KURSI AYUN.

Tanah nampak becek sepagian. Dengan limpasan air yang menggenang di sekujur lapangan, laki-laki itu tetap membiarkan jungur kedsnya direndam lumpur. Ada bunyi menjijikkan kala pijakan solnya melayah rendah, mencium sisa air hujan. Mengingat perawakan kacaunya di tingkat satu; bungkuk dengan sigar rambut seperti tirai jendela, sorot mata nyaris terpejam, dan hidung bangir yang memerah seperti Rudolph si Rusa Natal. Tapi laki-laki itu bukan Rudolph, bahkan namanya pun kerap diapkirkan pada senarai absen kelas.

Ujar saja Snorty. Snort seperti kala ia membersitkan ingusnya yang sesekali belepotan pada masa orientasi dulu. Duduk dengan gaya hunchback, menggerakan tungkai kurusnya ke depan-belakang, dan sengaja membuat orkestra pada kerai set ayunan di pekarangan belakang sekolah.

Siang itu mungkin terlalu silam untuk diingat, tapi ia sungguh penemu tunggal tempat ayunan reyot itu didirikan; tempat yang agaknya tak ada dalam brosur Cedar Shoals—satu-satunya pojok terkeren di Anthens.

Merogoh saku anorak Converse-nya, Snorty mengeluarkan satu kotak American Spirit yang baru ia beli di kios pompa bensin. Tidak ada yang lebih membosankan ketimbang menikmati ocehan konyol di aula utama. Ia ingat nama-nama itu: Billy si Kepala Rugby, Odell si Kapten Klub Catur. Satu lagi, Daisy si Kapten Tim Sorak. Catatan-catatan kecil itu selalu menjadi antisipasinya saat melangkahi telundakan depan.

Ngik. Ngik. Derit itu kian menjadi. Kerai ayunan yang sebentar-sebentar dilanda tremor. Snorty tertawa kecil, berniat menyundut sebatang rokok untuk dirinya sendiri. Pemantik Bic sudah di genggamnya ketika bara api bergemertik kecil, diselundupi desisan bunyi gas.

“Kau selalu lupa berbagi ya, Snorty?” tanya seseorang, serta-merta merebut batang itu dari bibirnya. Disusul suara ‘ngik’ ketiga yang seyogianya berhasil Snorty prediksi; tubuh lencir itu sukses mengeriapi kursi ayun dan terperenyak sisinya.

Snorty mendengus geli. Ia menyipit, bertanya-tanya mengenai sebuah nama yang mungkin saja terlepas dari dahi. “Kukira, kau lebih menyukai kebohongan-kebohongan itu,” sergahnya.

“Mungkin saja.” Bahu perempuan itu mengedik, membiarkan rokoknya terselip di ceruk bibir, tak menyala. Mengayun-ayunkan kaki telanjangnya yang diangkat separuh, mengawang di atas tanah.

“Itu konyol, Fudge,” sembur laki-laki itu. Snorty tak perlu berpikir keras untuk mengeja pseudonim barusan. Hanya saja tak pernah terpikir, ia akan mengucapkannya setelah sekian lama.

“Konyol saat kau tumbuh dewasa?” Alis tipis itu berjengit.

Keduanya bersirobok. Snorty merasa bodoh, mendapati gigi-gigi timpang itu, kini berbanjar rapi. Lengkap dengan pipi mulus yang dilabur bedak. Mata yang dipulas celak. Dan tubuh lencir yang dibalut gaun bercorak paisley.

“Kita baik-baik saja.” Tentu ia baik-baik saja, menghadiri sebuah acara resmi dengan chinos robek dan anorak kegemarannya.

“Dengan menjabat sebagai seorang drummer?” alis Fudge berjengit, menjepit batang American Spirit itu dengan tangan kiri. Entahlah. Rasanya aneh memanggilnya “Fudge”, ia mungkin masih menyukai fudge lembek, alih-alih, menguarkan aroma Tazo yang baru diseduh.

