Secangkir Kopi Untuk Selamanya

 

Reuni.

Amplop cokelat itu terimpit kisi-kisi pintu. Lis pinggirnya mengelupas, entah sedari kapan menunggu di depan ruang tamu. Aku memungutnya dengan hati mencelus, seakan baru saja memergoki seseorang mengintip dari sela pagu. Pinggangku lekas berbalik; menyejajarkan koper dorong di sisi kanan. Ponsel sialan itu berdering.

Restu.

“Eh, Jo! Jadi ngumpul gak nih?” serunya tiba-tiba—tanpa sapaan nada “halo”. Aku gelagapan, mencari anak kunci, lantas memutar kenop pintu. Menarik gagang besi, koperku berdecit, mengantuk telundakan kayu.

“Ah, iya, aduh. Di mana nih?” Sesekali aku melirik alamat pengirim di amplop itu. Bau pengap buru-buru menguar, merembesi pilar ruang tengah. Melayap hingga ke beranda; memberangus langu dedaunan.

“Biasa,” ujar Restu di seberang sana. Tak ada yang ganjil dengan nada suaranya. Jantungku berdegup jeri; mempertanyakan banyak hal. Berkontemplasi mengenai apa yang merisaki hati. Yang pasti bukan telepon Restu, pun bukan keadaan rumah selepas bertirah ke rumah eyang.

“Maksud lu?” Aku memutar tubuh. Beringsut mundur. Menyibak tirai yang tertutup sedari dua minggu lalu. Tegel cokelat itu terasa lembap. Aku bertelanjang kaki, menggerataki petak kelima sembari menengok kalender di dinding.

17 Agustus.

“Lupa janji reunian kita ya?”

Aku tertawa hambar. Restu ibarat cenayang. “Er, gitulah.” Aku menjawab acuh tak acuh. Mengepit ponsel dengan bantuan dagu.

“Idih. Abis dari mana sih lu? Lomba tujuh belasan di rumah Pak RT ya?” tanyanya sambil bersenda; aku menyepol rambut, lantas memegang ponsel dengan sebelah tangan. Kekehanku hanya tertahan; meloloskan kemeja dari lengan kanan, hingga tersisa sehelai kamisol hitam. Ada dua kali saat mataku menilik ke arah konter, namun alih-alih beranjak, aku sengaja meniti jalan memutar; menandak melalui kompartemen teve.

“Eyang, Tu. Beliau jatoh di kamar mandi tempo hari. Gue harus nginep di rumahnya dua minggu deh,” tuturku, mengeksposisi alasan yang sama, seperti yang kerap kuelukan pada Mika.

“Ampun.” Ada pekik kecil di sana. “Sorry, Jo. Gue gak tau.” Alih-alih menanggapi permintaan maaf Restu, aku menghampiri stool bar, terperenyak miring, sembari mengotak-atik bungkusan cokelat yang sedari tadi kulirik tanpa berniat membukanya.

“Jo?” Restu terdengar khawatir. “Lu baik-baik aja, ‘kan?”

“Eh, iya. Gapapa kok, Tu. Em, jadi sore ini?”

“Jadi dong. Mika juga diajak ya. Dia kan udah gue anggep in di grup kita.”

Aku tersenyum. “Siap deh. Bentar lagi dia dateng kok. Siap-siap gih.”

“Siap juga, bos.”

Tit.

 

****

 

Petak empat kali enam inci.

Laki-laki itu bernama Taura. Taura Dewantara, seperti kata spidol yang baru saja tertoreh di sampulnya. Alamat tujuannya memang tertulis Jonelle. Jo. Atau Nel, seperti panggilan sayang dari eyang untukku. Tapi, agaknya aku sangsi tentang foto-foto di dalamnya. Sama seperti bulan lalu saat antologi amplop, yang serupa, menyumpal kolong pintu.

Taura percaya kalau tak ada yang mampu memasung dunia melalui petak sesempit empat kali enam inci. Persis sebuah celotehan asing yang sekonyong-konyong menyisipi lini masanya. Tangan-tangan ringkih itu menjajarkan postcard yang dikirim langsung dari Rotterdam. Berhikayat tentang menyisiri kanal-kanal otentik, pun berbagi segelas kertas kopi ala vending machine.

