas dengan pembunuhan yang dipengaruhi narkoba.. 😦
    Seandainya masih dipanjangin lagi gitu bakal terasa puas deh kalau menurut pribadi ku sih.. (?) LOL..

    Oh ya aku nemu “mencemoohgig” kurang spasinya tuh eonni.. (?) *digetok..*
    Tapi overal cerita ini penjelasannya *thumbs up* walaupun klimaks nya kurang greget / puas di hatiku.. 😦

    Nice working eonni keep writing ya!! Thank you for your reccomendation!! 🙂

    • Halo, Ren. Wah, terima kasih lho buat komentarnya. Panjaaang banget 🙂

      Sebenernya soal tokohnya yang cowok itu, saya juga lagi heran dengan diri saya sendiri, entah kenapa belakangan saya selalu menulis cerita fiksi dengan sudut pandang “aku”-an seorang cowok. Mungkin saya sedang maskulin haha. Dan soal rokok itu, saya gak merokok sih, cuma saya selalu merokok dalam cerita saya. Jadi begitulah.

      Soal Zig di awal itu, awalnya teman saya sempat kritik juga karena memang sedikit ambigu, Zig itu sedang bersama siapa, tapi saya punya alasan tersendiri sih kenapa membuat Tom di bagian pertama menjadi “ia”, saya pengin pembaca melihat cerita ini seperti biasa saja, sampai akhirnya di bagian selanjutnya semua keganjilan itu terkuak. Semacam prolog gitu, biar gak kaget kalau saya biarkan perbedaannya kentara.

      Terima kasih untuk koreksinya, nanti saya edit. Dan terima kasih juga untuk sarannya, mungkin di bagian akhir itu agak tergesa-gesa juga ya. Semoga saya bisa memperbaiki tempo alurnya untuk penulisan di cerita selanjutnya.

  9. aku perlu baca dua kali sebelum akhirnya meninggalkan komen yang pantas. membaca fiksi kamu butuh konsentrasi tinggi, dan sekali pun aku udah konsentrasi penuh tetep aja (kayaknya) ada salah pengertian, jadi aku minta maaf ya kalo komennya ngaco!
    oke, ini plotnya udah kece beud ya. complicated. zig yang ga harmonis sama joan, joan yang hamil, lalu doi ber-affair ria sama tom, lalu pake heroin, dan gegara pengaruh heroin juga… doi jadi ngebunuh tom 😦 setuju dengan komen di atas, kamu seakan sudah berpengalaman soalnya cerita yang kamu bawa itu cowok banget, lucky strike… lalu ini, dengan background anak band yang gatau kenapa jadi daya tarik nomor satu buat aku =)) permasalahan yang disajikan juga ga nanggung-nanggung ya, berat tapi real. ah, susahlah buat gasuka.
    soal gaya menulis, belakangan zura diksinya emang lebih ringan, tapi seringan-ringannya tulisan kamu tetep aja terasa berat lantaran bertebaran kosakata yang baru aku tau :”) tapi hal itulah yang bikin tulisan kamu memukau, karena selain menghibur juga bikin pembacanya pada melek kosakata! you’re the coolest of my author fellow! semangat terus ya, keep writing 🙂

    • Halo, Kak. Terima kasih ya sudah mampir. Saya nunggu komen dari kakak lho. Eh, ternyata kecemplung di spam hahaha…
      Ah, komen kakak ga ngaco kok.
      Konfliknya memang kompleks banget sih. Kalau soal yang cowok banget itu, saya juga rada mikir sih, gak tau kenapa saya belakangan ini kalau menulis pasti tokohnya cowok. Mungkin kebawa dari hawa-hawa lagu yang saya dengerin kali ya. Hahaha…
      Kalau soal gaya menulis, yang kali ini memang diringanin diksinya, cuma temponya dipercepat, tapi masih ada sih kata-kata yang mungkin jarang orang jumpai, yang saya ubah di sini adalah gaya penulis sintaksnya yang dibuat terburu-buru, makanya maaf juga kalau seandainya sulit dimengerti, apalagi di bagian ending, saya pengin menunjukkan narasi seseorang yang lagi dikejar setan hahaha 🙂