Drummer posisi yang baik. Dan gig kita juga keren,” ujar Snorty, mencengkeram rantai-rantai berkarat itu. Berayun kecil; membiarkan jungur kedsnya berjinjit di atas tanah.

“Tidak keren untukmu yang bersembunyi di belakang, Snort. Aku masih ingat permainan gitarmu yang fantastis.”

Fudge sengaja membiarkan heels dalam kait jemarinya mengempas tanah; ia menarik sepasang gada penabuh yang menyembul di belakang laki-laki itu, berbisik-bisik kecil untuk dirinya sendiri, kendati Snorty tetap dapat mengenali senandung lagu itu.

Mad Season, dengan ketuk-ketuk perkusi beritme lompat di tiang penyangga. Tembang pertama milik Matchbox Twenty, yang dulu diunggahnya di situs Myspace. “Memang musim yang gila ya?” tanggap Snorty; menoleh ke kanan; merogoh saku celana. Mengaduk-aduk kotak American Spirit jingga itu untuk kedua kali.

“Rasanya baru kemarin kita berpisah dan seseorang dari Cedar Shoals sekonyong-konyong menghubungi agensiku untuk tampil pada pentas ulang tahun sekolah.”

Snorty sukses menyundut rokoknya untuk kali kedua. “Bagaimana rasanya bertemu kembali dengan si Kepala Rugby?” tanyanya sembari menyemburkan asap.

Fudge tertawa lebar-lebar. “Kau pasti mengira aku masih menyukainya?”

“Siapa yang tahu.” Lagi-lagi dengus itu. Entahlah. Ia selalu menyukai “dulu”, sesuatu yang usang seperti bau sengau ilalang. “Lighter?” angsurnya.

Fudge merebut pemantik kuning itu dengan segera. Memperdengarkan bunyi ‘ctak’ nyaring. Dan seketika saja julaian asap membubung di atas buhul rambutnya. “Thanks,” ujarnya, mengembalikan pemantik itu berikut gada penabuh.

“Bicara si Kepala Rugby, tidakkah Jake cemburu?” tanya Snorty.

Ia tahu, Fudge tak ingin membicarakan hal itu. Dengan menekuri galur kuku kaki, perempuan itu menurunkan rokoknya separuh. Tergantung di antara telunjuk dan jari tengahnya. “Aku tak mengira kau akan menyimak mengenai berita tolol itu,” sergahnya. Membuang rokok yang masih tiga perempat.

“Skandal antara penyanyi dan sang produser?” Snorty melirik ke samping.

“Tidak ada yang bilang itu skandal, Snort.” Manik biru itu menilik lurus ke arahnya, sedikit sengak, sedikit mengiris. Menyesap rokok untuk ketiga kalinya sembari terpejam.

“Tapi, apa kau menyukainya?” Snorty menjentikkan sisa abu di pelipir tiang.

“Entahlah.” Fudge lebih tinggi dari yang ia kira, mendaratkan kedua telapak di permukaan tanah berlumpur. Berjalan-jalan dengan  langkah berat, mengangkat tungkai satunya sembari kepayahan mempertahankan keseimbangan. Frasa “siang itu” selalu yang mencuat di kepala Snorty. Athens yang seolah menyepi, satu per satu kepala yang diingatnya pergi mengudara dan mengadakan eksodus ke Philly[1] atau pun Frisco[2]. “Snort! Aku nyaris lupa kalau ini sangat menyenangkan. Tidakkah kau ingin mencobanya?” pekik Fudge di tengah lapangan.

Snorty tersenyum. “Kurasa tidak,” ujarnya, menatap lumpur itu dengan waswas.

“O! Ayolah!” Fudge beringsut ke arahnya. Mencengkeram tangan-tangan yang berdesakkan di saku depan. Bibirnya masih menjepit rokok. “Buang rokokmu!” Fudge merampasnya, mengisap seperempat batang dengan napas panjang, lantas melemparnya ke belakang.

“O, Fudge. Jangan lakukan hal itu padaku,” rengek Snorty.