Terpeta jelas di benakku senyum Taura yang berbinar kala itu. Sembari terpicing-picing, ia mencoba meyakinkan kami perihal animonya yang tak masuk logika. Restu tertawa. Egi nyaris terjungkal sementara Rima hanya bisa melipat dahi. Aku bergumam; mengira kalau ia tengah berseloroh. Tapi, tatapan Taura terlanjur memaku wajahku. Cuping hidungnya kembang kempis. Dan esok harinya ia pun bertanya, “Pernah bermimpi, Jo?”

“Kenapa nanya soal begituan sih?” Kala itu kami duduk beranda. Tanpa kursi, hanya bersila, sementara Taura membiarkan kopi itu dingin dengan sendirinya.

“Iseng aja.” Alisnya berjungkit. Lucu. “Bentar lagi ‘kan kita harus milih jurusan buat kuliah.”

“Terus?” Sejurus ia memainkan sendok mungil itu, membiarkan kepala cepernya berdenting di pelipir cangkir.

“Apa mimpi lu? Pengin jadi apa gitu?”

“Gak tau deh, gue ngerasa gagal buat jadi apa-apa. Lulus aja udah syukur banget, dapet kerjaan bokap dan ya, mungkin kawin. Simpel, ‘kan?”

“Itu bukan mimpi ah. Yang gagal itu ya yang gak pernah nyoba, Jo.” Taura tak pernah merasa kalau jawabanku adil.

Separuh tertegun, bibirku tersengih miring.

“Kok lu bilang gitu? Kalau bukan, terus mimpi lu apa?”

Taura diam, melirikku jengah. Seperti baru saja mandi di bawah Curug Cimahi tiga hari tiga malam, berendam kembang jam dua belas malam, dan voilà, ia menyebutkan kalimat itu bak teks proklamasi. “Gue pengin jadi jurnalis, Jo. Jurnalis keliling yang gak dikekang sama tempat. Mmm, nomaden? Ya, mungkin itu istilahnya.” Ia menggaruk tengkuk.

Bibirku mengerucut, tak berkomentar. Aku tahu, ia akan menuturkan kalimat itu, sebagaimana yang lain tahu tentang obsesinya mengenai cerita dan kehidupan berkeliling seperti kaum urbanis.

“Keren, Ra.” Pujian itu palsu; hanya sebatas di lidah.

So, apa nih mimpi lu?” Cangkir yang diletakkannya membentur lapik. Denting itu sempat membuatku terhenyak. Namun, lidahku terlanjur kelu.

“Jo?”

“Er, gak tau, Ra. Belum gue pikirin.” Aku tersenyum kuyu lantaran tahu, mimpiku baru saja pupus.

.

.

Perihal mengenai mimpi bukanlah secangkir kopi yang kami bagi berdua. Sama-sama dirasakan, sama-sama dihirup, dan sama-sama digenggam. Taura tak ayal membuatku kehilangan air panas untuk menyeduhnya.

.

.

****

Postcard bisu Taura.

Ada ribuan senja yang membuatku tersadar mengenai momen itu, kalau Taura baru saja membangunkanku di hari ke-entah-berapa-ratus-ribu dengan surat pertamanya. Postcard bergambar sebuah katedral di Italia.

Florence, Italy. February 12, 2011.

Kartu mungil berimbuh potret-potret hasil jepretan kameranya sendiri, tanpa sederet kata, tanpa sekelumit pesan. Hanya tanggal dan tempat.

Aku sempat bertanya, mengapa ia tak pernah menceritakan kisahnya secara verbal? Meneleponku barang sekali, atau menuliskan lebih banyak kata ketimbang menyelipkan puluhan postcard dan foto-foto ke dalam amplopnya. Akan tetapi, semakin sedikit kata itu tertulis, aku tahu, Taura ingin aku selalu mencari. Melarikan diri dari petak empat kali enam yang dibuatnya untuk memagari diriku seperti yang dilakukan orang asing itu kepadanya.