      Terima kasih lho, kak. Kakak juga keren 😀

  10. tiba-tiba saya merasa tidak pandai mengomentari tulisanmu yang ini hehee
    sebenarnya cukup lelah bacanya apalagi untuk orang yang gak pernah baca hal-hal (re: diksi yang hmmm) yang serius macam saya. hahaa, but well, cukup apik juga kamu meramu semuanya (as always).
    udah deh segitu aja :))

  11. Haloo Ce Ching. Pertama, makasih tag ff-nya. Cc tau ternyata kalo aku ganti username twitter.

    Oke, untuk komentar mengenai ff ini sebenernya aku bingung. Bingung mesti ngomong apa saking bagusnya 😀 kosakatanya itu indah sekali sampai ada banyak yang gak ngerti artinya *cek kamus*
    Cc suka baca novel terjemahan, ya? Bahasanya itu lho yang keren.

    Ceritanya dewasa ._. tapi aku konsennya ke diksi. Zig itu biseksual ternyata. Dan di tengah-tengah cerita, aku rada bingung. Jelas Tom itu nama cowok, kok dia sama Zig ‘begituan’. Baru ngeh kalo dia homo –”
    Intinya, fic ini keren.

    Fighting ya, Ce 😀

    • Halo, Ver 🙂 terima kasih ya udah mampir. Tau dong. Hahaha… kan kamu suka ada di TL.

      Ah, kamu bisa aja, dek. Terima kasih ya. Maaf lho kalau banyak kosa kata yang gak kamu mengerti. Er, iya, kebetulan belakangan ini saya lagi dilingkupi sesuatu yang sangat Barat jadi ya dari latarnya juga begitu, padahal kepenginnya nulis cerpen Indo sih.

      Iya, hahaha… maaf kalau bikin kaget soal yang itu.

      Thanks ya. Terus menulis juga buat kamu.

  12. aakk! kepotong komenku!
    Halo zuraa mumumu~
    akhirnya sempet juga baca. ituuhh, benernya udah lowong sih. tapi sematjam tau diri lah ya, membutuhkan kapasitas otak yang memadai untuk memulai membaca tulisanmu.
    .
    first thing that I noticed : diksi nya jauh lebih ringan dari tulisan-tulisanmu yang lama yaa. tapi tetep mikir sih, but at least, aku nggak perlu googling sana-sini. hahaha.
    terus, kalo dikupas satu-satu yaaa… ini mungkin akan bertabur pujian lalala.
    1. aku bener-bener kagum sama kematangan plot yang kamu bawa, dengan berbagai twist yang kamu tawarkan, dan klimaks di akhir yang tidak aku prediksi sama sekali.
    2. karakternya hidup, dengan segala kekurangan yang membuatnya tidak sempurna. that’s make human human. aku susah sih bikin karakter yang ‘hidup’, jadi aku agak iri gitu…
    3. dekskripsinya semakin mantap. dulu udah mantap sih, tapi yang sekarang, aku jauh lebih mudah membayangkan bagaimana gerak-gerik tokoh di dalam cerita.
    4. dan NC-nya… that’s so damn beautiful.
    .
    udah sih, itu aja. maapp komen saya mah ndak mutu. hahaha.
    but you never failed to amaze me. 😀

    • Gapapa kok, Kak. Terima kasih udah baca. Komennya ternyata panjaaang. Thanks banget lho, Kak. Kakak baca aja saya udah seneng. Kak Adiez gitu baca cerita saya 🙂 terharuuu~

      Iya, diksinya gak terlalu parah kok sebenernya, soalnya saya lebih pengin main di plotnya, takutnya pembaca jadi dobel bingung kalau pake diksi yang susah.

      soal endingnya, sebenernya itu fiksinya mau dipanjangin lagi, cuma karena awalnya patokan saya 10 halaman, eh udah meleber ke 15 halaman, jadi saya bikin gantung deh endingnya.