“Aku akan terus melakukannya jika kau tak ingin berdiri.” Fudge memamerkan cengiran sengitnya. “Dan jangan bilang kau masih menyembunyikan buku itu di balik sana.” Kekehan Snorty sejurus berhenti. “Buku lirik bersampul biru yang dulu selalu ada di ranselmu,” bisiknya. Laki-laki tahu, jemari kurus yang menyinggungi tangannya takkan tinggal diam, merogoh kian dalam, mengelus sampul papannya. Capitnya berusaha mencubit sisi kiri, sedang tangan Fudge terlebih dahulu menarik sisi bawah.

“Baiklah…” napasnya terengah, Snorty jatuh terenyak di kursi ayun. Fudge yang terlampau beranimo membuka sampul depan, beranjak ke bagian tengah sementara laki-laki di hadapannya berusaha memutar otak. Mungkin tak ada yang terlalu penting, debatnya dalam hati. Hanya lirik-lirik payah dan beberapa halaman yang disobek bekas serenade picisnya.

“Ini keren, Snort!” seru Fudge, membolak-balikkan lembar-lembar renyuk itu. “Tidakkah terpikir untuk mengajukannya ke beberapa produser? Atau bahkan agensi band? Ku—”

Kepala Snorty kini tertutup tudung lusuh.

“Hei,” panggil Fudge, berjongkok di hadapannya. “Kau masih benci pada kebohongan itu?”

“Boleh kujawab entahlah?” Bahu Snorty melenting sejurus.

Fudge tak benar-benar mendengarkan, dua hal yang terlintas di kepalanya: rumpun kertas usang dan satu lini sobekan di bagian satu per tiga buku.

Jantung Snorty berdegup, sangsi mendelik. Kuku tirus Fudge baru saja menyapukan manuver terhebatnya di gutter samping, lantas menarik secarik kecil kertas dari ceruk ikat pinggang. “Yeah, aku menemukannya!”

Snorty takkan pernah lupa pada sorak itu, sorak anual dari sofa ruang tamu di tengah liga Superbowl. Hanya saja tangan Fudge tak dikepal. Alih-alih, membuka lipatan-lipatan kusutnya.

Chocolate fudge, judulnya tertulis dengan huruf-huruf doyong.

Bukan sebuah resep. Hanya nada-nada random yang tercipta di kepalanya. Snorty pikir, sebuah lorry pasti akan segera menabraknya setelah keluar dari Route 67; teringat ia membuang serenade itu di tong sampah kelas kala graduation dulu.

“Kuharap tadi kita membawakan tembang ini di podium.”

“O, sungguh jangan bahas itu.” Kala itu hidungnya tak lagi basah, melainkan pipinya yang memerah.

“Jangan bilang kalau kau masih menganggap semua pujian adalah sebuah kebohongan. Dan aku dilarang berkata keren serta berterima kasih untuk lagu lucu itu?” Sekali lagi Fudge menariknya untuk berdiri. “Sesekali kau perlu tinggal dalam kebohongan, Snort. Setidaknya untuk tahu, kau mampu untuk membuat mereka tertipu.”

Snorty terkekeh.

Bukan sebuah pseudonim; bukan juga sebuah tajuk pada kertas lirik; Snorty menekuri kaki-kaki yang terendam lumpur itu, agaknya ia tahu, mengapa semua orang memanggilnya “fudge[3]”.

 

 

______________________________________
[1] Philadelphia
[2] San Fransisco
[3] Fudge /fʌdʒ/ n  cokelat cair yang terlihat seperti lumpur dan digunakan untuk mengisi saus di pertengahan kue; kebohongan; omong kosong.

Advertisements

TEH CELUP.

Semua orang berlomba-lomba menyalahkan kretek, sementara Kay mendewakan batang lencir itu. Ia suka Black dengan aroma teh celup. Mengingatkannya pada perempuan tua itu. Biasanya mereka bercengkerama hingga senja tandas, begitu juga dengan poci yang telah dijerangnya.