Saat itu aku berjanji, akan menunggu Taura pulang. Seperti tulisan putih yang tercetak di atas lembar hitam. Aku mengiriminya dua kali, surat panjang mengenai kuliahku di jurusan kriya dan desain. Memasukkan foto-foto amatir, yang sama sekali tak patut bersanding dengan foto Ha Long Bay miliknya, yang direkam saat berkeliling di Quảng Ninh.

Pekan memang terpapas, tapi aku tak alpa menengok ke kotak surat, berharap mendapat balasan darinya.

Taura tak pernah benar-benar membalas pesan itu. Alih-alih, memungkasnya dengan sebuah postcard tak berhuni kata. Surat yang teronggok di konter dapur itu akhirnya kulucuti mulai dari segel selofan.

Tanabata. Shimin Hiroba Square. Tokyo. Augustus 7, 2013.

 

Sebentuk foto bergambar lampion di sekujur badan jalan. Dwiwarna cantik, disisip hiruk-pikuk sebuah kota kosmopolit. Aku menggigit bibir, tak ayal mengintip ke luar jendela. Si Helm Putih baru saja datang bersama motornya, bersemburat hitam lantaran tertimpa siluet pohon mangga. Derum tak enak dari knalpot Astra ‘bekduk’ Mika membuatku terhenyak. Foto polikrom itu masih ada di atas meja. Separuh digenggam tiga jemari, sedangkan sisi lainnya malah ingin melarikan diri.

Napasku tertahan. Mengisi rongga paru-paru. Tak langsung terembus, namun sejurus membiarkan bunyi ‘ctek itu terdengar riuh. Derap langkahnya terasa yakin menyentuh aspal pekarangan.

“Jo!” Mika memutar kenop pintu.

Jemariku dengan cekatan memasukkan foto-foto itu ke dalam amplop.

“Ini gue beli cemilan,” kata suara bartion itu, dibarengi entakan sol sepatu. Sneakers Chuck Taylor usang yang selalu ia kenakan. Tali-temali belel bercampur noda hitam.

“Eh, thanks ya.”

“Gimana eyang? Udah baikan?”

Aku tersenyum. “Udah kok, maka sekarang gue bisa pulang.” Mika menyematkan ciuman singkat itu di pipiku. Meletakkan tiga lodong kaca; nastar, kue kenari, dan satu lagi, cheese stick favoritku.

“Ai! Cheese stick! Mantep, Mik.” Aku masih duduk di stool bar, bergayut sebelah tangan, memeluk dirinya.

Mika meraih amplop cokelat itu. Sial. Aku tak jadi tersenyum. Ingin mencegah pun ciut, takut dituduh menyembunyikan sesuatu kendati begitu banyak postcard yang kusembunyikan darinya di bawah tempat tidur.

“Gila nih, Jo. Cantik bener. Dapet dari mana?”

Mika tak membaca alamat pengirimnya, lantas menyentakkan kepala, memandangku lurus-lurus.

“Eh?”

“Dari temen. Jurnalis gitu.”

Aku tak berbohong, tapi hatiku pedih.

Honeymoon ke sono yuk,” godanya sambil tersenyum ke arahku. “Eh, di mana nih? Jepang? Wuidih, asyik juga.” Mika masyuk membolak-balikkan postcard itu.

“Parah deh lu, Mik. Kawin aja masih kapan, udah mikir honeymoon,” dengusku.

“Apa salahnya pergi duluan?”

Mika mungkin menunggu aku menyematkan kata “iya” pada pertanyaannya, tapi aku malah membisu. Membuka lodong cheese stick yang masih dibebat selofan putih. Tertawa kecil, bukan lantaran senang. Tapi, ingin melarikan diri.

****

Membuka mata.

Boarding pass itu sengaja ia angsurkan di atas meja. Dipesan atas nama Taura Dewantara dari sebuah agen travel di Padjajaran. Berdestinasi JNB—akronim lepas dari Johannesburg, bandara penerbangan internasional di Afrika Selatan.

“Besok, Ra?” tanyaku. Tak rasa secepat itu waktu berlalu. Padahal baru kemarin rasanya kami berbincang berempat, menertawakan Taura dan rencana sintingnya.

