ABI.

Aku yang mencintainya terlebih dulu. Seperti ia mencintai kretek yang terkepit di antara dua jemari. Berharap mencicipi bibirnya, bagai ia memagut hilirnya dengan desah napas tertahan. Menari rancak di hadapan kedua matanya, laksana untaian asap yang berdesir.

Malam itu terlalu gelap untuk berbincang. Segelap kulitnya yang sawo matang. Kami duduk bersisian. Memperhatikan gelas-gelas kaca yang berendeng. Lucu. Menertawakan diri. Bertelekan siku sembari melempar senyum.

Gigi itu sudah kuperhatikan barang semenit lalu. Putih tak bersilap duka, menabrak cangkir kopi ketiga alih-alih bibir botol kaca. Kemeja biru khalis tanpa noda. Namanya Abi. A sebagai akronim Arjuna, lantas otot-otot yang menonjol di lengan tembaga itu adalah milik Bima. Abi baru saja memukauku dengan caranya; dengan cerkas matanya, pun ekor bibirnya yang terjenggut cuar. Ia berbeda. Dari sudut mata dan kulit yang mencoraki kesepuluh jemarinya. Ada yang membuat giginya nampak kontras, tak seperti diriku.

Aku mungkin mencintainya terlebih dulu; ia kepalang membenci diriku. Jejap pada cara dudukku yang menyilangkan separuh kaki. Mengetup-ngetup lantai linoleum dengan nada-nada sumbang menandak. Sinkopasi itu bukan milik Adhitia Sofyan, pun gitar akustiknya; nada itu milikku. Biar saja sumbang, toh Abi meliriknya, ‘kan?

Ia jatuh hati pada kakiku. Aku yakin itu. Tetapi, ia benci diriku yang bermata sipit. Berkulit kuning langsat. Dan berbau hiu alih-alih parfum kelas satu.

Sudah tiga kali aku membasuh diri, bau itu tak kunjung raib. Dari ujung helai rema, memang aku tak dapat menipu, karena aku sudah sebegitu dibenci oleh dirinya. Tapi, aku kembali pada malam saat kami menatap satu sama lain, berkontemplasi mengenai identitas dan harkat; sepatu hingga tudung kepala; riasan atau pun gamis.

Aku akan selalu menjadi yang mencintainya terlebih dulu. Memadu perbedaan. Pun menyadari kesamaan. Bahwa kami sama-sama mencintai, kendati silih membenci.

Advertisements