      terima kasih buat komen-komennya, kak. mutu banget kok komennya 🙂

  13. Halo Kak Zuraaaaa 🙂 Aku kemarin bilang mau komen tapi sekarang baru sempet on via pc huhuhu maafkanlah.

    1. Gila ini isinya dapet banget. Romance, free sex, crime, psychology, bau-bau London. Super complete! Aku sampe melongo baca cerita yang kelasnya udah tinggi kaya gini
    2. Karakter. Semua karakter di sini kuat menurut aku. Dari Zig si tokoh utama sampai anaknya Zig yang ‘seliweran’. Karakter itu salah satu masalah gede aku dalam menulis kak sampai saat ini, bikos bikin karakter yang hidup dan kuat itu menurut aku susah banget :’)
    3. Sama kaya yang aku tulis di Line kemarin, NC kakak itu beda sama ensi-ensian yang pernah aku baca. Kalo baca rated-nya kakak itu lebih nyeni dan enggak kepikiran yang aneh-aneh gitu kak
    3. Diksi. Aku nggak tahu di sini diksi kakak lebih ringan dari sebelumnya atau emang aku yang akhirnya terbiasa sama diksi dewa kakak. Enggak kaya pas di Lucky Strike yang aku baca scene awal sampai tiga kali, di sini aku cuma sekali skroll. But apapun itu, gaya bahasa kakak tetep kece to the badai!

    Aduh kok aku songon banget ya komenin tulisan kakak pake model begini aku sih apadeh ehehehehe. I LOVE THIS SO MUCH. Ditunggu tulisan selanjutnya kaaaaak ❤

    • Halo, Helmy. Terima kasih lho buat komennya. Gapapa kok.

      Saya ngakak baca “bau-bau London” semacam bau kaki gitu? Hahaha… soal karakter, saya juga masih rada goyah di bagian Creedy kok. Saya bukan spesialis anak kecil sih. Saya jarang dilingkupi oleh para anak jadi ya, kaku juga pas mau nulis.

      Wah, syukurlah kalau kamu gak perlu berkali-kali baca. Yang ini sebenernya penggalan kalimatnya juga lebih singkat sih. Gak kayak Lucky Strike yang seringnya kalimatnya panjang. Yang baca juga jadi pusing. Terima kasih lho dek, sekali lagi 🙂

  14. Holla chingzz akhirnya punya kesempatan baca ff kamu lagi hohoho entah krn udah lama gak ketemu ff kamu atau gimana awal-awalnya aku ngrasa agak sulit beradaptasi kembali dengan gaya penulisan kamu dan sempat bingung dengan penokohannya sendiri haha

    Awal cerita Aku ngira Zig ini nama cewek (karena aku ngebayangin tokoh “dia” itu adlah cowok dan pemikiran ku belum sampe kalau inituh ada unsur homonya hahaha) dan creedy , joan, itu adalah selingkuhannya zig selain tokoh “dia” di bagian awal cerita. Trus pas lanjut ke bagian bawah dan menemukan kata suami, akhirnya aku sadar kalau zig ini cowok dan creedy itu anak kecil haha dan faktanya lagi joan itu bukan cowok dan ternyata seorang cewek.. duh aku emang rada sukar ngebedain mana nama bule untuk cewek dan cowok hahah sempat ngakak sendiri sih menyadari kebodohan aku sendiri hahahha

    Karena tokohnya mulai jelas jadi aku ulangin baca dari awal sebelum bener bener nyelesain sampe endingnya. Jadi zig ini biseks dan dia udah berkeluarga bareng Joan dan punya anak namanya Creedy. Hubungan antara Joan dan Zig ini bisa dibilang sedikit rempong haha Di satu sisi Zig kayaknya cinta sama Joan tapi disisi lain digambarkan Zig membenci Joan.

    Alasannya kenapa? Apa hanya karena Joan menganggap remeh Zig? Atau karena adanya Tom?
    Trus kenapa kayaknya Zig dan Joan ini gak seneng pas ada kabar kehamilan dari Joan? Si Joan hamil kan yak?

    Alasan Zig mau ngebunuh joan juga masih membuatku bingung? Atau itu cuma kerena faktor kondisi Zig yg lagi gak 100% sadar?