“Iya, Jo. Gue pengin pamit.” Wajahnya berbinar, sebaliknya, aku sangsi Taura tahu apa yang sebenarnya ingin kukatakan.

“Ra, apa cuma gue?” Aku memainkan keliman rok, duduk sembari tepekur, dipisahkan secangkir kopi.

“Maskud lu?”

“Gue yang lu kasih tau mengenai ini?” Aku tertunduk. Sofa duduk di ruang tengah rumahku terasa pejal. Keras, seperti kehilangan busa pengganjal.

Taura meraih tanganku. “Restu tahu juga, Jo. Tapi lu satu-satunya yang gue pamitin secara langsung.”

“Tapi, Ra—” Aku merengus.

“Gue bakal kangen lu kok, Jo.” Taura memaksakan senyum terbaiknya, pun begitu saat aku meliriknya lewat ekor mata. “Tapi, gue juga pengin lu berhasil. Jangan bilang madesu ya. Lu seorang yang paling out of the box yang pernah gue kenal kok. Satu-satunya orang yang bisa gue curhatin mengenai kegalauan Whitey.” “Whitey”—Andrew White dan Ricky Wilson, dua pentolan Kaiser Chief.

Restu benci aliran britpop, lantas menjuluki kami sebagai sepasang orang yang paling ‘out of the box’ yang pernah ia kenal.

Taura mengacak poniku. “Gue bukan benci kalian terus pergi ke Johannesburg gitu aja. Gue Cuma ngerasa kalau kita terlalu bersinggungan berdua. Dan gue gak pengin egois sama lu.”

“Gue gak merasa gitu k—”

“—jangan menyangkal ah, Jo. Lu pasti nemuin temen yang lebih oke dari gue, coba liat sekeliling, seperti halnya gue membuka mata buat dunia.”

Sedari kelas dua SD aku mengenal Taura, sosok mungil yang kerap menjadi partner in crime-ku bersama Restu dan Egi. Bersama mencuri mangga-mangga ranum dari pohon Pak Haji Dahlan. Aku termanggu memandang sosok berambut ikal yang bertelekan dua siku di hadapanku.

Taura telah berubah.

****

Kopi rindu.

“Gila, Jo, menor amat. Kayak mau ke kondangan aja,” celetuk Mika, mencuri lihat ke balik pintu.

Sompret, umpatku dalam hati. Aku masih mematut penampilanku di depan cermin. Mika mondar-mandir dari konter ke ruang duduk, mengeluarkan ponselnya, sembari mengangkat kaki, mencicipi cheese stick yang katanya ia beli untuk acara reuni.

Aku mengganti baju dengan kaus distro lusuh pemberian Taura. Dipadu jins denim semata kaki. Menghapus separuh riasan dengan bantuan tisu. Kaki-kakiku menandak riang, menjawil Mika yang lesak di dudukan sofa.

“Mik! Lu ngabisin cheese stick-nya sendirian? Ntar Restu, Egi, sama Rima gimana?” Aku menarik lodong di tangannya dengan paksa.

Mika meringis. “Tuh masih ada dua,” ujarnya.

Aku menghela napas. “Nyebelin deh!” pungkasku, sengaja memberangus dengan dahi terlipat-lipat.

“Udah dong, Jo. Cheer up, bentar lagi juga ketemu temen lama. Mana asyik reunian sambil asem-aseman.” Ia menarik pinggangku, jatuh terperenyak di sampingnya. Manik cokelat itu bergulir serentak, menelisik penampilanku dari kaki hingga ubun-ubun kepala. “Eh, Jo, baju lu. Gak terlalu kasual ya? Gimana ntar kalau Restu malah pake batik? Denger-denger ada tamu spesial dari Jepang gitu deh yang mau digiring kemari.”

“Seriusan?” Mataku membeliak.

“Ya udah kalau gak percaya.” Mika mencubit hidungku, melengos ke arah dapur.

“Mika!”

“Udah buka pintu aja, tuh ada yang dateng,” Mika menjulurkan lidah, membopong lodong-lodong miliknya ke arah konter dapur.

