RAIB.

Di bawah ayoman serumpun bayan kita berkelakar. Bertukar rutuk sembari menunggu hujan. Menghirup petrichor pemburit yang berevaporasi. Tak ada anekdot tentang Voltaire dan Zadig dalam secercah kehidupan manakala tak ada sebuah rute perjalanan berujung.

Bukan salahmu untuk selalu mencoba yang baru. Mengikuti ke mana arah metronom langit menuntun sebuah langkah. Degup itu hanya milikmu dan aku. Meramban tawa di sela derita. Ini bukan salah kita untuk memilih, tak ubahnya kehidupan yang diibaratkan dengan sumpit dan mangkuk. Ada satu sisi yang takkan pernah terjelajah di kala sepasang bilah menjawat bibir yang berbeda.

Kerlap itu melurung. Turun hingga menyentuh sidik jemari. Alam bukanlah seorang penghelat, meski gelegarnya mengungkung kita dalam rerimbunan jenggala. Ada sebuah gelak yang akan terdengar menggantikan redanya guntur di tengah gelita.

 

Untuk kami berdua, sang pemenang.
Raib dan tersesat, namun menuai eulogi di tengah jenggala.<
Hutan Maribaya, 16 Maret 2013

Advertisements

DUA MENDEGIL BERBEDA.

Aku terlalu takut untuk mengaku. Berbisik di telingamu kala gemeritik puntung itu berlindap di antara timpaniku. Bertukar cerita seperti yang sudah-sudah. Sepuluh menit tanpa suara. Tangis langit yang menghunjam kian deras ketimbang siulan bisumu di susuran cangkir biru.

Sesuatu yang telah lama tak terungkap. Berembun menjadi petala di surai senja. Kau berbeda, kendati aku tetap sama. Mengenang awal tanpa sebuah rima akhir. Dan aku berada di sini. Mengajarimu cara berdansa yang paling andal.

“Kiri, kanan, kiri. Maju dan berputar.” Gigiku tertarik miring. Seperti lejit suara kumandang radio yang menjadi pemecah aksara. Kedua jemariku sibuk mempraktikkan bagaimana sepasang tungkai kaki kita hendak berpijak.

“Tidak. Bukannya maju, mundur, maju, mundur seperti yang sudah-sudah,” kilahmu, menggedor permukaan meja.

“Ah, bukan seperti itu. Itu namanya berjalan,” sebutku sembari tersipu.

Kau tersenyum. Dua pasang jemari kurus yang saling mengejar. Beradu cepat tatkala inskripsi manuver ringkas itu terpeta di permukaan meja. Bukan mauku tatkala bingkai matamu memagari gerakan itu. Malam sudah terlanjur luruh. Mengempas etape kita hingga tak memiliki partisi untuk menjadi dua hal yang berbeda.

“Er, dan bagaimana dengan yang ini?” Sekonyong-konyong saja jemari kita bercengkerama. Hujan yang ripuh berlalu-lalang terhegemoni waktu. Terpasung detik yang tak kunjung beranjak. Meniti derik infrasonik sementara kau menyesap puntung pertama.

Jemari kokoh itu menarik rumpun manisku untuk sekadar menetap di sisi sunggingan bibirmu. Menggerayanginya dengan sejuta ciuman kala pojok itu dan kulitku bersentuhan. Dan kala itu pun kutahu …

Kau milikku seiring kedua kaki kita mendegil dengan cara berbeda.

Dan hanya satu kata yang mempersatukan dua hal yang berbeda, yaitu …

Cinta.