    Ternyata tokoh dia di awal cerita adalah Tom hahaha hubungan zig dgn tom ini membuat ku sedikit bingung dan alasan kenapa tom mau ngebunuh Zig balik juga membuatku gak ngerti. Ya aku tahu Zig hampir membunuh Tom tapi itukan ZIg gak sengaja dan dia lagi dalam kondisi mabuk. Pdahal dari dialog dialog Zig-Tom kayaknya Tom suka bgt sama Zig

    Terlepas dari semua kebingungan aku, cerita kamu memang selalu bagus. Aku kasih berjuta juta jempolll!! Ceritamu membuatku tidak hanya berimajinasi tetapi juga memeras otak menebak maksud cerita seperti apa yang hendak disampaikan penulisnya. Dan disinilah salah satu hal yang menarik dari karya buatan kamu. Membaca ceritamu benar-benar membuatku banyak belajar soal fiksi baik dari segi plot ataupun diksinya. Pokoknya chingz daebakk! Sugoi!! Hahaha

    Pengemasan untuk adegan NCnya juga sangat keren..kalau bisa dikatakan ini adlah jenis NC yang sopan (emang ada ya NC sopan #plak) hahah dibanding NC kebanyakan penulis yang kadang vulgar bgt mendeskripsikan

    Tema tentang cowok bisek yang udah berkeluarga dan mempunyai selingkuhan homo, belum lagi masalah karirnya Zig dan Joan yang meragukannya, masalah keluarga, dan percintaan yang harus berakhir tragis main bunuh bunuhan. Tema yang kamu angkat sebenarnya tdk terlalu wow tapi kamu mengemasnya dengan alur dan kosa kata yang membuat cerita ini jd luar biasa keren. Kalau penulis berbakat emang gitu yah, sesederhana apapun temanya kalau penulisnya berbakat yah bakalan jadi menakjubkan hasilnya hahah

    Oke kayaknya komen aku udah kepanjangan banget hahah mian mian.. sukses terus ya dengan karya karyanya..dan jangan lupa infoin yah kalau ada karyamu yang baru 🙂

    • Hola juga, Nisa. Wow. Komenmu membentang. Hahaha! Terima kasih ya sudah baca. Maaf kalau banyak part yang bikin kamu bingung. Ceritanya memang soal Zig yang biseksual. Dan dia udah punya isteri dan anak, namanya Creedy.

      Tapi, kalau kamu masih bingung soal plot setelahnya, sini saya jawab satu-satu, biar kamu gak penasaran.

      1. Hubungan antara Joan dan Zig ini bisa dibilang sedikit rempong haha Di satu sisi Zig kayaknya cinta sama Joan tapi disisi lain digambarkan Zig membenci Joan. Alasannya kenapa? Apa hanya karena Joan menganggap remeh Zig? Atau karena adanya Tom?

      Jawab: Jawaban kamu bener kok. Ini memang soal dianggap remeh. Saya gak membahas soal pacaran lho. Ini sudah menikah. Dan sudah seharusnya sebagai kepala keluarga Zig ini yang bekerja dan mencari nafkah. Tapi, di sini Joan selalu aja nganggep kalau Zig itu pengangguran, kerjaannya main gitar, ciptain lagu, lagunya juga gak laku, bandnya aja payah. Gimana keluarga mereka bisa makan kalau begitu. tapi di lain sisi saat ia diajak dan dekat dengan Tom, Zig yang tadinya punya kebencian sama Joan jadi berpikir, perbuatannya dengan Tom itu salah. Jadi semacam dilema gitu sih. Dan kalau mau tahu kerjaan Joan, saya memang gak menjelaskan secara rinci tentang kerjaannya, cuma saya coba selipkan info-info kecil soal baju kerjanya yang warna hijau dan kerjanya yang malam hari (jaga malam). Joan itu bekerja sebagai suster di ruang emergency rumah sakit.

      2. Trus kenapa kayaknya Zig dan Joan ini gak seneng pas ada kabar kehamilan dari Joan? Si Joan hamil kan yak?

      Jawab: Iya, Joan hamil. Jelas dong gak seneng. Keluarga mereka udah hancur dari segi ekonomi. Tapi, mereka malah punya anak lagi. Gimana kasih makannya nanti?

      3. Alasan Zig mau ngebunuh joan juga masih membuatku bingung? Atau itu cuma kerena faktor kondisi Zig yg lagi gak 100% sadar?