Aku berlari lekas, berjengit ke luar pintu. Suara vespa milik Restu berakhir dengan belesak standar yang membopong naik kedua rodanya. Pemuda ceking itu baru saja hendak membuka kancing helm; Rima terlebih dahulu melonjak, turun dari boncengan.

“Ah, Restu! Rima!” pekikku kegirangan.

Rima mengusung langkah cepat, mendaki telundakan. Mendekapku dengan erat. Tawa kami berbaur seketika. “Aduh, yang udah nyaris naik ke pelaminan. Makin oke aja nih. Lama banget ya kita gak ketemu. Tiga taun lho,” Rima memberondongiku dengan begitu banyak kata. Sedangkan Restu tersenyum mungil, beradu tos dengan sebelah tangan.

Mika menyembul dari lorong dapur, berdiri tanpa alas kaki.

“Eh, Mik. Apa kabar?” Restu yang terlebih dulu menyapa. Mika menggosok-gosok jemarinya di belakang celana, membersihkan remah cemilan.

“Baik banget, Sob.”  Keduanya silih menepuk bahu.

“O ya, Jo. Ada kejutan buat lu tuh, lagi dibawa Egi.” Rima menjulurkan kepala. “Ke mana sih itu orang? Lama banget.” Ia kembali mengecek arloji.

“Eh, udah, gimana kalau masuk dulu?” tanyaku, mempersilakan keduanya masuk.

“Iya nih, capek berdiri, tadi aja udah kejebak macet dikit di depan. Ampun yang tujuh belas Agustus di mari, masih aja rame. Di Jakarta mana ramenya, yang ada pada tidur di rumah lantaran libur.”

Aku tertawa menanggapi protes Restu.

Kami duduk mengelilingi coffee table, bercerita panjang mengenai satu sama lain. Restu sudah menjadi penyelia di salah satu tokoh serbaada terkenal di Jakarta. Rima masih saja single, padahal aku tahu, siapa yang ia incar dari tingkat dua.

Dan ada saja hal-hal bodoh yang terulang; seperti halnya mereinkarnasi permainan truth or dare atau sekadar menebak perawakan guru killer semasa SMA. Hiruk pikuk baru saja menjemput pergi sunyi yang lama menjangkiti ruang tamu. Berakhir pada sebuah ketukan yang menyasar di birai pintu. Kelimanya terperanjat. Restu berhenti mengunyah; Mika terdiam, melingkarkan tangannya di pinggangku, sedang Rima yang memikik riuh, “Egi!”

“Gila, Sob. Ke mana aja lu? Ya ampun, pakaian lu.” Semuanya hendak menyimbur tawa. “Mau ke kondangan tetangga, Gi?” Gelak itu disambung pertanyaan Restu.

Egi tersenyum simpul. Menggaruk tengkuk, salah tingkah.

“Eh, ini Egi?” Aku berdiri terlebih dahulu; Mika mengekor di belakang. “Beneran deh, ke dukun mana lu? Jadi charming gini,” aku ikut menggodanya, sembari menyikut pinggang kekar itu. Egi nampak bingung hanya tertawa getir, menilai ada yang salah dengan lodong-lodong kue kering yang baru saja kami kudap. Mika menyalaminya—walau itu kedua kalinya mereka bertemu.

“Wah, wah. Ati-ati, Mik. Ntar pacar lu diembat si Egi.” Rima tertawa keras.

“Ih, dasar ya ratu gosip. Bisa aja bikin isu hot.” Kami tertawa riuh.

“Eh, itu siapa di belakang?” Mika membuatku tepekur, mempertanyakan wujud yang baru saja merunduk di balik pintu.

“Ah, itu tuh kadonya, Mik. Yang gue bilang digiring dari Jepang.”

Shit.

“Er, Mika ya?” tanyanya canggung.

“Iya.”

“Kenalin, gue Taura.” Ia menjulurkan tangan terlebih dahulu; Mika sama kikuknya saat berjabat tangan.

Sial, sial, sial. Taura. Aku mengagumi petak kacamata yang baru dari penampilan kasualnya. Ia memandangku lurus, terlebih menaruh perhatiannya pada kaus distroku.

