RUANG UNTUKMU.

Rumpun tirai tak jadi bergoyang tatkala mendengar ‘ku menanti. Langit di kala fajar tak jadi menyingsing tatkala dua insan tak jadi bersatu hati. Memoar itu mungkin telah lama pergi. Bernakodakan waktu, kendati putaran dilasi itu tak dapat dibeli.

Keping logam; instrumen fana yang sarat komplikasi. Berdwisisi namun berwahid diri lantaran ada ruang di sana. Tepat di tengah laguna, mahligai milikmu seorang. Tak dapat terusik, terlebih dikebut pergi.

Ada tawa bagi sepasang telinga yang sengaja diciptakan ‘tuk dirisaki. Dua cuping berdampingan. Sepasang manik eboni yang memagut waktu. Ruang sempit di antara daswarsa dan windu, yaitu ruang untukmu.

Bilik bergerbang yang sengaja kututup tanpa meninggalkan celah, namun segalur iluminasi berhasil merangsekinya. Kala memang sulit diterka. Intriknya terlalu rancak untuk dikagumi. Dan kau berhasil mengelabuinya untuk menyisipi diri di tengah ceruk itu.

 

Ya, aku rindu padamu.

Tawa elegi di musim semi. Kala hujan bercampur dengan kemenyan tanah. Beradu lenggok dengan kirbat sanubari.

Advertisements

PERTEMUAN TANPA AKSARA.

Menderap serasah tanpa derak tak ubahnya sebuah pertemuan tanpa aksara. Kau dan aku mengayom ubun-ubun di bawah trembesi, mengusung musim semi. Bercakap tanpa kalam, menatap satu sama lain. Kumulus awan tak ayal menggelodoti tawang, membisik kisah lain sebelum peradaban sebuah temuan.

Kau dan aku berjumpa. Tanpa rajutan frasa, lantas tak seharum seroja. Dipercik bulan, bernaung di bawah kubah dwiwarna berbeda. Kaki-kaki jenjangmu mengisi ruas kiri, sedang aku menjejaki pelataran kanan. Benarlah petikan pepatah usang; tak kenal, maka tak sayang.

Aku berterima kasih untuk semesta, yang telah menciptakan aksara. Sederet maklumat yang mungkin tak kurang dan tak lebih terdiri dari dua puluh enam liliput nirmana, namun mempersatukan dua menjadi sejiwa; memintal dua cibir menjadi satu seringai; merangsek dua pikiran menjadi satu lini.

Terakhir, aku tak ayal memberikan komplimen luhur atas aksara atas sebuah reminisensi. Wadah agar aku dapat berbagi denganmu. Mengawang pesan dari barat hingga tenggara. Kau mungkin masih berada di sana. Membaca pesan ini dengan kuntum-kuntum aksara. Aksara termanis yang ingin kusematkan di benakmu…

Selamat ulang tahun, sahabatku Dea.
(14.11.2012)

AMERICANO.

Siulan bush kettle itu tak sepenuhnya lesap di antara canda. Kita memang tak bersuara. Mengupas jerjak yang seharusnya tak berada di sana. Tatkala oplahan surat kabar berjebai menyarati meja. Manik mokamu nyaris meniliknya acuh tak acuh, sembari bergumam masyuk memindahkan tabung-tabung transparan itu menyeberangi sisi kiri menuju kanan.

“Ingin refill lagi?” tanyaku.

Kau menggeleng. Ya, aku tahu itu. Mana mungkin kau ingin menambah tabung lain, lantaran tiga benda yang serupa berbanjar di segalur lini tak ubahnya atap-atap fasad dan gedung pencakar langit.

“Itu sudah empat, Ta,” semburku.

“Lalu?” Alisnya mengedik.

“Tidakkah kau jenuh bermain-main dengan para air?” ujarku. Sekali lagi kuperjelas, kita tak sedang menghabiskan waktu untuk hal bodoh. Terduduk bersemuka, ditabiri sepetak meja albasia. Dan kau tak mengacuhkan keberadaanku.

“Aku bisa menghitungnya.” Kau tak ayal bersilogisme. Menyimpulkan empat tabung itu sebagai gerombolan esensi kosong. Hampa. Bahkan gelak tawa kita tak cukup untuk mengisi kehampaan itu sebagai sebuah materi krusial.

Kau acap mengecap nasihatku seperti secangkir Americano. Pahit. Seakan deretan kalimat itu racun yang merangseki timpanimu. Tapi, gerak-gerik bodohmu tak ayal menarik perhatianku. Berpolah sebagai seorang sok perfeksionis. Merangkap kepribadian penderita OCD akut, agaknya kau perlu sebentuk benda panjang bernumerologi akurat untuk mengukur kekosongan itu.

Aku menghela napas, sementara kau masih memperhatikan setiap lekuk tabung-tabung itu. Tanganku beranjak. Mengganjur tabung milikku dan menuang satu per satu isinya menuju tabung di hadapanmu dengan kuantitas berbeda.

“Hei! Apa yang kaulakukan?” bibirmu merajuk.

“Setidaknya tabung-tabung itu terisi penuh ‘kan?” simpulku.

Kau terpekur. Tanpa suara—ya, keadaan ini akan selalu berlanjut—memperhatikan mimik wajahku yang sontak berubah.

“Tahu yang kauperlukan, Ta?” tanyaku. “… seseorang untuk membagi.”

 

 

 

Kosong tak berarti tak menanti. Hening bahkan memiliki paranada sendiri. Kehampaan ialah sejuta umat yang membutuhkan sepercik tawa untuk membagi.

AURUM DAN ARGENTUM.

Obrolan ini tak merangkum aurum atau pun argentum menjadi ufuk masa. Kedua logam yang tak ubahnya onggokan harta, namun kosong seperti pemikiranmu mematut senja. Sepasang esensi laten di tiap petala. Namun, perlu resistensi untuk menyingkapnya. Seperti kalanya kau menyingkap bisikan kertas.

Putih mendedas. Hitam bertajuk arang. Abu merimai grafit yang mengawang. Lima kali kau mengukuhkan hati. Lima kali pula godam itu mematahkan sanubari. Lini langit seolah hidup tanpa pretensi alih-alih memberikan oposisi.

Lantas mana yang akan kaupilih …

Berlari untuk lima kali kembali dan menuai letih atau terduduk memungkiri, sementara kesempatan tak datang untuk kedua kali?