      Jawab: Zig itu pengin bunuh Joan karena dia memang benci sama Joan. Dia benci diremehkan. Itu sih kebencian terbesar dia, dan saat dia pakai heroin, dia jadi berfantasi, dia pengin menghancurkan Joan, musuh terbesarnya.

      4. Ternyata tokoh dia di awal cerita adalah Tom hahaha hubungan zig dgn tom ini membuat ku sedikit bingung dan alasan kenapa tom mau ngebunuh Zig balik juga membuatku gak ngerti. Ya aku tahu Zig hampir membunuh Tom tapi itukan ZIg gak sengaja dan dia lagi dalam kondisi mabuk. Pdahal dari dialog dialog Zig-Tom kayaknya Tom suka bgt sama Zig.

      Jawab: Dalam kasus ini, Zig itu masih dalam pengaruh zat halusinogen, jadi dia berfantasi soal dunianya. Gimana ia melihat senjata hebat menghancur Joan. Lalu dia pengin memusahkannya saat itu juga. Sayangnya, Tom dan Joan itu adalah adik kakak, Dan kenapa Tom mau ngebunuh Zig? Coba dibaca lagi deh. Hehehe.. saat Zig menembak asal, lalu dia kaget, ternyata Tom yang dipanggil udah gak menyahut. Tom sudah mati. Zig saat itu panik. Dia gak sengaja melakukan itu, tapi dia pengin orang tahu, jadi dia masukin Tom ke dalam bagasi mobilnya. Dan karena lagi-lagi dia separuh sadar (karena heroin) dia beranggapan kalau Tom marah besar kepadanya. Mayat Tom (dalam fantasinya) mengungkit kap bagasi belakang mobil dan mengejar dia. Sebenernya kalau di realitanya gak ada yang ngejar Zig sih, dia ketakutan sendiri dan seolah-olah lihat hantunya Tom mengejar dia. Makanya dia langsung manjat jembatan dan terjun ke baliknya.

      Well, ini bisa dibilang salah satu fic sulit yang saya garap juga sih. Saya coba memasukkan berbagai macam genre. Dari kriminal, persoalan keluarga, persoalan pernikahan, seks, heroin, dan surealis. Jadi, maaf kalau membingungkan lho 🙂 semoga penjelasan saya bisa bikin kamu mengerti plotnya. Thanks ya sudah mampir.

      • oww ternyata gitu yah.. iya iya aku udah ngerti sekarang..makasih banyak loh udah mau repot menjelaskan pertanyaan ku yang banyaknya kayak soal ujian hahaha

        Yang bagian ending itu aku bener2 terkecoh haha ternyata itu maksdnya ..aku kira si Tom masih idup dan mau ngebunuh Zig balik.. ternyata itu hanya ilusi yang dibuat oleh Zig akibat rasa bersalah ditambah dia lagi dalam kondisi “berfantasi”

        pasti sulit banget ngerangkum kesemua genre itu jadi satu.. makanya aku bilang kamu ini hebat!! keren! haha 🙂 bahkan kalau disuruh bikin cerita yang kayak gini aku bakal ngelambaiin tangan ke kamera dan bilang “aku nggak sanggup” hahahha

  15. Kembali lagi untuk komentar.
    Dan sejujurnya, ga bisa baca sekali untuk memahami cerita ini. Kosakatanyaaaaaaaaaaaaaa…. okay, i’m deal with it after read twice.

    Satu hal yang gw sukaaa banget dari cerita ini adalah, cara bertuturnya dalam konten seksual. Apik sekali. Meski tersirat dalam beberapa kalimat bahwa ini adalah adegan ‘sexsually abuse’ tapi gak terasa kasar dan eksplisit. Karena kebanyakan narasi yang bertemakan itu kan biasanya bikin meringis-ringis.

    Awalnya kirain settingnya di Amerika lho, tapi baru sadar kalo itu di London setelah paragraf yang bilang Tom bolak-balik London-Amrik. Dan sampe akhir cerita masih gak ngerti juga kenapa judulnya Mars (tapi abis baca kolom komentar sih udah, xD) dan nama-nama karakter yang disini juga terasa asing, tapi untunglah karakter mereka kuat jadi sedikit terbayang.

