INGKAR.

O adalah sebuah frasa yang tepat untuk mendeskripsikan dirimu ke dalam huruf. Dan K merupakan pengimbuh yang sempurna di belakangnya. Peretemuan di siang itu akan terasa hambar, seperti kudapan senjamu tanpa sejentik garam. Tapi, aku tahu, nama di benakku tak sepenting yang Aristoteles tuturkan dalam mengklarisifaksi dua kompartemen menjadi satu. Ada dua kingdom berbeda dalam tatanan mayapada. Kau. Dan mungkin, segala sesuatu.

Sofa itu terlalu ringkih untuk membuat kita terperenyak. Seperti kau yang selalu mengagungkan indigo dan aku fuchisia. Dua hal yang berbeda dan terbaut menjadi satu pilin. Beralur ganda. Sofa itu terletak di depan ruang kepala sekolah. Kumal dan bercendayang di keempat tungkai kakinya. Ada derit tak mengenakkan pun mengisi dua kepala kopong yang bertukar senyum, bersilang kaki menumpu lengan kirinya.

“Er, lu Rindina?”

Aku melewatkan pertanyaan itu dengan sebuah angan. Fantasi platonik yang menelusuri hidung bangirmu. Merapatkan dua helai bibirmu yang nyaris menyatu.

“Iya?”

Tak seharusnya aku bertanya dua kali lantaran tahu, tak seharusnya aku mengingkar.

“Rindina?”

“Iya.”

Manik cokelatmu balas menelusuri penampilanku. Kemeja putih dan rok abu-abu. Sebuah padanan klise dalam rangkupan ruang tamu.

“O ya, lu minta izin buat acara itu ya? Er, lu …”

“Kenalin, gue Okta. Oktarino.” Kau mengulurkan tangan itu terlebih dahulu.

Tunggu.

Bukan aku yang mengingkari janji itu ‘kan? Sebuah nama tidak begitu penting dalam benakku, tapi namamu. O mungkin sebuah omega dalam pencarianku.

Advertisements