Hari itu ia berpakaian lengkap; scarf, korduroi, pun kemeja hitam. Aparel konyol yang tak pernah ia lirik di etalase butik SoHo. Hingga Drew membelikannya satu, Kay tak percaya ia harus mengenakannya sepagian. Di tengah kabut yang melayahi langit Tribeca. Duffle coat dengan ikat pinggang yang masih terbebat rapi. Lidahnya pahit saat ia mencari-cari kotak ketiga yang mungkin terselip di ceruk saku.

Kaki-kaki jenjangnya bersandar mundur. Napasnya terhela panjang. Batang hitam itu adalah batang terakhir, setelah tiga kotak yang baru saja ia borong di Brooklyn Vaper semalam. Tumitnya kini terasa ngilu, heels yang mengganjal tungkai kakinya menggerus-gerus permukaan aspal.

“Perlu korek?” sahut seseorang di belakangnya. Kay mendengus kecil, ia hafal kode itu, “korek” yang takkan pernah ditawarkan oleh Dom, Andy, atau rekan-rekan sejawatnya yang lebih nyaman berkata “lighter”. Kay merogoh-rogoh saku sebelah; pemantiknya hilang. Seperti Zippo yang selalu ia tinggalkan di meja saat sesi senja. Matanya terpejam kuyu, ia rindu omelan perempuan ringkih itu; mengkritiknya yang lagi-lagi merokok di sotoh griya tawang.

Kay tak banyak bicara. Ia mengangsurkan batang yang terselip di bibirnya. Memajukan separuh tubuh sementara laki-laki bersetelan hitam itu menyelomotinya dengan batu api. “Thanks,” ujar Kay.

“Aku turut berduka, Kay,” ujarnya.

Kay tersenyum pilu.

Satya mendekapnya perlahan, seperti yang selalu Kay rindukan saat terakhir kali memandang punggung itu meninggalkannya di garis lampu merah. Kay benci jika sesekali ia harus mengakui, ia menyukai hari itu. Kala setiap orang yang tak pernah ia jumpai muncul dari balik pintu. Seperti pintu subway yang selalu memberinya kejutan; Satya yang muncul dengan senyum sumringah.

“Aku gak tahu kalau kamu bakal datang,” Kay menjentikkan abu kreteknya di birai balkon. Memandang sekilas, semuanya masih sama. Satya yang jangkung, dengan surai ikal yang sesekali melompat keluar dari galur telinga, dan senyum rikuh yang kerap dilemparnya. Wajah orientalnya yang tersipit-sipit jengah. Kontras bersanding di sisinya dengan kulit sawo matang dan mata cakram pekat.

“Drew menelepon aku semalam,” bisik laki-laki itu.

Sudah ia duga. Kay terdiam. Mengangsurkan Black favoritnya ke hadapan Satya, laki-laki itu tersenyum. “Aku sudah berhenti, Kay.”

Perempuan itu menyeringai kecut. Membayangkan benak Satya yang menilai bau napasnya; kontras antara teh celup dan tembakau. “Padahal kamu yang pertama kali mengajariku.” Sesapnya dalam-dalam, batang itu sudah tandas seperempat.

“Dan bunda ngomel setengah mati malam itu,” imbuhnya perlahan, melepaskan rangkulan di bahu Kay.

“Aku kira kamu lupa,” Kay menyenggolnya dengan sengaja.

Satya tidak menyahut. Kay tahu benar perangai laki-laki itu. Handai taulannya dengan rambut ikal yang pertama kali mewawancarinya untuk buletin bulanan. New comer, kata seantero high school. Awalnya Kay pikir itu konyol. Sekolahnya di Tomang dulu bahkan tak pernah memasukkan data dirinya ke mading mingguan. Tapi, laki-laki belasteran itu malah bilang ia ingin mewawancarai Kay untuk alasan seorang siswa baru.

“Kay?” panggil Satya.

“Aku rindu kamu, Sat,” sergah Kay lekas-lekas. Namun, ia memandangi kembali tubuhnya dengan atribut serbahitam. Begitu juga dengan tubuh jangkung Satya yang dibalut dengan kemeja yang sama legam dengan miliknya. Ia merasa buruk pada perempuan tua itu, yang mungkin saja kala itu memandangnya dari kejauhan.