    Last, cerita ini emg menggambarkan pola hidup jaman sekarang banget ya. Idk how to say, terlepas dari gaya hidup ‘anak band’ yang katanya bebas, toh udah banyak banget diliat disekitar kita pola yang udah menjurus ke arah ini. Sedih sekali.

    • Fenty, terima kasih ya sudah mampir. Maaf lho buat kosakatanya yang sulit. Tapi terima kasih sudah menikmati ceritanya. Iya, memang sebagian besar diwarnai oleh konflik seksual sih, cuma saya gak pengin juga daya tarik cerita ini berasal dari sana, itu hanya sebagai bumbu tambahan aja sih. Biar ceritanya tidak biasa.

      Ceritanya memang di London, tepatnya di daerah Notting Hill. Cuma Tom itu memang sering menetap di Amerika. Mungkin semua orang sempat bertanya-tanya soal judulnya, termasuk saya, saya baru bisa menentukan judulnya saat saya mengakhiri ceritanya, jadi mungkin buat mengerti kenapa judulnya itu, saya sengaja pengin pembaca membaca ceritanya sampai akhir.

      Bener banget kata kamu. Saya memang pengin mengekspos gaya hidup bohemian yang masih ada di tengah-tengah masyarakat. Mungkin orang mengira kalau hidup itu manis, tapi saya pengin sesekali mengekspos sisi gelapnya.

  16. Hai Anastasia! 😀

    Aku sangat suka tulisanmu. Perbendaharaan katamu mengagumkan. Caramu menulis juga terlihat profesional. Plot, alur, konflik, dan penokohanmu kurasa sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Kalau ini dijadikan buku pasti akan sangat menarik. 😀

    Oh ya, aku owner dari CariPenulis.com (@CariPenulis_Com on Twitter)

    Semangat menulis! 😀

  17. blogwalker yang sgt beruntung bisa nyasar disini.
    oh may… gilaaa keren banget
    semuanya.. gaya bahasa, konflik, suka banget. feelnya dapet banget meskipun agak puyeng karena nyastra sekali tapi thumb up dehh.
    awalnya ku kira zig itu cewek kalo aja nggak ada kalimat zig suami yang buruk wkwkwk. ini malu maluin sih, tp aku beneran gak mudeng hubungan zig sama tom itu apa aku malah ngiranya zig itu maho. aduhhh maklum lah ya otak saya gak sampe hehehe.
    great story, keep writing’-‘)9

  18. Hai Kak Zura, maaf saya baru sempat baca. Udah beberapa minggu kesave di bookmark tapi apa daya kesibukan kuliah ini tak mengizinkan daku 😦
    Oke back to topic ya… agaknya kalo ngomongin soal ke ‘betapa’-annya diksi dan karakterisasi karyanya Kak Zura sudah basi banget ya. Sepertinya semua orang juga sudah tau dan komen-komen di atas juga sudah mengulas dengan lengkap hahai. Aku kagum sama karya kakak yang ini, berhasil banget menguak sisi gelapnya anak band serta unsur beragam orientasi seksual yang ada pada tokoh di sini. Aduh cinta…
    Awalnya sih emang nipu… aku pikir Zig ini cewek dan Joan malah yang cowok. Dan kemudian runtuhlah aku ketika tahu Joan hamil O.O Aku sebenernya sudah lama nunggu fanfic kaya gini… yang menggabungkan antara hetero, homo dan biseksual dan Kak Zura bisa merangkainya dengan apik, saluto.
    Two thumbs are never enough 😀

  19. Pingback: [UPDATE] 0315 – Rekomendasi Fanfiction | .takyuyaki.

  20. Haai kak, jujur aku bukan penikmat cerita2 yg berbau disorientasi seksual karena aku sendiri agak kurang setuju dengan keberadaan hal itu. Tapi jujur aja disini aku gak merasakan ‘jijik’ seperti biasa ngeliat cerita2 seputar itu di wattpad. Keren banget diksinya dan alur ceritanya ituu juga temanya tentang strata sosial, disorientasi seksual, semuanya dipoles dengan cara yg keren. Wow💯❤️

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s