“Woi, kok pada malu-malu kucing gini nih,” Restu berdiri ibarat host dari acara mak comblang Gang Kelinci. Merangseki jerjak di antara kami. Mika nyaris terjungkal kalau tangannya tak kugenggam erat. “Eh iya, Mik. Ini Taura. Yang paling deket lho dulu sama Jo, yang paling aneh juga.”

Mika melirikku. Aku sengaja melempar tatapan ke lodong nastar dalam genggaman Rima.

“Hai, Jo.” Lagi-lagi Taura yang menyapa terlebih dahulu. Aku memandangnya skeptis dari bawah rangkulan Mika. Rasa bersalah itu merangsek kian dalam, hingga aku tak sanggup bernapas, menarik udara mungil dari celah cuping hidung.

“Hai juga, Ra. Gue kira lu gak pulang lho,” masih dengan bibir separuh terkatup, frasa panjang itu menyuruk begitu saja.

“Eh, tunggu. Jo, ini nih jurnalis yang tadi lu maksud?” Mika mendelik ke arah kami.

“Er—”

“—Mik, ke rumah Pak RT yuk.” Restu menyengir ke arahku, separuh mengedipkan mata.

“Eh, buat apa?” tanya Mika, masih mendekap pinggangku.

“Udah. Ikut aja. Siapa tau dapet kerupuk gratis sisa lomba tujuh belasan. Laper nih gue.”

“Lah, itu apa?” Mika menunjuk polos ke arah lodong cheese stick yang ini benar-benar tandas, sekadar meninggalkan remah.

“Ayo ah!” Restu menarik Mika dengan paksa, mau tak mau lengan kekar itu terlepas; Rima merendengi keduanya.

Hanya tinggal kami berdua. Aku dan Taura. Tak ada yang berubah; cara berdirinya; ia membenamkan kedua tangan ke dalam saku celana. Aku berjengit, setelah sebelumnya tertegun menengok jungur sepatu milik pemuda itu.

“Eh, iya. Harus buka sepatu ya?” Taura yang merasa diperhatikan buru-buru melepas tali sepatu.

“Gak usah kok, Ra. Gapapa.” Aku terkekeh. “Gimana kalau duduk aja?” Tegel terasa lebih dingin sebelum kehadirannya. Aku beringsut ke sofa. Taura menggerataki tegel cokelat itu dengan ritme yang sama. Kikuk. Repetitif. Sekaligus retoris untuk dipertanyakan, apa sebabnya ia melakukan hal itu.

Kami seolah terkurung dalam bingkai kopong. Entah hendak memulai perkataan dari abjad keberapa. Tanpa sadar denting itu sudah terdengar. Cangkir sepi yang bersoliter di sudut meja.

“Gue kira lu masih di Jepang, Ra,” aku memberanikan diri, melanjutkan cerita kami.

Ia mendengus. “Enggak kok, tapi gue seneng, lu terima postcard itu.”

“Iya, gue terima kok. Gambarnya lucu-lucu. Apalagi lampion yang terakhir itu, ngingetin gue sama koi Bang Gozali yang kita lempar batu dulu.”

Taura nyaris tersedak lantaran menahan tawa. “Iya, iya. Yang akhirnya kita dihukum masuk ke kolamnya buat mungutin batu. Gila banget deh itu abang,” Taura berujar penuh semangat.

“Eh iya, gimana nih lu, udah kecantol cewek Jepang ya?” Aku tahu, itu topik tergoblok yang pernah terlintas untuk sekenario reuni rekan lama. Tapi, ada ruang di sembiran hati yang ingin tahu, apakah Taura masih menunggu.

“Kayak lu sama Mika?”

Sial. Bukannya menjawab, Taura malah pintar mempermainkan kata. Bibirku mengerucut, memandang rikuh ke arahnya. “Gak maksud buat cemburu lho, Jo. Mika memang pas buat lu. Biar gak galau mulu.”

“Jah. Gue mana galau coba. Lu tuh yang milih buat kabur. Lari dari kenyataan, ‘kan?”