“Aku juga rindu kamu.”

Kay menarik napas dalam-dalam. Melirik cincin platina yang melingkari jari manis Satya. Rindu itu mungkin hanya sebatas bertegur sapa bagi Satya, tapi berbeda dengannya. Rindu selalu menjadi bidah. Tatapannya berubah sayu. Langit ini beranjak jingga, dan Kay baru saja menyisakan tempat mungil di sotoh griya tawang pribadinya.

“Aku ketemu benda ini di gudang,” sekonyong-konyong jemari itu mengeluarkan benda persegi balik saku blazer.

Ada tawa kecil yang Kay perdengarkan. Terpelecat begitu saja di antara gigi-gigi putihnya, ia tak menyangka Satya ingat tentang walkman uzurnya.

Kay memindahkan rokoknya ke tangan kiri. Menerima walkman itu dengan hati-hati. Satya yang masyuk memilah kabel headset, lantas memasangkan salah satu speaker reniknya di telinga. “Kay?” angsur laki-laki itu; Kay memasang yang satunya di cuping kanan.

Sudah lama sekali 1979 berlalu, seperti kata Billy Corgan di senja terakhir mereka bertemu. Koleksi vinyl The Smashing Pumpkins yang berbanjar di rak toko loak Downtown. Kikik tawa saat Satya memamerkan walkman dengan mixtape pertamanya. Dan ciuman pertama mereka di bawah ayoman Ford Mustang milik ayah Satya.

Kay membiarkan asap kreteknya lesap ditelan angin. Jantungnya semakin berdegup; Satya menutup mata di sisinya. Mandibula tirus yang selalu ia bayangkan saat bangun di pagi hari.

“Aku tahu, kamu belum melupakan kita, Kay,” ujar Satya.

Kay termangu, sejurus saja ia bisa mendengarkan bantingan pintu di hadapan matanya. “Bisa tolong jangan bahas itu.”

“Lalu kamu bakal menghindariku terus.” Mata kelabu itu mengisarnya dengan sejuta arti. Mungkin ia rindu, tapi itu bidah; mungkin ia risih, tapi ia perlu seorang handai kala itu. Kay menatap lurus, ke gedung seberang dengan ukiran-ukiran pilar ala Renaissance. Riap rambutnya tertiup lembut.

“Aku gak menghindar, Sat. Tapi, ini bukan waktu yang tepat,” ucapnya lamat-lamat.

“Aku pengin kamu bebas.” Satya tak peduli dengan dalihnya; dengan pakaian serbahitamnya; dengan raut kuyu; dengan kerabat dan para taulan yang berkeriap di lantai bawah.

Ctak. Tombol play kala itu menyembul naik. 1979 menyisakan klakson taksi yang mengantre di sisi jalur pedestrian. “Bebas beraspirasi, sekaligus bebas untuk memilih.”

Kay lupa rokoknya habis. Tandas seutuhnya begitu juga dengan puntung-puntung yang bertemperasan di bawah kakinya. “Sudah saatnya kamu bergerak, Kay.” Jemari kurus Satya menahan lengannya; Kay kewalahan menahan rasa pahit  di hilir lidahnya.

“Cukup, Sat!” sentaknya.

Bungkus kretek di sakunya terlebih dahulu berhasil dirogoh Satya. “Kalau begitu aku ingin kamu berhenti juga.” Ia membuang kotak kosong itu

“Kamu gak berhak mengatur apa-apa tentang aku. Kamu sudah punya Mai.”

“Dan kamu?”

Pertanyaan singkat itu cukup menyadarkannya. 1979 bisa saja sekadar ilusi. Satya yang terlebih dahulu mencabut speaker dari cuping telinga. Headset itu diletakkannya menggantung di birai balkon.

Dua kali tepukan berat itu didaratkan di bahu kanannya, tepat sebelum kelotak pantofel beradu dengan permukaan sotoh.

Teh celupnya baru saja habis untuk selamanya.