LANGUT.

Bosan rasanya mengubini sebuah pendahuluan dengan celotehan nama. Ada beberapa yang menyukai frasa majemuk, memarikirkan metafora dengan parafrasa literalis; memagari kalimat dengan embel-embel diksi yang ganjur. Tapi aku memilih sebuah logat numerik tentangnya. Saat ini kami berkepala tiga, aku tiga puluh dan dia tiga puluh satu, dengan gurat-gurat nostalgia yang mulai memudar, duduk, berayom di bawah tenda kudapan lele di bawah jalan layang kota.

Rasanya sudah lama seiring era itu langut dengan sendirinya. Masih dengan banjar gigi yang sama ia tertawa. Hanya sedikit menampas potongan rema, aku ingat kala pertama kali kami berjumpa, ia, si Kepala Jamur yang kemudian menjamuri setiap kepala di seantero sekolah. Era terdahulu kala Nick Carter dan Aaron Carter masih sama-sama berpiak tengah. Ibuku juga dulu begitu, selalu saja mengirap belahan poniku di tengah, seolah hanya ada satu-satunya cara untuk membuat wajah lebih dramatis ketimbang menyisirnya ke kanan atau kiri.

Tapi kini, dengan wajah yang tirus dan hidung bangir sempurna, duduk bertelekan siku. Menatapku lurus dan menanyakan hal ini itu yang terasa asing di benaknya. Sedikit celoteh, sedikit cericip, juga sedikit kikik. Tahu tidak, sebenarnya tempat pojok itu adalah kursi reyot yang sama.

Lagi-lagi aku enggan berkomentar mengenai nama. Sebut saja inisialnya O. Aku selalu mereka-reka tentang segala definisi berakronim O. Obeng. Ojek. Dan orang gila. Tapi setiap aspek dalam O memang selalu ada pada dirinya. Obeng lantaran O gemar menyatroniku dengan sejuta pertanyaan, memutar-mutar otak, sekaligus memutar-mutar perut dengan bahu serojanya yang menempel di lapel kemeja dari semprotan ruang setrika. Ojek lantaran jok Ninja putihnya yang selalu kududuki sepulang sekolah. Dan orang gila, lantaran ia selalu mencintai paradoks. Aku gandrung gelap; ia cinta terang. Ia gemar menyapa; aku acap merunduk. Aku gemar tahu, ia keranjingan tempe. Tapi satu yang menyatukan kami, sepiring melamin yang licin tandas di ayoman kedai ini.

Ya, waktu memang sungguh lekas berlalu, tapi seandainya aku dapat merengkuh, aku berharap bisa merengkuh tangannya di bawah pojok remang pecel lele di samping jembatan layang.

 

 

Nama memang tak berarti apa-apa

Malah selalu membuatku langut akan dirinya

Advertisements

Pulang

Untuk kesekian kali hari ini terasa sia-sia. Tanpa senarai kegiatan yang digenapi, aku duduk bersama segelas kopi. Kopi pahit tanpa ampas; tanpa embel-embel decaf. Hanya dingin es batu yang bergumul di tepian lidah. Di lembar kedelapan-puluh-lima, aku merasa hari ini kembali tidak berarti. Hanya janji-janji yang tersemat; senyum-senyum yang mencuat. Dendang lounge yang kopong.

Pulang berhariba di kedua paha. Bersampul kuning yang kian membuatku jeri. Aku berucap untuk pulang dan melupakan apa yang mereka elukan; berpolah apatis seolah tak peduli. Tentang hari ini, tentang maaf-maaf palsu yang naga-naganya terlalu naif untuk dipercaya. Tentang sebuah regulasi, tentang sebuah lini mati.

Mati-mati anda sekalian berkata, pukul lima seyogianya kita berjumat di pagar sebuah rumah. Di bawah ayoman puitik petala nan cerah. Namun, imaji itu kepalang membual. Bual yang sulit dipercaya untuk kesekian kali. Bual yang membuat Tuhan mengguyur mayapada dengan disko seribu satu malam.

Tapi tetap aku ingin berkata, “terima kasih.”

Terima kasih telah membuatku menunggu. Karena dengan lama aku berpikir tenang sebuah prosa, prosa tentang menanti kawan yang enggan muncul batang hidungnya.