“Kagak, buktinya gue balik lagi ke sini. Ketemu sama lu. Inget pas malem terakhir kita ngobrol ‘kan?”

Aku tersenyum, menyesap kopi yang sedari tadi dibiarkan dingin. Taura tak perlu jawaban. Jemariku mengangsurkan cangkir itu ke arahnya. Dengan tatapan tak deskripsi, pun jejak-jejak geming sebisu foto-foto perjalanannya.

Kopi itu memang hanya satu, dan selamanya tetap satu karena begitulah cara kami berbagi rasa.

“Gue kangen lu, Jo.”

“Sama.”

Taura menangkup tanganku sekaligus melepas rindu.

.

.

-fin.

Advertisements

RUANG JINGGA.

Menunggumu, kutatap jungur sepatu. Tangan menggenggam keliman, kuhitung derum itu. Kuantifikasi mesin pun ketukan langkah saru.

Tatapan cokelat; rema jingga. Senja berbanding lurus dengan komuter pertama. Ya, aku menantimu. Melipir entah dari mana. Berkelotak dengan kelompen yang sama sembari bertukar silsilah.

Asing. Seperti vokal pertama yang mengisi rima. Aku teringat padamu. Melonjak untuk menjadi nomor satu. Berjingkat lebar-lebar seolah petak itu hendak luruh. Apkir untuk berpikir, kuterka, mungkin kau terdampar.

Terperenyak, sedikit bersila. Tungkai-tungkai lampai mengisi tikar. Seringaimu rikuh. Lagi-lagi aku tertipu. Meminjamkan benda yang tak seyogiannya kausentuh. Kau gemar membidik jam raksasa. Menerka kapan detiknya berhenti, kelak kau ‘kan memiliki. Membidik wajah, menyemai mala. Membidik dari tempat luhur, lantaran ingin tahu, tampuk akan selalu berlabel alfabet pertama.

Akan tetapi, mari kuberitahu, ada dua hal yang kauperlu bidik terlebih dahulu. Agar tak tersesat saat berada di atas—ruang jingga kala kita bertemu.

.

.

Hati dan rasa.

Tiliklah yang ada di bawah sebelum melengakkan kepala.

PERTEMUAN KLUB LIMA.

Kata itu bisa saja terpelecat dari bibir salah satunya. Penghuni sudut di pojok sofa, yang kerap memesan cappuccino. Duduk bertelakan sebelah siku, sementara kedua bibir lainnya mengimbuh dengan decak tak suka. Kami selalu berlima. Lima dengan canda tawa. Lima dengan curhat colongan di tengah senja.

Pertemuan itu dimulai dengan ketidaksengajaan, belesak, lantas khatam di jungur lidah, seperti yang terucap untuk pertama kalinya. Lima adalah pasu yang pas. Pas untuk menimpal. Dan pas untuk mencecap berbagai rasa.

Lima adalah binear di kala kami berjumpa. Bersipogang bersama knalpot; berkomuter; menancap gas di lini lampu merah.

Ada begitu rupa untuk sekadar dicoba. Bereksperimen, mengantre tiket di loket kereta. Tertawa bersama melecehkan hidup. Duduk mengeriapi meja sekadar untuk bertirah.

Terlalu banyak senarai yang perlu dijabarkan dalam kata-kata. Lantas lima bukanlah senti-mili yang tergantung di depan dahi. Lima tak ubahnya sekompartemen organ yang diperuntukkan lebih dari sekadar berekspektasi. Mencicipi secangkir kopi, pun bertukar cerita hingga jarum pendek mengecup angka tujuh di malam hari.

 

Untuk kamu, seluruh anggota kelompok audio visual di hari Jumat.

 

ENAM, TUJUH PER TUJUH.

Angka itu tak seyogianya berendeng di atas meja. Melingkari lurik kertas seperti yang dieja Egi untuk ketiga kalinya. Delapan digit berwarna jelaga, beremblem sebuah nama persero akbar yang dikenal lekat dengan masyarakat Bandung.

