SPEKTAKULER.

Re adalah jingkat gitar kedua saat manik cokelatmu memaku pandang padaku. Mi adalah jingkat tak berarti, kendati seringai itu tak retas dari bibirmu. Untuk mededah lembar baru, aku mengingat mantra itu. Madah di kelas geometri. Sebuah langkah kecil yang berkontemplasi tentang esok hari. Bukan kemarin, tapi hari ini, pekan kala hal-hal spektakuler dapat terjadi. Membersit seperti gempuran kembang api. Memegar tak ubahnya rok midi. Ada senyummu dan senyumku. Ingat bagaimana blok-blok putih itu berbanjar di bibirmu. Aku mengecupnya sembari bersenandung

Adalah kemarin yang pernah raib.
Lesap dan sejamaknya dilupakan.
Tetapi raib mempertemukanku denganmu.
Yang selalu bergunjing tentang hal yang selalu baru.

Advertisements

TIGA PULUH KONTEMPLASI.

Tiga puluh detik menuju kontemplasi tengah malam, mataku membeliak. Tak ada suara, hanya dengus tirai di jendela. Sejurus pagu menjadi begitu menakutkan untuk ditatap. Begitu risau untuk duduk bersehadap. Seumpama dunia. Berjam-jam. Berlalu. Melintas. Dan kami tetap saja bertatap muka. Tersesat di antara galurnya.

Tak beriak, datar, lesap dalam senarai nekropolis. Tak ada gigi-gigi yang bersinggungan, pun seringai yang bercadik. Ada malam sebelumnya kala aku tidur bertiarap. Mengira para pagu akan langut. Mencariku yang tertidur agar membelot anekdot.

Sebagian khalayak menjulukiku sebagai penghelat, tapi aku mendeklarasikan diriku sebagai pemimpi. Mengukir rune sebagai perjalanan mengarungi pancawaktu. Menulis eulogi agar tak ayal digigit peradaban.

Sejurus aku perlu ligatur untuk berhenti. Menghela kata, mengulum pungtuasi. Berhenti bersehadap untuk sejurus, sejurus dalam narasi yang tak menentu. Namun, pagu mendobrak angan itu. Kasau berhandai dengan sawang. Cendawan tak ayal berkoloni, mendeklamasikan kala agar kami tak pernah berjibaku.

Dalam tiga puluh detik di remang senja, pagi itu aku tahu, pagu tak lagi membutuhkanku. Pagu tak perlu sebuah alibi untuk membuatnya mengayomi sesuatu. Sawang ibarat memberangus visinya di masa lalu. Berintrik untuk segera membangun alterasi dan merakit aneksasi.

Yang tersisih adalah empat bilah kerai yang mengungkungku. Memanifestasikan rasa untuk menekuk dagu. Menyelomot kertas, agar aku—sang pemimpi—takluk dan bisu.

Tiga puluh detik untuk memekik. Aku memiliki waktu. Tiga puluh hari untuk berceracau. Empat jemari untuk menekuk dan mengacungkan jari tengah. Mendobrak kerai dan berlari. Berlari menggapai sesuatu yang raib dan menemukan yang terdahulu.

Tiga puluh detik yang ditemukan.
Tiga puluh detik untuk bermimpi.
Tiga puluh detik yang membisiki telingaku untuk menghirup napas
Dan berlari.