“Lu yakin nemuin ini jatoh dari tasnya?” Egi curiga aku membual. Kerai kacamatanya menilik sarkastis, terlebih kala mendapatiku tak beranjangsana bersama Rindina seperti biasanya. Jangan salahkan siapa-siapa, toh perempuan itu nampak lebih berseri, menghabiskan waktu dengan kliennya.

Kartu nama itu digamit Egi separuh jari, menggelendot nyaris melorot mencium lengan sofa. Hanya ada kami di pojok Starbucks. Di belakang dinding konter. Aku melempar pandangan ke luar pintu kaca, urung mencucuh Djarum Black dengan batu api pemantik. Senja itu hujan tengah berekspansi. Kurik bergaris seperti yang selalu kunikmati berduaan dibingkai jendela mobil.

“Iya dong, siapa lagi coba yang naik mobil gue. Lu?” Mataku mendelik gemas. Egi mendengus kecil.

“Siapa kek? Dini, mungkin? Bisa aja itu klien dia.”

Egi menutup bukunya, Madam Bovary karya Gustav Flaubert—yang naga-naganya akan diwariskan kembali pada si Penyintas Dasbor. Aku menarik napas tak sabar. Entahlah. Bandung macam sudah berubah. Tak seperti yang selalu kurindukan di penghujung minggu.

“Ta? Woi, Ta? Lu denger gue gak sih?” Egi menyenggol lututku.

“Eh? Iya?”

“Lu mikirin apa sih?”

“Nggak kok. Gue lagi mikirin gue sama Dini,” kalimat itu meluncur begitu saja. Egi tersengih.

“Napa senyam-senyum? Dari zaman wafer Superman kayaknya emang lu demen banget ngetawain gue.”

“Tumben-tumbenan bintang FTV galau, gue kira galau lu udah kesedot semua buat akting.”

Aku menyesap cangkir teh itu dengan tak sabar. Mengangkat sebelah kaki, sembari mengeluarkan ponsel dari ceruk saku.

“Gue tau, lu masih mikir tentang nomer itu.”

“Itu bukan urusan gue, Gi. Dan ya … mungkin lu bener. Bisa jadi itu punya Dini.”

“Nah, lho… lu gak cemburu sama Dini atau cemburu sama si Raka itu?” Ia terkikik kecil. Sialan. Satu hal yang tak pernah kumengerti dari Egi. Ia selalu berhasil menggiringku ke sisi pojok, ibarat Jisung Park menggulirkan bola.

“Kampret lu, Gi!

Egi tertawa keras. Petak empat kali tiga mungkin tak sempat mematok derainya hingga melayap ke konter kasir.

Aku memasang wajah masam.

“Eh, tapi kayaknya bukan dua-duanya deh.”

“Bukan apa maskud lu?”

Aku menurunkan kaki. Memajukan bahu. Egi bukan juru kunci; tangan kirinya melengas, sehabis mengenggam gelas Iced Vanilla Late.

“Ya, lu gak cemburu ke Dini, tapi ke orang lain.”

“Siapa gitu?” Egi sukses membuat kedua alisku berjingkat.

“Ah, udah gak usah dibahas.” Ia mengibas-ngibaskan tangannya.

“Eh—”

“Dodol sih lu,” umpatnya membuang muka. Napasnya menjeda seperempat detik. “Lu tau gak sih, Ta …”

“Tau tentang apa?”

“Tentang itu.” Ia menunjuk ke cangkir tehku. English Breakfast Tea yang agaknya ia kira terlalu feminin untuk perbincangan ala laki-laki. Aku tertawa kecil. Ditahan-tahan, sembari tidak mengerti.

“Udah keempat kalinya gue mergokin lu minum English Breakfast Tea.”

“Terus? Lu mau tanya, apa gue gak bosen sama English Breakfast Tea?”

“Nggak. Tapi, itu ‘kan minuman favoritnya Rindina.”

“Masa?” Aku separuh terbatuk. Batuk terkonyol sekaligus menohok.

.

.

Ada kalanya aku tak dapat membedakan hitam dan putih.

Nyata dan fiksi.

Lantaran lini itu telah membaur dengan kurik beritme keenam dalam tujuh per tujuh.